Bung Hendra Farhadiansyah,
 
Kalau saya melihat kasus Manohara ini lebih ke persoalan moral.
Menurut adat istiadat yang umum berlaku di Indonesia, tidaklah pada tempatnya 
kalau Manohara sebagai seorang istri mengambil keuntungan untuk kepentingan 
pribadinya atas konflik dengan suaminya, baik keuntungan untuk mendapatkan 
popularitas secara gratis maupun keuntungan finansial karena telah 
"mengkomersilkan" penderitaannya dalam sebuah Sinetron, dimana Manohara 
sendiri sebagai pemeran utamanya.
 
Padahal "kasus penyiksaan" tersebut masih merupakan informasi sepihak dari 
Manohara, sedangkan pihak Suaminya membantah semua tuduhan Manohara tersebut 
dengan mengungkapkan bahwa Manohara selama di Malaysia sering berenang di laut 
bersama dengan para Istri Polisi dan Polisi Wanita Malaysia.
Kalau memang benar badan Manohara di silet dan disetrika oleh suaminya, pasti 
badannya kesakitan saat berenang tersebut.
Dalam kenyataannya, Manohara kelihatannya senang - senang saja, terutama saat 
menari Poco - Poco dengan para Istri Polisi dan Polwan Malaysia.
 
Siapapun yang benar atas penjelasan Manohara dan Suaminya, sangatlah tidak pada 
tempatnya kalau salah satu pihak yang bersengketa tersebut mengambil keuntungan 
maksimal dari sengketa tersebut.
 
Alasannya sederhana saja: moral, moral, moral dan sekali lagi moral.
Apakah masyarakat Indonesia sudah tidak memiliki moral lagi???
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo


--- Pada Sel, 23/6/09, Hendra Farhadiansyah <[email protected]> menulis:


Dari: Hendra Farhadiansyah <[email protected]>
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: hasil visum manohara
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 23 Juni, 2009, 1:10 AM



Sungguh disayangkan sikap Mano memanfaatkan ketenarannya sebagai "artis 
dadakan" terjun sebagai pemain sinetron, padahal menurut saya dibereskan dulu 
permasalahan ini sampai ada keputusan siapa yang salah dan siapa yang benar..
Sepertinya kasus ini terhambat lagi gara2 Mano nya jadi artis dulu.

Kirim email ke