itu hayalan orang yang ngak punya konsep hidup,menghayal tentang dunia yang hilang...
[email protected] --- Pada Kam, 8/10/09, Ma'rufin Sudibyo <[email protected]> menulis: Dari: Ma'rufin Sudibyo <[email protected]> Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Indonesia = lokasi ATLANTIS yang hilang (Prof. Arysio Santos) Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 8 Oktober, 2009, 4:06 AM Cerita yang menarik. Namun sayangnya hipotesa pak Santos dari Brazil ini belum mempunyai bukti pendukung dan sejauh ini argumentasinya lemah jika ditinjau dari aspek arkeologis dan geologis. Misalnya saja, hipotesa Santos ini tidak bisa menjawab bagaimana pola penyebaran rumpun bangsa Austronesia sebagaimana yang telah dipetakan lewat uji genetika (DNA) serta penyebaran kebudayaan Bacson Haobinh dan Dongson dalam zaman batu baru. Salah satu cerita Plato menyebut pintu masuk ke Atlantis adalah berbentuk gerbang alami, yakni lahan datar yang dibatasi oleh dua dinding terjal nan panjang di kanan kirinya yang sangat tinggi, yang dinamakan Pilar Hercules. Jika Atlantis telah tenggelam, tentunya lahan datar ini ikut terbenam air, namun puncak dari kedua dinding terjal tersebut barangkali masih menyembul ataupun masih bisa diidentifikasi dalam peta topografi dasar laut. Dengan demikian seharusnya di Indonesia ada selat sempit dengan kontur dasar yang curam, yang terletak di area dangkalan Sunda. Sejauh ini selat sempit itu memang ada di Selat Sunda, di area Gunung Krakatau. Namun kontur dasarnya sangat landai sehingga tidak bisa menyamai deskripsi Pilar Hercules ala Plato. Mengaitkan Atlantis dengan Krakatau juga sulit untuk dimengerti. Jika apa yang ditulis geolog RDM Verbeek (yang menjadi saksi letusan katastrofik Krakatau 1883 dan lewat analisisnya tentang letusan tersebut maka lahirlah vulkanologi modern) benar dan Pustaka Raja Jawa (Pararaton ?) juga benar, maka letusan dahsyat Krakatau purba yang pertama terjadi di sekitar abad ke 4 atau 5 Masehi, letusan yang kedahsyatannya mampu melenyapkan jembatan alami (tanah genting) Sunda yang menghubungkan daratan Jawa dan Sumatra. Sementara Plato hidup lebih dari 2.000 tahun lampau, alias sebelum Masehi. Sehingga sangat sulit (untuk tidak mengatakan mustahil) dalam mengaitkan Krakatau dan tenggelamnya Atlantis. Yang lebih bisa diterima nalar, jika tenggelamnya Atlantis hendak dikaitkan dengan ltusan katastrofik gunung api laut, adalah letusan katastrofik Santorini (Thera) pada +/- 1650 SM di tengah-tengah Laut Tengah. Letusan yang menghancurkan kebudayaan Minoan di Laut Tengah bagian timur dan barangkali Atlantis di Laut Tengah bagian barat. Sebab beberapa peneliti menyebut ciri-ciri Pilar Hercules dari Plato sangat mirip dengan deskripsi Selat Gibraltar sekarang. Tambo Minang? Duh..jangan jauh2 ke Atlantis dulu lah. Tanah Minang sudah biasa mengalami gerak naik dan gerak turun sebagai akibat dari aktivitas zona subduksi Sumatra, patahan besar Mentawai dan sistem patahan besar Sumatra. Berdasarkan ellastic dislocation modelling, maka dengan derajat kuncian subduksi lempeng (degree of interface locking) seperti sekarang ini, maka dalam tahap interseismik (yakni tahap panjang di antara dua gempa besar pada daerah tersebut, yang dihasilkan pada interface yang sama), tanah Minang akan bergerak turun sehingga permukaan lautan akan terlihat bergerak naik dan berakibat masuknya garis pantai ke daratan. Sementara sebaliknya, setelah gempa besar terjadi dimana tahap koseismik dan pascaseismik berlangsung, maka tanah Minang akan bergerak naik sehingga lautan seolah bergerak menurun dan konsekuensi terjadi penambahan daratan (mundurnya garis pantai ke arah laut). Ini merupakan akibat dari ellastic dislocation seiring subduksi miring (oblique) lempeng Indo - Australia terhadap lempeng Sunda yang menjadi dasar berdirinya pulau Sumatra. Siklus gerak naik turun ini berlangsung sepanjang 200 - 250 tahun dan akan terlepaskan dalam bentuk gempa sangat besar (megathrust) dengan magnitude bisa mendekati 9 Mw (alias 9 skala Richter) untuk kemudian berulang kembali. Dengan magnitude sebesar itu, maka gerak naik turun tanah Minang bisa mencapai 1 - 2 meter, yang berkorelasi dengan gerak maju mundurnya garis pantai hingga +/- 100 meter. Saya rasa, tambo Minang itu justru menunjukkan loci genius penduduk setempat soal dinamika tanah tempat tinggalnya, suatu pengetahuan yang diperkuat hasil kampanye penelitian GPS-GPS (Global Positioning Systems - Geodynamic Project in Sumatra) dan SuGAR (Sumatran GPS Array) dalam 20 tahun terakhir ini. Salam, Ma'rufin
