Setahu saya sih, Preman di daerah Bekasi dan Cikarang, beraninya melakukan pemerasan terhadap masyarakat kalau dekat dengan Markas Polisi atau Markas Tentara. Tetapi kalau kemudian Tentara menggantikan tugas Preman dalam mengutip Uang Keamanan dari masyarakat, artinya ada pembagian rejeki yang tidak merata diantara mereka. Kalau Sopir Truk sih melakukan Lempar Kotak Korek Api (yang isinya uang) masih kepada Polisi. Tetapi gak jelas juga, bagaimana pembagian Uang Kotak Korek Api tersebut antara Polisi, Preman dan Tentara. Kalau kejadian di Medan, para Preman bayar upetinya ke Polisi. Pihak Tentara gak kebagian upeti. Akhirnya timbul konflik antara Tentara dan Polisi. Apakah kasus ini mrip dengan yang di Medan tetapi belum sampai menimbulkan konflik antara Polisi dan Tentara karena rejeki Polisi masih jauh lebih besar dari Tentara???? Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Sel, 20/10/09, bimo septyop <[email protected]> menulis: Dari: bimo septyop <[email protected]> Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] TENTARA MENGELOLA PERSIMPANGAN TOL BEKASI TIMUR Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 20 Oktober, 2009, 10:59 AM waktu itu supir metro mini pernah cerita, katanya di jalurnya ada preman yang suka malakin, lalu yang punya bus, ngadu ke kesatuan tertentu, dah akhirnya kesatuan tersebut memberantas para preman(premannya insyaf malah narik bus), lalu sebagai di kemudian hari si kesatuan mengawal jalan tersebut dengan bayaran satu juta rupiah selama sebulan untuk 13 metro, dari pada jatuh ke tangan preman, lebih baik ke oknum, imbuh sang supir
