Saya setuju memang menggali informasi dan kejadian dimasa lalu harus
bisa memberikan pelajaran berharga buat para penggalinya un tuk
dijadikan renungan dan bekal dalam kehidupan masa kini. Tapi itu tidak
perlu mengesampingkan penggalian-penggalian sisi lain dari informasi
itu sendiri. Biarlah bukti menceritakannya sendiri apakan itu kisah
nyata atau tidak. Informasi akan menjadi polusi informasi kalau tidak
banyak digali tuntas. Ketekunan menggali dan mengolah informasi adalah
kunci gerbang menuju kecerdasan dan kemajuan.

Sebagai contoh populer, peradaban Troy yang digali arkeolog Jerman
Heinrich Schiliemann di sekitar Hisarlik (Turki) tahun 1871 diilhami
oleh ketenaran kisah Troy dalam buku Illiad karangan penyair buta
Yuanani yang hidup lebih tua dar Plato. Kalau Troy tidak diabadikan si
penyair ini mungkin saja tidak ada yang tertarik untuk menggali
informasi tentang Troy.
Memang Atlantis tidak sama dengan Troy tapi dengan mengarungi kisah
Atlantis saja terlepas apakah dia benar adanya atau tidak, kita sudah
banyak disuguhkan dan diperkaya berbagai informasi pengetahuan lain,
langsung ataupun secara tidak langsung.
SH

On 10/8/09, Emil Salim <[email protected]> wrote:
> Membaca Plato bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi membaca dialog-dialog
> akhir Plato termasuk *Timaeus *dan* Critias* yang memuat kisah Atlantis ini.
> Saya pribadi (bersama dengan Aristotle) percaya bahwa kisah Atlantis
> bukanlah kisah nyata. Plato mengkonstruksi fiksi ini dengan mengambil
> bahan-bahan mitos. Lihat misalnya tulisan Prof. Christopher Gill, *Plato:
> The Atlantis Story* (Timaeus 17-27, Critias) (Bristol: Bristol Classical
> Press, 1960) dan juga tulisan Diskin dan Purvis dalam *Four Island Utopias*.
> Pesan Plato adalah pesan moral: orang-orang Atlantis yang kalah menyerang
> Yunani kuno harus memilih untuk berespons. Jika mereka menjadi lebih serakah
> dan agresif, maka tepatlah kehancuran itu untuk mereka. Namun, jika
> kekalahan itu membuat mereka menjadi lebih bijaksana (sesuatu yang
> diharapkan Zeus), celakalah mereka karena mereka sudah hancur terlebih
> dahulu sebelum mereka sempat menarik pelajaran dari penghukuman itu. *
> Timaeus* mengaitkan masalah etika dengan metafisika melalui ordonansi
> ciptaan yang dirancang oleh para dewa, di mana kebajikan dan kelaliman akan
> mendapatkan tempat yang sepantasnya di dalam kosmos.
> Yang terpenting adalah ini: kita bisa berspekulasi dengan cukup rasional
> bahwa Plato lebih ingin kita menghabiskan waktu dengan berkontemplasi
> mengenai hidup kita, mengenai kebahagiaan, mengenai etika, dan bukan
> bersibuk-sibuk mencari di mana Atlantis yang sebenarnya ada. Terlebih lagi,
> Plato tidak akan senang melihat kisah Atlantis kemudian dijadikan bahan
> pertunjukan di Caesar's Palace di Vegas tanpa lagi ada implikasi moral yang
> akan membawa manusia hidup menjadi lebih baik.
>
> salam hangat,
> Emil
> (bukan mantan menteri) :)
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>

Kirim email ke