Alhamdulillahirrobil'alamin.
Bagiman pak Mufni? Masih dalam kondisi sehat setelah sekian lama tidak muncul 
di wartabatan? Apa baru keluar negeri atau ke luar kantor koq lama tidak 
memposting di wartabatan?
Apa sedang terkena brangus seperti teman-teman di PTRKN, yang diancam undang 
undang ITE karena dianggap merendahkan nama BATAN serta memperburuk citra BATAN?

Nah, jelaslah bahwa masalah program PLTN di BATAN sedang bermasalah. Mungkin 
ini yang menghambat realisasi program remunerasi atau reformasi birokrasi di 
BATAN.

 



________________________________
Dari: mufni <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 15 Juli, 2009 09:57:26
Judul: [WARTABATAN nuke] BATAN promosi PLTN dengan gaya burung onta





BATAN promosi PLTN dengan gaya burung onta

Pernahkah anda melihat burung onta di padang pasir?, yang jika takut menghadapi 
lawannya lalu bersembunyi dengan cara memasukkan kepalanya ke dalam pasir?, 
padahal seluruh badannya yang lain masih nongol di permukaan?.

Itulah kesan yang muncul di benak saya ketika kemarin sore di perjalanan pulang 
kantor mendengarkan bagian akhir wawancara Deputi PTEN BATAN di sebuah radio 
swasta (green radio, FM 92,7).

Ketika ditanya kapan PLTN akan dibangun, beliau jawab itu keputusan urusan 
pemerintah, BATAN cuma meneliti. Ketika ditanya apakah penelitian PLTN Muria 
masih berlanjut, beliau jawab bahwa itu cuma penelitian lingkungan. Ketika 
ditanya soal PLTN Madura, beliau juga bilang itu cuma penelitian, keputusannya 
terserah pemerintah.

Maka ketika sesi dengan Deputi PTEN berakhir, sang penyiar nyletuk jengkel 
kepada partnernya: "kalo mau nanya PLTN jangan ke BATAN, mereka cuma meneliti".

Pada sesi selanjutnya mereka mewawancara seorang perempuan aktivis greenpeace, 
yang dengan nada super pede bilang: "soal PLTN anda mau tanya tentang apanya ?" 
. Dengan lancarnya si aktivis itu menjelaskan bahwa terganjalnya program PLTN 
Indonesia bukan hanya karena penolakan masyarakat, tetapi juga karena ada 
masalah dengan program dan teknologinya. Dia menerangkan mulai dari aspek 
keselamatan (termasuk limbah) yang belum jelas jaminannya, peningkatan 
ketergantungan bangsa atas teknologi impor, tidak tersedianya uranium yang 
cukup di bumi Indonesia, hingga fatwa haram majlis ulama lokal, yang setelah 
membahas dengan seksama kemudian berkesimpulan bahwa mudharat PLTN adalah lebih 
besar ketimbang manfaatnya bagi bangsa Indonesia.

Di sesi terakhir dibacakan sebuah artikel tentang program PLTN Madura, yang 
telah mengusik ketenangan, ketenteraman dan kedamaian masyarakat di sana. 
Sambil menceritakan bahwa itu adalah program diam-diam yang mengelabui rakyat, 
yang dilakukan antara BATAN-KAERI- KEMRISTEK, dengan menggandeng perguruan 
tinggi setempat, karena teknologi PLTN desalinasi yang akan dibangun di sana 
belum pernah dibangun di tempat lain di dunia.

Kembali pada gaya burung onta, ada baiknya kita renungkan kembali, bahwa 
bukankah BATAN adalah bagian dari pemerintah?, bukankah meneliti itu juga atas 
kehendak pemerintah?, bukankah uang untuk meneliti itu juga atas keputusan 
pemerintah?. Kalau Presiden menolak PLTN, padahal BATAN dan KEMRISTEK terus 
melaksanakannya, bukankah itu mirip dagelan srimulat, atau tindakan hipokrit 
pemerintah?.

Lebih dari semua itu, bukankah pemerintah itu pelayan rakyat?, koq sang pelayan 
beraninya lancang meneliti, sementara ndhoro majikan belum setuju untuk 
membangun PLTN?

Aduh BATAN, kalau promosi pakai strategi dong, males mikir banget sih?

salam,
mufni





      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke