LIPI sudah mampu membuat pesawat nir awak (disebut PUNA). Artinya teknologi 
sistem kontrol sudah dikuasai.
Saya pribadi sih tidak jauh2 mikir bikin rudal macam ICBM, tapi setidaknya 
keberhasilan membuat formulasi bahan bakar padat secara mandiri merupakan modal 
besar untuk jadi bahan membuat roket/amunisi yang diluncurkan dari pesawat 
tempur atau kapal perang. Itu aja cukup. Selebihnya, biarkan pengembangan roket 
ini lebih difokuskan untuk tujuan non-perang.

Salam,



________________________________
Dari: verdi adhanta <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Minggu, 2 Agustus, 2009 20:32:25
Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Tahun 2014, Indonesia Punya Roket Peluncur 
Satelit


===========
Tetap saja pertanyaannya tidak terjawab: mengapa hasil riset tentang bahan 
Bakar Roket tidak dimanfaatkan untuk memperkuat persenjataan ABRI???
Kalau Pejuang Palestina saja dengan bantuan IRAN sudah bisa buat roket mini 
dengan jangkauan sampai puluhan kilometer, mengapa Indonesia tidak bisa buat???
============

Ya itu tadi, untuk membuat roket menjadi peluru kendali, apakah itu short 
range, mid range, long range, cruisser atau balistik, diperlukan sistem 
guidance.
Jadi yang tidak (atau mungkin, belum) ditekuni oleh Pindad (LAPAN hanya 
menangani masalah antariksa) yang tugasnya memproduksi senjata adalah sistem 
guidance itu.
Saya bukan bilang - tidak- bisa. Saya cuma bilang sistem guidance itu belum ada 
(paling tidak- setahu saya, apakah sebenarnya sudah ada saya nggak tahu).

Setelah membuat roket, langkah selanjutnya adalah belajar faster than sound 
flight. Karena ada barrier dalam areodinamika kecepatan sub-sonik dan 
super-sonik.
Untuk mempelajarinya, kita harus punya beberapa roket yang siap dikorbankan ... 
diterbangkan dengan ditempeli sensor di badannya untuk mengirimkan data melalui 
telemetri, untuk tahu bagaimana karakteristik aerodinamik dalam kecepatan 
hipersonik. Karena setahu saya kita belum punya wind tunnel -- apalagi untuk 
kecepatan hipersonik ...)
Baru setelah dapat itu, kita bisa tahu bagaimana cara mengatur karakteristik 
flight sebuah rudal dalam kecepatan supersonik (percuma membuat rudal 
sub-sonik, karena sasarannya - pesawat musuh -- atau rudal musuh -- bisa 
terbang supersonik.)

Setelah tahu karakteristik terbang hipersonik dan cara mengaturnya, harus 
dibuat bagaimana membuat sistem/perangkat yang mengatur itu untuk ditempatkan 
dalam roket. Artinya kita perlu industri CPU / mikroprosesor sendiri lengkap 
beserta perangkat lunaknya untuk ditempatkan dalam roket.

Jadi yang kita tak punya saat ini:

1. pengetahuan/ institusi yang mempelahari flight dalam kecepatan hipersonik
2. pengetahuan/ institusi industri (produksi) perangkat yang dapat mengatur 
terbang sebuah roket dalam kecepatan hipersonik.
3. Industri mikroprosessor (minimal ultra large scale circuit integration dan 
wafer silikon) dan perangkat pendukung yang dibutuhkan untuk membuat perangkat 
tersebut.
4. Uang untuk riset yang diperlukan untuk mendapatkan 1, 2 dan 3.

Karena saya nggak yakin ada negara yang mau nyumbang teknologi2 di atas .. 
terutama kalu mau dipakai untuk produksi perangkat militer.

Kirim email ke