Membaca Plato bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi membaca dialog-dialog
akhir Plato termasuk *Timaeus *dan* Critias* yang memuat kisah Atlantis ini.
Saya pribadi (bersama dengan Aristotle) percaya bahwa kisah Atlantis
bukanlah kisah nyata. Plato mengkonstruksi fiksi ini dengan mengambil
bahan-bahan mitos. Lihat misalnya tulisan Prof. Christopher Gill, *Plato:
The Atlantis Story* (Timaeus 17-27, Critias) (Bristol: Bristol Classical
Press, 1960) dan juga tulisan Diskin dan Purvis dalam *Four Island Utopias*.
Pesan Plato adalah pesan moral: orang-orang Atlantis yang kalah menyerang
Yunani kuno harus memilih untuk berespons. Jika mereka menjadi lebih serakah
dan agresif, maka tepatlah kehancuran itu untuk mereka. Namun, jika
kekalahan itu membuat mereka menjadi lebih bijaksana (sesuatu yang
diharapkan Zeus), celakalah mereka karena mereka sudah hancur terlebih
dahulu sebelum mereka sempat menarik pelajaran dari penghukuman itu. *
Timaeus* mengaitkan masalah etika dengan metafisika melalui ordonansi
ciptaan yang dirancang oleh para dewa, di mana kebajikan dan kelaliman akan
mendapatkan tempat yang sepantasnya di dalam kosmos.
Yang terpenting adalah ini: kita bisa berspekulasi dengan cukup rasional
bahwa Plato lebih ingin kita menghabiskan waktu dengan berkontemplasi
mengenai hidup kita, mengenai kebahagiaan, mengenai etika, dan bukan
bersibuk-sibuk mencari di mana Atlantis yang sebenarnya ada. Terlebih lagi,
Plato tidak akan senang melihat kisah Atlantis kemudian dijadikan bahan
pertunjukan di Caesar's Palace di Vegas tanpa lagi ada implikasi moral yang
akan membawa manusia hidup menjadi lebih baik.

salam hangat,
Emil
(bukan mantan menteri) :)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke