klo soal utang seh, percuma didebat dari sisi perspektif utang atau tdk.
krn sudah menjadi pakem pemerintah selalu defisit anggaran dan dibiayai oleh  
utang.
ntah itu utang dlm negeri or luar negeri. jadi utang bagi pemerintah adalah 
niscaya.
masalahnya sekarang bagi pemerintah adalah utang mana yg paling murah menurut
pemerintah yg akan diambil. jadilah fokus pemerintah adalah memburu kreditur 
apa saja
dan mana saja, bahkan semenjak masih dlm bentuk komitmen sudah diindent duluan
asal dapat utang yg murah meriah. mengenai resiko 
berutang.........he...he....pastilah
pemerintah sekarang bilang biarin aja dipikir pemerintah yg akan datang. enak 
tho.......


  ----- Original Message -----
  From: firdaus cahyadi
  To: forum pembaca ; List Media ; milis koran Digital
  Sent: Wednesday, November 11, 2009 9:00 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Perubahan Iklim, Biasa aja kaleee…



  Perubahan Iklim, Biasa aja kaleee…

  “Loe biasa lagi kalau kampanye tentang perubahan iklim, jangan
  terlalu bersemangat,” ujar teman kuliahku. “Eh, loe tahu ga sih, sadar
  ga sih, kalau bumi kita ini semakin panas,” ujarku, “Permukaan laut
  telah naik, banjir dan kekeringan dimana-mana,”

  “Dan semua itu akibat naiknya gas rumah kaca dari pembakaran bahan
  bakar fosil,” tegasku, “Negara-negara maju yang selama ini serakah
  mengkonsumsi bahan bakar fosil harus bertanggungjawab, negara-negara
  miskin dan berkembang seperti Indonesia adalah korban dari keserakahan
  mereka, jadi ini masalah keadilan,”
  “Kalau itu mah semua orang juga tahu,” timpalnya ketus.

  “Jadi apa maksud loe ngelarang-ngelarang gue yang lagi bersemangat
  mengakampenyekan isu perubahan iklim,” kataku dengan nada tinggi,
  “Jangan-jangan loe udah dibayar oleh perusahan-perusahan minyak atau
  perusahaan yang merusak lingkungan. Uh, masih mahasiswa udah jadi
  komprador,”

  “Sabar man,” ujarnya sambil memperlihatkan layar laptopnya kepadaku. “Coba 
baca artikel itu,” ucapnya lagi.

  Rabu, 11 November 2009, World Bank, Asian Development Bank dan
  International Financial Corporation (IFC) akan menyelenggarakan acara
  untuk mengumpulkan masukan tentang Rencana Investasi Clean Technology
  Fund (CTF) di Indonesia.

  “CTF itu salah satu proyek utang baru lembaga-lembaga bisnis bantuan
  internasional itu,” jelas temanku, “Jadi, lambaga-lembaga bisnis
  bantuan itu telah membelokan isu perubahan iklim memasarkan produk
  utangnya, dan itu memanfatkan anak-anak muda yang terlalu bersemangat
  dalam mengkampanyekan isu perubahan iklim, ya seperti loe itu,”

  “Jangan asal ngomong loe kalau ga paham isu, ” dampratku, “Boleh
  saja lembaga-lembaga bisnis bantuan seperti Bank Dunia, ADB dan IFC
  memasarkan produk utangnya dengan mengatasnamakan perubahan iklim, tapi
  kan belum tentu diambil oleh pemerintah Indonesia,”

  “Sekarang sudah reformasi bung, pers sudah bebas jadi pemerintah
  sudah cukup sadar bahwa utang luar negeri itu memberatkan negara,
  membuat anggaran pendidikan, kesehatan dan sosial rakyat berkurang
  gara-gara APBN-nya sudah terkuras untuk bayar utang,” jelasku dengan
  geram.

  “Ha..ha..,loe ini katanya mahasiswa plus aktivis LSM Lingkungan
  hidup tapi kok ga pernah mengikuti perkembangan berita,” kata temanku
  sambil menyorongkan laptopnya. Terpampang di layar laptopnya portal
  detikfinance.com tanggal 23 Oktober 2008.

  Berita di detikfinance.com itu berjudul “Bappenas Incar Pinjaman CIF” . 
Adapun cuplikan isi beritanya adalah sebagai berikut;

  Bappenas mengincar pinjaman alternatif dari Climate Investment
  Fund (CIF) dalam rangka mengantisipasi krisis keuangan global dan
  mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

  Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pendanaan Multilateral Bappenas, Dewo 
Broto Joko Putranto “Yang sedang diincar sekarang adalah dana untuk CIF yang 
sudah dikumpulkan Bank Dunia sebesar US$ 6,1 miliar,” ujarnya.

  Menurutnya, dana tersebut nantinya akan dikucurkan melalui clean
  technology fund. Dana tersebut diberikan dalam rangka program climate
  change yang digunakan untuk membantu negara-negara berkembang
  mengadakan pengurangan emisi.

  “CTF atau Clean Technology Fund sendiri baru ada konsultasi publik
  Rabu, 11 Nopember 2009, tapi pemerintah kita yang kata loe udah di
  reformasi itu sudah mengincar akan mengambil dana utang sejak Oktober
  2008,” ungkap temanku, “Gila ga?”

  Aku tertunduk lemas, terbayang di kepalaku, anak-anak yang tidak
  sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah, ibu-ibu dan anak-anak
  miskin yang sedang sakit tapi tidak dapat dirawat di rumah sakit karena
  biaya rumah sakit membunmbung tinggi. Semua itu karena anggaran
  pendidikan dan kesehatan di APBN dipangkas untuk membayar utang luar
  negari.

  “Lantas apa artinya selamat dari bencana ekologi perubahan iklim
  jika kita kemudian akan melihat jutaan anak-anak, perempuan,
  bapak-bapak dan seluruh warga miskin di negeri ini semakin terpuruk
  kehidupannya. Tidak ada anggaran untuk orang miskin, karena anggaran
  untuk orang miskin sudah dipakai untuk bayar utang,” kataku dalam hati
  seraya bergegas meninggalkan temanku sendirian, “Uh, betapa kejamnya
  lembaga-lembaga bisnis bantuan internasional itu, yang telah membelokan
  isu perubahan iklim untuk memasarkan proyek utang barunya,”
  Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/11/11/perubahan-iklim-biasa-aja-kali/

Kirim email ke