Ancaman perubahan iklim tetap ada terlepas dari apakah ada kapitalis yang niat 
mengekploitasinya atau tidak.
Perlu juga dipertimbangkan yang telah terjadi di Afrika, program green energy 
diajukan dan terealisasi berupa konversi besar-besaran tanah garapan untuk 
bahan pangan menjadi lahan produksi bio energi, akibatnya bahan makanan jadi 
sulit dan wilayah tersebut krisis pangan. Akibatnya, sekian ribu bayi meninggal 
setiap tahun.
Sebenarnya persoalannya adalah, jumlah energi yang diterima Bumi tidak pernah 
cukup untuk sustaining 6 milyar manusia, apalagi 9 milyar manusia di 
pertengahan abad nanti. Ditambah pola pemakian energi masyarakat negara maju 
(terutama AS) ->DAN<- masyarakat perkotaan di negara berkembang. Masih ditambah 
lagi peningkatan kualitas hidup di negara dengan jumlah penduduk besar seperti 
RRC, karena peningkatan kualitas hidup (paling tidak dalam arti yang berlaku 
saat ini) sudah pasti berarti peningkatan demand energi. Sekian juta penduduk 
negara Eropa yang menggunakan energi besar masih tidak seberapa dibanding 
semilyar penduduk RRC yang tahun-demi-tahun meningkatkan penggunaan energinya.

Yang harus dilakukan adalah memaksa masyarakat negara maju (terutama AS, yang 
jumlah penduduknya 200 juta lebih) untuk segera mengadopsi green energy, dan 
mengawasi perkembangan rising society seperti RRC.

Kita juga harus hati-hati dalam tindakan penanggulanagan pemasan global, karena 
sekedar (dengan tiba-tiba) menghentikan pelepasan polusi udara ternyata 
berdampak buruk juga! Telah diketahui bahwa partikel polusi selain menyerap 
panas tapi juga memantulkan sebagian energi matahari ke angkasa luar -- yang 
berefek pada "global dimming". Global dimming adalah penurunan jumlah energi 
yang diterima permukaan Bumi. Apabila partikel polusi tersebut dihilangkan 
seketika tanpa juga mengurangi kandungan CO2 di atmosfir secara bersamaan, 
akibatnya adalah lonjakan temperatur tiba-tiba, seperti yang telah menewaskan 
banyak orang di Prancis pada tahun 2005. Jadi, pelenyapan partikel polusi harus 
bersamaan dengan pengurangan kandungan CO2.

Thx






________________________________
From: firdaus cahyadi <[email protected]>

Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Perubahan Iklim, Biasa aja kaleee…


Perubahan Iklim, Biasa aja kaleee…

“Loe biasa lagi kalau kampanye tentang perubahan iklim, jangan
terlalu bersemangat,” ujar teman kuliahku. “Eh, loe tahu ga sih, sadar
ga sih, kalau bumi kita ini semakin panas,” ujarku, “Permukaan laut
telah naik, banjir dan kekeringan dimana-mana,”

“Dan semua itu akibat naiknya gas rumah kaca dari pembakaran bahan
bakar fosil,” tegasku, “Negara-negara maju yang selama ini serakah
mengkonsumsi bahan bakar fosil harus bertanggungjawab, negara-negara
miskin dan berkembang seperti Indonesia adalah korban dari keserakahan
mereka, jadi ini masalah keadilan,”
“Kalau itu mah semua orang juga tahu,” timpalnya ketus.

“Jadi apa maksud loe ngelarang-ngelarang gue yang lagi bersemangat
mengakampenyekan isu perubahan iklim,” kataku dengan nada tinggi,
“Jangan-jangan loe udah dibayar oleh perusahan-perusahan minyak atau
perusahaan yang merusak lingkungan. Uh, masih mahasiswa udah jadi
komprador,”

“Sabar man,” ujarnya sambil memperlihatkan layar laptopnya kepadaku. “Coba baca 
artikel itu,” ucapnya lagi.

Rabu, 11 November 2009, World Bank, Asian Development Bank dan
International Financial Corporation (IFC) akan menyelenggarakan acara
untuk mengumpulkan masukan tentang Rencana Investasi Clean Technology
Fund (CTF) di Indonesia.

“CTF itu salah satu proyek utang baru lembaga-lembaga bisnis bantuan
internasional itu,” jelas temanku, “Jadi, lambaga-lembaga bisnis
bantuan itu telah membelokan isu perubahan iklim memasarkan produk
utangnya, dan itu memanfatkan anak-anak muda yang terlalu bersemangat
dalam mengkampanyekan isu perubahan iklim, ya seperti loe itu,”

“Jangan asal ngomong loe kalau ga paham isu, ” dampratku, “Boleh
saja lembaga-lembaga bisnis bantuan seperti Bank Dunia, ADB dan IFC
memasarkan produk utangnya dengan mengatasnamakan perubahan iklim, tapi
kan belum tentu diambil oleh pemerintah Indonesia,”

“Sekarang sudah reformasi bung, pers sudah bebas jadi pemerintah
sudah cukup sadar bahwa utang luar negeri itu memberatkan negara,
membuat anggaran pendidikan, kesehatan dan sosial rakyat berkurang
gara-gara APBN-nya sudah terkuras untuk bayar utang,” jelasku dengan
geram.

“Ha..ha..,loe ini katanya mahasiswa plus aktivis LSM Lingkungan
hidup tapi kok ga pernah mengikuti perkembangan berita,” kata temanku
sambil menyorongkan laptopnya. Terpampang di layar laptopnya portal
detikfinance. com tanggal 23 Oktober 2008.

Berita di detikfinance. com itu berjudul “Bappenas Incar Pinjaman CIF” . Adapun 
cuplikan isi beritanya adalah sebagai berikut;

Bappenas mengincar pinjaman alternatif dari Climate Investment
Fund (CIF) dalam rangka mengantisipasi krisis keuangan global dan
mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pendanaan Multilateral Bappenas, Dewo 
Broto Joko Putranto “Yang sedang diincar sekarang adalah dana untuk CIF yang 
sudah dikumpulkan Bank Dunia sebesar US$ 6,1 miliar,” ujarnya.

Menurutnya, dana tersebut nantinya akan dikucurkan melalui clean
technology fund. Dana tersebut diberikan dalam rangka program climate
change yang digunakan untuk membantu negara-negara berkembang
mengadakan pengurangan emisi.

“CTF atau Clean Technology Fund sendiri baru ada konsultasi publik
Rabu, 11 Nopember 2009, tapi pemerintah kita yang kata loe udah di
reformasi itu sudah mengincar akan mengambil dana utang sejak Oktober
2008,” ungkap temanku, “Gila ga?”

Aku tertunduk lemas, terbayang di kepalaku, anak-anak yang tidak
sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah, ibu-ibu dan anak-anak
miskin yang sedang sakit tapi tidak dapat dirawat di rumah sakit karena
biaya rumah sakit membunmbung tinggi. Semua itu karena anggaran
pendidikan dan kesehatan di APBN dipangkas untuk membayar utang luar
negari.

“Lantas apa artinya selamat dari bencana ekologi perubahan iklim
jika kita kemudian akan melihat jutaan anak-anak, perempuan,
bapak-bapak dan seluruh warga miskin di negeri ini semakin terpuruk
kehidupannya. Tidak ada anggaran untuk orang miskin, karena anggaran
untuk orang miskin sudah dipakai untuk bayar utang,” kataku dalam hati
seraya bergegas meninggalkan temanku sendirian, “Uh, betapa kejamnya
lembaga-lembaga bisnis bantuan internasional itu, yang telah membelokan
isu perubahan iklim untuk memasarkan proyek utang barunya,”
Sumber: http://umum. kompasiana. com/2009/ 11/11/perubahan- iklim-biasa- 
aja-kali/

Kirim email ke