Yth Rekan milis, Menjelang pertemuan tentang Iklim Buana di December 2009, majalah Economist minggu ini,terdapat tulisan tentang negara dengan pelepas CO2 terbesar didunia.Antara lain Spanyol CO2 naik 53%,Inggeris turun karena ketat dalam penggunaan fosil,German turun 21 %.
Ada suatu catatan menarik dalam membandingkan CO2 yang dilepaskan oleh Australia dan Prancis.Prancis dengan ekonominya beberapa kali lebih besar dari Australia,namun pelepasan CO2-nya lebih kecil dari Australia. Hal ini disebabkan sejak awal,tahun 1972 sejak kenaikan harga minyak, Prancis telah menggunakan kebijakan "security energy" yaitu sadar akan tidak adanya sumber daya alamnya, maka Prancis memutuskan untuk "go nuclear". Dengan filosofi keamanan dibidang energi saat ini 78% dari listrik di Prancis adalah dari nuklir dengan 59 unit PLTN-nya .Dengan konsep mereka yang jelas dan konsekwen,maka saat negara Eropa kerepotan masalah energi,Prancis bahkan beberapa tahun ini,ekspor listrik dengan penghasilan 3 milyar Euro/tahun. Listriknya antara lain di ekspor ke Belgia,Jerman,Italia,Spanyol,Inggeris dan Swiss. Hingga saat ini Prancis tetap konsisten dalam pengembangan teknologi nuklir,begitu pula daur bahan bakar nuklir,termasuk pengkayaan Uranium dan pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas pakai dari seluruh dunia.Semuanya memberikan jasa nuklir yang lumayan bagi industri Prancis. Hal yang sama dianut oleh Korea Selatan,Jepang dan Taiwan yang disebut sebagai "energy hungry country".mereka langsung go nuclear,tanpa keraguan. Indonesia karena merasa kaya sumber energi agak terlambat antisipasi sehingga tidak jelas kebijakannya. Indonesia saya kira harus jelas kebijakannya dan manajemennya tentang energi dan juga sektor lainnya,kalau tidak,maka jangan heran di daerah tempat batu-bara saja seperti Kalimantan,listriknya bisa byar-pet. Salam Hormat, Bakri Arbie. --- On Sun, 11/8/09, andryansyah <[email protected]> wrote: From: andryansyah <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] PLTN Tetap Dibangun To: [email protected] Date: Sunday, November 8, 2009, 9:29 PM Saya kira bukan DIMANA yang utama tetapi KAPAN. Kita, saya kira belum punya kemampuan untuk tidak konyol ketika punya PLTN saat ini atau sampai 2020 sekalipun. Buktinya adalah ketidak mampuan kita hingga saat ini untuk bisa membuat sendiri bahan bakar nuklir plus kelongsongnya. Mengapa ini sangat penting, karena itulah sumber energinya. Seperti PLTU misalnya, kita punya batu baranya. Lalu mengapa saat ini (saya maksud hingga kira-kira 2020) kita justru mengekspor batu bara (atau saya salah?). Juga adakah minyak yang kita ekspor dipakai oleh negara pembeli untuk dibuat listrik? Kalau hal itu masih terus terjadi hingga 2020, maka konyol kalau kemudian kita beli PLTN yang semuanya termasuk bahan bakarnya harus kita beli!! Kedua, yakinkan kita bahwa dengan punya PLTN saat ini kita tidak akan dipermainkan secara politik di lingkungan internasional. Maksud saya, kalau kita punya pandangan politik yang berbeda dengan negara besar yang punya kuasa ngatur-ngatur perdagangan komponen vital PLTN, lalu apakah kita kemudian akan melunturkan keyakinan politik kita itu hanya demi tidak diembargo yang dapat mengakibatkan PLTN akan menjadi BESI TUA??? Wassalam, andry --- In Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com, Adyanto Aditomo <adyantoaditomo@ ...> wrote: > > Kalau memang dilihat dari segi ekonomis dan kehandalan Sistem Kelistrikan > maka PLTN sebaiknya dibangun di Kalimantan, ya sebaiknya dilakukan saja. > Dengan demikian bisa diharapkan di Kalimantan akan tumbuh banyak Industri > yang menggunakan Tenaga Listrik cukup besar dengan kualitas yang tinggi. > Karena adanya krisis Listrik di Kalimantan, saat ini industri modern di > Kalimantan sulit untuk bisa tumbuh dengan baik. > Penggunaan Genset untuk pengadaan Tenaga Listrik bagi Industri modern, selain > biayanya luar biasa mahal (karena harga solar juga mahal), juga kualitasnya > tidak bisa sebagus listrik PLN. > Â > Salam, > Â > Adyanto Aditomo [Non-text portions of this message have been removed]
