Bung Pudimartini, Data pengelolaan Utang Depkeu dengan tahun dasar 2000 menunjukan tren pertumbuhan rasio hutang luar negeri (HLN) yang bersifat multilateral dan G to G sudah turun ke Minus 13,1 (2008): Ini alasan yang menyatakan tolakan atas isu utangan.
Namun demikian, data yang sama di tahun 2008 utang dalam bentuk surat utang (SUN) pertumbuhan rasionya dibandingkan tahun dasar 2000 adalah NAIK 117,8%: Ini adalah fakta bahwa HLN diganti oleh SUN, dan trennya APBN semakin 'tergantung' ke SUN Debat AN dan SM, saya melihat dari perspektif saya: pasar portopolio kita, kenapa saya lari ke sana? Karena model SUN adalah hutang dengan jenis portopolio. Nah, di pasar portopolio ini berdasarkan data kustodian sentral masih 60% dikuasai Asing. Jadi, meski SUN yg dikeluarkan dalam nominal Rupiah, jika diambil Asing jatuhnya ya hutang luar negeri juga. Indikatornya kan jelas, SUN 2009 bunganya 12,5% jauh di atas bunga acuan lokal, yaitu BI rate yang terus diturunkan. Kenapa demikian? Kalau dilihat karena meski bank sentral AS (Fed) nurunkan Fed rate mendekati NOL, tapi surat utang pemerintah AS (T-Bill) naik terus bunganya, terakhir dari kisaran 4,5% ke 4,6%.. Jadi, kalau berebut kue pembeli yang sama terlihat dari tingginya efektif rate SUN: Fakta buyer SUN adalah asing Soal BLT nya, saya melihat jika dikatakan sehat BLT ini adalah transaksi sosial dari kelebihan yang mampu (pembayar pajak) ke yang kurang mampu. Masalahnya, bagi saya, politik anggaran yang populis kampanye 2009 tak bisa dihindarkan aromanya. Kalau SUN itu produktif, ukurannya akan ada peningkatan rasio pajak terhadap GDP.. Kita main data, SUN ratio atas GDP 2007-2000: 94% dan 2008-2000; 117% ada peningkatan sekitar 24%.. Nah, di APBN 2008 Tax Ratio realisasi terhadap GDP 13,6%.. Kalau itu untuk sesuatu yang produktif di RAPBN2009 akan ada keberanian agresif naikan tax rasio, tapi pemerintah hanya berani naik 13,7%: Inilah fakta bahwa utang (SUN) terindikatif mengalir banyak ke program populis, diantaranya BLT. Kenapa jadi ke 'BLT utangan Luar Negeri' yang itu karena indikatif SUN kita yg banyak diambil asing seperti saya kemukakan di atas. Salam, -Yanuar Rizky- (mail to: [email protected]) transmitted by tukang pos®[on the net: www.elrizky.net] -----Original Message----- From: pudimartini <[email protected]> Date: Mon, 22 Jun 2009 11:44:12 To: <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pesan Pasar (Portopolio) Untuk Calon Pemimpin Negeri Bagus Mas Yanuar, membuat saya yang awam menjadi tahu. Bagaimana dengan analisis hutang untuk BLT ? Ada pro dan kontra antara Anwar N dengan SM ada bahasan? Yanuar Rizky wrote: > Pesan Pasar (Portopolio) Untuk Calon Pemimpin Negeri > Oleh: Yanuar Rizky > Gatra, 18-24 Juni 2009 > http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=289 > > "Kemiskinan rakyat umum bertambah lama bertambah besar, sehingga > kesanggupannya buat membeli benda-benda untuk dimakan dan perhiasan > hidup semakin lama semakin kurang. Itu sebab, maka Indonesia tertarik > juga dalam gelombang krisis ini, sekalipun tanahnya amat subur" (Bung > Hatta, Artikel Daulat Rakyat 26 November 1931) > > Seorang Cawapres mengemukakan anomali ekonomi Indonesia terlihat dari > cadangan Devisa yang tidak sama besarnya dengan surplus ekspor di > neraca perdagangan. Titik pandang yang menarik untuk dibahas secara > serius. Agar arah ekonomi Indonesia lebih seimbang antara sektor riil > dengan sektor keuangannya. > > Kita akan “bias” terhadap pemaknaan sebuah fakta, tatkala kita > disandera “siapa yang bicara”. Sengaja, saya tidak menyebut nama > Cawapres tersebut. Agar jernih, tanpa dipengaruhi persepsi > “pro-kontra” figurnya. > > Jika kita tarik tren garis pertumbuhan, tampak jelas surplus neraca > perdagangan (ekspor dikurangi impor) berada jauh di atas pertumbuhan > cadangan devisa. Dari sisi investasi, tren dana asing yang tertanam > dalam perekonomian (FDI: Foreign Direct Investment) berada dibawah > tren cadangan devisa. > > Data indikator sistem pembayaran (RTGS: Real Time Gross Settlement) > Bank Indonesia (BI), menunjukan beban pengelolaan moneter di bulan Mei > 2009 adalah 19,35% dari total transaksi RTGS. Lalu, jika dikaitkan > dengan arus portopolio (FPI: Foreign Portpolio Investment) Bursa Efek > Indonesia (BEI) di bulan yang sama, maka total transaksi Bursa adalah > 20,45% dari total transaksi nasabah RTGS. > > Struktur lalu lintas dana sistem keuangan Indonesia adalah arus kas > dari Cadangan Devisa. Artinya, terindikasi cukup kuat, beban moneter > dalam stabilisasi nilai tukar Rupiah (IDR) atas Dolar Amerika (USD) > lebih diakibatkan terlalu aktifnya arus FPI, tanpa signifikansi > diiringi masuknya FDI-nya. > > Di neraca perdagangan, ekspor akan menghasilkan devisa dan impor akan > mengurasnya. Di neraca pembayaran, jika asing (FPI) melakukan aksi > jual portopolio akan menguras cadangan USD dan ketika masuk akan > memperkuatnya. Inilah yang disebut uang panas (hot money), karena > sifatnya untuk tertanam bisa dalam hitungan detik keluar-masuk. > Sementara transaksi riil (ekspor-impor) tidak secepat itu. > > Masalah struktural, transaksi portopolio 59% ditangan asing (Mei > 2009). Konsukuensinya, transmisi ambil-untung (Capital Gain) jual-beli > saham berada di tangan asing, yang membuat nilai tukar IDR-USD akan > bergerak mengikutinya. Itulah fakta yang terlihat dari pola turun-naik > Indeks BEI dari detik ke detik searah dengan pola turun naik IDR-USD > di pasar uang. > > Lihat saja pola perdagangan sepanjang pekan lalu. Dimana, posisi jarak > fluktuasi (tertinggi dikurangi terendah) Indeks BEI berada di posisi > rata-rata fluktuasi harian sebesar 22,68 poin dan Kurs IDR-USD sebesar > 100 poin. > > Sebagaimana sering saya tulis di kolom Gatra tentang pemetaan arus > dana portopolio negara berkembang adalah untuk membiayai krisis arus > kas negara maju. Posisi minggu lalu pun menunjukan hal yang sama, > yaitu pelemahan terbesar terjadi di hari Kamis saat rekening devisa > negara maju tutup buku mingguan. > > Perspektifnya, jika kita hanya melihat posisi nilai tukar Rp-USD di > posisi kurs penutupan harian, maka kita tak akan mendapatkan makna > “betapa transaksi FPI telah mengerogoti cadangan devisa negeri”. > Karena didalam perjalanan transaksi kurs BI akan melakukan stabilisasi > nilai tukar secara aktif di pasar uang, yaitu melalui instrumen OPT > (Operasi Pasar Terbuka). > > Itulah kenapa Indeks BEI, meski terlihat menaik ke titik atas baru, > tapi tetap memiliki pola fluktuasi naik-turun untuk ambil untung. > Disisi lain, transaksi rata-rata harian BEI bulan Mei 2009 yang > kembali menembus angka rekor baru, yaitu Rp6,5Triliun (naik 66,7% > dibandingkan April 2009). > > Data rekening efek portopolio tidak menunjukan adanya “pemain baru”. > Jadi kenaikan transaksi FPI terindikasi pemain lama “memutar-mutar > barangnya” atau bahasa hukumnya sebagaimana diatur dalam Undang Undang > Pasar Modal pasal 91 adalah “transaksi tanpa perpindahan kepemilikan > efek”. > > Kenapa mutar-mutar ke atas? Bukankah hanya akan jadi biaya bagi > pemegang portopolio? Jika kita berpikir melihat transaksi BEI secara > parsial, maknanya tak akan tampak. Tapi, jika mempersandingkan denyut > transaksi BEI dan pasar kurs, maka keuntungan akan diperoleh dari > selisih nilai tukar (arbitrase). > > Kalau penganut aliran pasar mau konsisten dengan nilai tukar bebas, > maka harusnya OPT tidak perlu dilakukan dikarenakan semua diserahkan > ke pasar. Jadi, kalaupun arbitrase saham-kurs terjadi, maka yang > untung-rugi hanyalah di pelaku pasar (zero sum game). > > Tipisnya investor lokal yang tak lebih dari 1% penduduk dewasa sangat > tidak seimbang dengan transaksi maupun fluktuasi saham-kurs di pasar. > Secara struktural, Devisa dari Ekspor (itupun kalau dananya tidak > diparkir di Bank luar negeri) akan sangat terganggu oleh beban arus > keluar portopolio. Dari sisi ini, OPT menjadi “denyut arbitrase” > saham-kurs. Pilihan lain memperkecil OPT, berupa pendisiplinan pasar > oleh Bapepam-LK “nyaris tak terdengar”. > > OPT menjadi rutinitas. Karena meski posisi ekspor menunjukan Surplus, > data tren pertumbuhan impor barang konsumsi menunjukan tren meningkat. > Garis tren impor barang konsumsi berada di atas garis tren total impor > itu sendiri. Kondisi itu, memaksa BI menjaga Inflasi jangka pendek > dengan menjaga nilai tukar Rp-USD. > > Isu kesenjangan neraca perdagangan dan devisa seharusnya dibahas > secara serius oleh tiga pasangan Calon Pemimpin negeri ini. Komunikasi > politik-ekonomi untuk menanamkan (kembali) akar daulat rakyat. > Menjamin rakyat bekerja penuh di sistem ekonomi (produksi) sebagai > sumber daya belinya (konsumsi). Itulah jiwa dari pengendalian Devisa > sebagai arus sistem Jaminan Sosial Negara. Merdeka! > > [Yanuar Rizky, www.elrizky.net, Analis Independen Aspirasi Indonesia > Research Institute (AIR Inti), Presiden Organisasi Pekerja Seluruh > Indonesia (OPSI)] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://epaper.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
