Bung Indarto, Sory, saya nggak paham apa maksud anda dengan pernyataan bahwa : "kalau mau berhasil harus berkeringat???" Apakah maksudnya : kalau mau mengadu domba masyarakat Indonesia harus dilakukan dengan cara meledakkan Teror Bom??? Yang saya khawatirkan dengan SBY menyampaikan data intelijen kepada masyarakat, apakah maksudnya agar para pendukung SBY "mewaspadai" para pendukung para Capres saingannya dan melaporkan kepada Aparat yang Berwenang bila ada sesuatu yang dirasakan mencurigakan??? Kalau maksudnya agar masyarakat mewaspadai Para Teroris, ya saya setuju banget. Lha tapi kalau yang harus diwaspadai adalah pendukung kedua Capres saingan SBY??? Waduh, ini kan berpotensi menimbulkan konflik horisontal. Kondisi Indonesia mungkin bisa lebih buruk dari kondisi Iran paska Pemilu karena yang mencanangkan "perang terbuka" justru Presiden Republik Indonesia untuk "menghancurkan" rakyatnya sendiri, yang tidak mendukung dia saat Pilpres yang lalu. Semoga SBY menyadari terhadap segala resiko bagi bangsa ini bila tidak segera meluruskan pernyataannya: Yang harus diwaspadai oleh masyarakat Indonesia itu adalah Para Teroris, bukan para pendukung Capres saingan SBY. Tetapi bila dikemudian hari memang terbukti bahwa para pendukung Capres saingan SBY terlibat Teror Bom, sebaiknya yang melakukan penindakan adalah pihak Aparat Keamanan, agar tidak menimbulkan konflik horisontal, karena jumlahnya minimal sekitar 70 juta orang. Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Jum, 17/7/09, Indarto <[email protected]> menulis: Dari: Indarto <[email protected]> Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] SBY... ADUH...KOK GINI? Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 17 Juli, 2009, 11:21 AM Sampeyan bs nya kok nyela sj. Mau berhasil? Hrs mau berkeringat! -----Original Message----- From: Adyanto Aditomo <adyantoaditomo@ yahoo.co. id> Date: Fri, 17 Jul 2009 03:58:26 To: <Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com> Subject: Bls: [Forum-Pembaca- KOMPAS] SBY... ADUH...KOK GINI? Bung Ahmad Jauzi, Dalam keadaan genting, SBY masih saja berperilaku kekanak - kanakan, yaitu mengadu ke masyarakat kalau dia itu keselamatan dan kedudukannya sebagai Presiden sedang terancam. Memalukan sekali. Seharusnya SBY sebagai Presiden, yang juga berarti membawahi unit intelijen dan aparat keamanan, tidak menyebarkan informasi tersebut kepada masyarakat, apa lagi soal ancaman keamanan yang dia terima itu dari sumber Intelijen Negara. Kalau laporan dari aparat Intelijen Negara itu memang benar akurat, tahu siapa orangnya, dari kelompok mana, sedang berada dimana, kekuatannya seberapa, ya langsung serbu saja. Tangkap semua pihak yang memang mau mengacaukan republik ini. Jadi gak perlu mengadu ke masyarakat segala. Masyarakat kan gak punya otoritas dan juga kemampuan untuk mencegah hal tersebut. Laporan SBY ke masyarakat hanya akan membuat masyarakat gelisah melihat SBY dan aparat keamanan kelihatannya tidak mampu menangani kekacauan yang terjadi. Masyarakat akan berfikir: Setelah meledaknya Bom di Hotel JW Mariot dan Ritze Calton, besok dimana lagi? Lha kalau Presiden dan aparat keamanan saja juga bingung, padahal informasi yang sangat terperinci sudah diberikan oleh Pihak Intelijen Negra, lantas rakyat disurah apa lagi ??? Disuruh siskamling atau apa ??? Gak jelas maksud SBY menyampaikan hal itu. Kalau SBY cuma berharap mendapat simpati dari masyarakat kalau dia sedang teraniaya, lha itu kan sudah dia dapatkan dengan perolehan suara lebih dari 60 % di Piklpres 2009. Apa itu masih belum cukup??? Punya presiden kok ya kebangetan begini sih???? Salam, Adyanto Aditomo Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
