Bela Kepentingan Asing

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/26/03331722/bela.kepentingan.asing



Jakarta, Kompas - Latar belakang pendidikan menteri, khususnya untuk bidang 
ekonomi, yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat dinilai 
mengkhawatirkan. Kondisi itu dinilai akan membuat kebijakan luar negeri 
Indonesia tidak bebas aktif, tetapi proasing, khususnya kepentingan AS.

Hal itu diungkapkan pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), Jakarta, 
Arbi Sanit, di Jakarta, Sabtu (24/10). Banyaknya menteri yang mendapat 
pendidikan dari AS akan membuat lobi-lobi AS di Indonesia, khususnya dalam 
bidang ekonomi, semakin mudah dan lancar.

"Persoalan lobi AS itu juga yang membuat publik memperkirakan penggantian 
menteri kesehatan hanya untuk melindungi lobi AS," katanya.

Dari 34 nama menteri dan tiga pejabat setingkat menteri dalam Kabinet Indonesia 
Bersatu II yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Oktober 
lalu, sebanyak 10 orang di antaranya pernah belajar di AS. Sebanyak 16 menteri 
merupakan alumni pendidikan dalam negeri, dua orang dari Belanda, serta 
masing-masing seorang dari Inggris, Perancis, Australia, dan Arab Saudi, dan 
lima orang sisanya adalah alumni TNI/Polri.

Arbi menambahkan, timpangnya negara asal pendidikan menteri itu bisa membuat 
Pemerintah Indonesia tidak dapat bersikap fair dalam menjalin diplomasi dengan 
negara-negara selain AS. Kondisi itu juga dapat mengganggu keseimbangan 
hubungan Indonesia dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara atau 
kelompok yang dicap sebagai musuh AS, seperti kelompok Al Qaeda dan jaringannya.

Tak perlu khawatir

Secara terpisah, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Salahuddin Wahid, bersikap 
berbeda. Menurut dia, latar belakang pendidikan para menteri yang kebanyakan 
berasal dari AS tidak perlu dikhawatirkan karena mereka umumnya juga mengenyam 
pendidikan di Indonesia.

Selama kebijakan mereka berpihak kepada kepentingan rakyat, latar belakang 
pendidikannya tak perlu dipersoalkan. Apalagi tanggung jawab keseluruhan 
jalannya pemerintahan tetap di tangan Presiden.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus berani 
menolak setiap intervensi AS terhadap kebijakannya. Presiden harus memiliki 
sikap sendiri," katanya.

Khusus untuk menteri bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang kebetulan 
banyak mengecap pendidikan di AS, Salahuddin hanya mengingatkan agar mereka 
tidak mengejar angka pertumbuhan ekonomi semata dan justru mengabaikan 
substansi pembangunan ekonomi untuk menyejahterakan rakyat. Pembangunan ekonomi 
harus merata dan dapat dinikmati hasilnya oleh seluruh kelompok masyarakat. 
(MZW)

Kirim email ke