Selamat berjuang bung, sukses selalu Sapri, Brisbane
--- In [email protected], "Agus Hamonangan" <agushamonan...@...> wrote: > > Oleh Budiman Sudjatmiko > http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/02/04531557/mewakili.rakyat > > > > Beberapa hari lalu, saya mendapat ucapan "selamat" atas rencana pelantikan > sebagai anggota DPR dari konstituen, para petani Banyumas dan Cilacap. > > Bagi saya, mereka bukan orang baru, juga sebaliknya. Mereka adalah orang yang > pertama kali saya jumpai 18 tahun silam sebagai petani sederhana, yang > diringkus kemiskinan dan konflik pertanahan menahun. > > Saya terharu saat mereka menganggap saya sudah "berhasil". Padahal, apa yang > diperjuangkan 18 tahun lalu belum banyak memperbaiki nasib mereka. > > Saya juga yakin, semua rekan yang dilantik kemarin mendapat ucapan serupa > dari orang-orang. Para wakil rakyat ini adalah yang berhasil mengoptimalkan > hubungan dengan konstituen sehingga memenangkan jumlah suara yang memadai > dalam proses pertarungan politik pemilu. > > Di sini saya membicarakan prosedur dan strategi politik, dengan kedalaman dan > isi politik berbeda dari tiap kasus pemenangan pemilu. Karena rupanya > pertarungan politik sehari-hari sering terlalu tergesa-gesa, saya lupa > mengurusi isinya. > > Meski demikian, bukan berarti dalam proses yang bergegas ini kedalaman dan > isi tak bisa disertakan. Substansi politik bisa ditemukan jika (dan hanya > jika) panggilan berpolitik itu berasal dari sebuah proses panjang. Kalaupun > Anda menemukan kasus proses politik yang singkat, hampir pasti itu berasal > dari politik advertorial diri (pencitraan melalui iklan politik) maupun > politik transaksional yang teramat mahal bagi orang kebanyakan. > > Mewakili rakyat artinya menjalin beragam hubungan batin, pikiran, empati, dan > (bahkan) fisik dengan yang diwakili. Meski demikian, harus disadari, suara- > suara rakyat itu kerap bersifat spontan, sporadis, berserakan, dan tidak > sistematis. Maka, penting diingat, mewakili rakyat tidak hanya menjadi cermin > mentah atas semua itu, karena akan menjerumuskan kami pada popularitas > sesaat. Para politisi mudah digoda hal-hal seperti ini. > > Pencarian popularitas sesaat hanya melahirkan produk legislasi yang mentah > dan dangkal atas yang tampak di permukaan, tanpa menyelami aneka konsekuensi > kehidupan berbangsa dan bernegara. > > Misalnya, jika di kalangan konstituen kami muncul arus kuat sektarianisme > untuk memaksakan produk undang-undang yang mengancam hak-hak minoritas (baik > suku, agama, maupun status sosial lain), wakil rakyat yang visioner tidak > boleh memperjuangkannya begitu saja karena akan mengorbankan yang lebih > besar, yaitu Pancasila dan Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an kita. Pun misalnya di > kalangan konstituen kami muncul tuntutan untuk melegalkan perjudian, tentu > tidak serta-merta memperjuangkannya karena akan membangkrutkan moral > masyarakat kita. > > Dari apa yang saya lihat, berbagai kualifikasi itu hanya bisa dipenuhi dalam > proses politik ideologis maupun kultural melalui partai politik yang sehat, > bukan melalui proses advertorial diri atau politik transaksional. Selain > melalui partai, tentu ada jalur lain untuk menyehatkan representasi dan > proses legislasi. > > Sebagai anggota DPR, saya menjadi wakil rakyat menurut konstitusi negara. > Namun, ini tidak menghilangkan pengertian tentang wakil rakyat secara luas. > Di sini saya membicarakan keberadaan wakil rakyat yang hidup dan menghidupi > keseharian rakyat. Mereka bisa ditemukan dalam kegiatan di luar parlemen, > seperti kalangan cendekiawan, agamawan, budayawan, jurnalis, pendidik, > usahawan yang menerapkan prinsip pemerintahan yang bersih, para aktivis akar > rumput dan lainnya yang fungsinya tidak kalah penting dalam menyehatkan > peradaban politik. Senantiasa berinteraksi dengan mereka adalah untuk menjaga > agar proses ideologis dan kultural ini sebagai pengimbang politik > transaksional. > > Dengan demikian, berpolitik akan menjadi gugusan tindakan oleh > pribadi-pribadi yang sudah merasa cukup dengan aneka keperluan diri, agar > politik hanya mengurusi keperluan orang banyak. > > Saya sering menjumpai politisi yang asetnya "biasa-biasa" saja tetapi merasa > keperluan pribadinya tidak berlebihan sehingga dia bisa lapang memikirkan > orang banyak. Orang-orang itu merasa, dengan lebih melayani kepentingan orang > banyak, kebajikan publik akan berlaku adil sehingga memungkinkan memenuhi > keperluan pribadi tanpa mengambil yang bukan haknya. Namun, contoh sebaliknya > tidak sedikit jumlahnya. > > > > Sejak kemarin, saya dan rekan-rekan resmi dilantik mewakili Anda. Mari kita > akui saja, Anda dan kebanyakan rakyat tidak berkepentingan bagaimana kami > resmi menjadi wakil Anda di parlemen. Yang menjadi kepentingan Anda adalah > kesediaan kami untuk terus diuji di hadapan altar mimpi dan harapan orang > banyak, serta bagaimana kami mengakhirinya lima tahun ke depan. > > Bagaimana perasaan saya? Terus terang, saya dihantui perasaan jika > orang-orang desa yang telah menjadikan saya sebagai wakil rakyat di DPR, tak > akan lebih baik nasibnya lima tahun ke depan dibandingkan dengan saat saya > pertama kali menyepakati perjuangan bersama mereka 18 tahun silam. > > Budiman Sudjatmiko Anggota DPR dari PDI-P >
