Barangkali utang yang terdampak dari disepakatinya perjanjian Konferensi Meja 
Bundar (KMB) tahun 1949. Kompensasi Belanda atas penerimaan kemerdekaan 
Indonesia adalah dibayarnya semua biaya perang Belanda di Hindia Belanda 
sebesar 3,66 juta gulden menurut Roeslan Abdulgani. Pengakuan ini diperkuat 
oleh pemerintah Indonesia masa itu melalui UU No 5/1951 tentang Pengesahan dan 
Pengakuan Utang terhadap Kerajaan Belanda, walau kemudian dibatalkan dengan UU 
No 13/1956 tentang Pembatalan Hubungan Indonesia-Nederland Berdasarkan 
Perjanjian KMB. Tapi lalu utang itu hidup lagi di amsa Soeharto sebagai syarat 
pendirian IGGI.

Menurut hemat saya, tidak terlalu melantur, bung. Rajin2 aja search di internet 
dan membaca. Ini ada kutipan berita dari detikcom yang saya dapat dari milist 
lain.

=================Utang KMB===================
Soal 600 Juta Gulden ke Belanda
Roeslan: Tak Betul RI Harus Bayar
Reporter : Arif Shodiq Pujiharto


2003/06/25

detikcom - Jakarta, Mantan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdul Gani mengatakan, 
proses
nasionalisasi perusahan-perusahaan Belanda di Indonesia sudah dilaporkan ke
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Karena itu, dia merasa aneh jika Indonesia
diharuskan membayar 600 juta Gulden kepada Belanda.

“Jadi kalau sekarang dikatakan Indonesia baru melunasi utangnya, yang mana itu? 
Saya
ndak tahu dan ndak pernah dengar, coba tanya ke Menteri Keuangan. Kemudian, 
kalau
dikatakan Indonesia musti membayar kembali perusahaan yang dinasionalisasi ndak 
betul.
Wong itu sudah kita laporkan ke PBB,” ujarnya ketika ditemui detikcom di 
Kantornya,
Jl. Pejambon, Jakarta, Selasa (24/62003).

Menurut Cak Roes, panggilan akrab Roeslan, dirinya hanya mengetahui soal utang 
yang
berkaitan dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB). “Kalau yang zaman KMB 
memang
benar. Perjanjian KMB dulu, kita itu diwajibkan oleh Belanda untuk mengakui 
utang
Indonesia kepada Belanda sebesar 3,66 juta Gulden atau sama dengan US$ 1.130 
juta,”
katanya.

Dipaparkan Cak Roes, Belanda mengeluarkan pernyataan politik bahwa Negeri 
Kincir Angin
itu bersedia berunding dengan Indonesia untuk menyerahkan kedaulatan secara real
(nyata), complete (lengkap) dan underconditional (tanpa syarat) dalam KMB di 
Den Haag.

“Kita senang karena sebelumnya Belanda tidak mau mengakui kedaulatan kita. 
Amerika
mau, Inggris dan Swedia mau, hanya Belanda yang ndak mau. Karena itu, Bung 
Karno dalam
sidang kabinet setuju mengirim utusan yang dipimpin Bung Hatta,” jelasnya.

Namun, Belanda tidak menepati tiga hal yang dijanjikan tersebut. “Pertama, 
tidak real,
sebab pengakuan kedaulatan tapi persekutuan dengan RIS dimana Ratu Belanda yang
menjadi kepala negara. Kedua, tidak complete karena Irian Barat tidak 
diserahkan ke
Indonesia. Ketiga, tidak unconditional karena kita harus teken utang 3,66 juta
Gulden,” paparnya.

Meski demikian, Indonesia tetap menandatangani KMB dengan pertimbangan yang 
terpenting
tentara Belanda keluar dari republik. “Ini permainan. Kalau Belanda main 
curang, kita
juga bisa,” katanya.

Ketika tentara Belanda keluar, Indonesia menggugat Belanda. “Kalau ada 
perjanjian
internasional yang tidak ada waktunya, satu pihak berhak membatalkan secara 
sepihak
kalau keadaan berubah. Sekarang keadaan berubah maka saya waktu itu sebagai 
Menlu oleh
kabinet diwajibkan membuat UU Pembatalan KMB.”

“Jadi pada tahun 1956, saya sebagai Menlu di DPR mengumumkan tidak ada lagi 
perjanjian
KMB. Irian Barat harus kembali kepada kita. Tentang utang kita ndak mau bayar 
itu.
Ternyata masih ada utang lagi, yakni biaya aksi militer I dan II. Saya bilang 
sama
Belanda, mengapa saya musti bayar? Itu kan harga pisau yang menikam kita apakah 
kita
harus bayar?” tanyanya.

Akhirnya, perjanjian KMB dibatalkan. Namun, Belanda tetap tidak menyerahkan 
Irian
Barat. “Bung Karno berkata semua perusahaan Belanda kita nasionalisir tahun 
1960-an
dan modal boleh masuk,” demikian Cak

Roes.

Ada juga pengungkapan Revrisond Baswir:
http://www.erepublik.com/en/article/fakta-dibalik-konferensi-meja-bundar-5251/1/20





________________________________
Dari: Alpha Bagus Sunggono <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 29 Juni, 2009 16:44:55
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Menkeu: Utang Ada Sejak Indonesia Lahir

Ini omongan ngelantur apa ya?

Jaman Indonesia lahir, katakanlah masa mata uang terjadi konversi dari
mata uang jepang,
ke ori. Pada saat Agresi Belanda, ada 2 pemakaian mata uang, yaitu ori
/ rupiah di daerah Indonesia,
dan gulden untuk daerah pendudukan Belanda.

Trus ini siapa ngutang siapa tho ??
Stetement yang sungguh aneh, utang sudah ada sejak Indonesia lahir ....

Kirim email ke