--- In [email protected], "arbiebakri" <arbieba...@...> wrote:

Yth Rekan milis,

Membaca tulisan Bung Abdul Ayub, saya tertarik untuk memberi penghayatan 
pribadi dan nostalgia saya tentang Gorontalo.

Setiap ke Gorontalo saya selalu ke Pantai Pohe dan Leato.
Disuatu batu di Pohe,puluhan tahun lalu saya dengan teman-teman dari 
J.Merdeka,dihari libur selalu mempunyai acara ke Pohe.
Nenek kami secara yang sederhana biasanya menyiapkan nasi goreng yang dibungkus 
daun untuk bekal.Biasanya kita berangkat rombongan 7 orang,
berangkat di pagi hari sekitar jam 6.30,dan dengan berjalan kaki kita ke pantai 
Pohe.

Perjalanan saat itu kami nikmati,matahari masih rendah,udara masih 
sejuk.Berbeda dengan zaman sekarang,begitu keluar rumah sudah ada Bentor,asik 
juga......
Perjalanan biasanya OK,kecuali ketika didaerah tangsi polisi,yang 
biasanya,anak-anak disitu sering mengganggu rombongan yang lewat.
Jadi strateginya yaitu kita memecah jadi kelompok kecil sehingga tidak begitu 
menonjol untuk diajak berkelahi oleh anak-anak tangsi saat itu.

Aroma daun hijau digunung dan bunyi ombak yang memukul di pantai merupakan 
kenangan tersendiri.Acaranya adalah kita naik kebatu yang agak besar,dan kita 
saling mendorong dan siapa yang kalah langsung
jatuh kelaut.Teman kita yang paling kuat saat itu adalah Namura Hatibie 
(badannya paling kekar diantara kita semua).

Ada pula teman yang membawa senapan panah air, untuk menembak ikan dilengkapi 
dengan kaca mata dalam air.Semuanya buatan sendiri.
Namun hasil ikan yang paling banyak adalah membantu nelayan,mendorong perahu 
kepantai dan kita dapat hadiah ikan kecil-kecil.

Biasanya setelah agak tinggi matahari,kita naik ke bukit diatas pantai,dan 
sambil membakar ikan pemberian nelayan kita makan nasi goreng dari sang nenek.
Kita makan sambil memandang kelaut yang terhampang luas didepan kita.
Nikmat rasanya........

Saat saya pulang terakhir 3 minggu lalu,dengan bentor saya ke Pohe,
duduk menatap batu tempat kita bercengkerama dahulu.......juga masih terlihat 
perahu nelayan yang desainnya mungkin masih sama seperti dulu.Di bukit 
sana,sesuatu yang kita perlu berjuang mendaki dahulu sekarang sudah menjadi 
jalan mobil.
Telah terjadi perubahan memang......

Perubahan kearah positif ada dan namun ada pula negatifnya.
Balai Buku tempat saya sering membaca kalau tidak salah namanya Penmas 
(Pendidikan Masyarakat) sudah tinggal rongsokan.Tempatnya tidak jauh dari 
Patung Bp Nani Wartabone,dekat hotel Saronte ?..... lupa namanya.

Hal yang 50-an tahun lalu,mengingatkan saya akan manusia yang pernah bersama 
saat itu.
Nenek sudah tiada,orang tua yang selalu khawatir kalau kita 
kepantai,kawan-kawan dan saudara-saudara sebagian besar telah tiada.

Namun ada keharuan,...bahwa rasanya kita begitu bahagia disaat itu,
orang penuh optimisme akan hari depan dan kehidupan hening dan damai belum 
terpacu oleh modernisasi.Saya ingat orang tua di Gorontalo selalu mengingatkan 
pentingnya pendidikan.

Mengingatkan hal itu semua,terbercik perasaan ingin menetap kembali
di Gorontalo,namun semua sudah jadi rumit,.....anak-anak besar di 
Bandung......tidak ada memory mereka tentang pantai Pohe.
Mereka mengukir hidup dan kehidupannya sendiri.
Yang tertinggal adalah...kenangan indah.......

C'est la vie....kata orang Prancis.

Kirim email ke