PGPS itu mau diartikan apa saja buat saya kalau digunakan sebagai dasar remunerasi adalah sangat konyol. Permasalahan yang ada adalah terletak di perencanaan, pembagian tugas, dan beban kerja yang seharusnya dibuat oleh pemimpinnya. Kita sambungkan ke penelitian, kalau pemimpinnya (manajer) tidak mampu buat perencanaan dan pembagain tugas, maka beban bawahannya tidak bisa diberikan secara optimal. Mosok karena kesalahan pemimpin ini maka penghasilan seseorang jadi berbeda jauh, aneh sekali bukan?? Kita sambungkan ke arah beban, apakah yang kerja seharian sebagai petugas pajak penghasilannya seharusnya sama dengan peneliti? Nyatanya orang pajak gajinya lebih tinggi dari peneliti (sama PNS). Ada yang aneh???
Nah, ujungnya, salahkan bila orang keuangan bilang dirinya pantas terima remunerasi lebih awal karena peneliti tidak ada kerjanya? Lalu disalahkan juga mengapa peneliti tidak ada hasil yang akhirnya digunakan. --- In [email protected], Mohamad Ilmi Hussein <tajungk...@...> wrote: > > PGPS pola lama (maaf klo tidak suka di plintir jadi pintar goblog). P = > Paling rajin, G = Gak ada kerjanya, P = Penghasilan, S = Standar. Itu kali > lebih cocok jadi terasa tidak adil bagi yang banyak kontribusinya. Tentunya > dengan remunerasi baru maka hal di atas akan tereliminasi dengan sendirinya. > > Blok Tangguh, itu yang bermasalah adalah kontrak sharingnya, dimana ada > bagian-bagian yang bisa digunakan di dalam negeri dan ada bagian yang > diekspor. Jadi ya kita telusuri kenapa kontraknya begitu, ini jutga kita > hadapi dengan blok ambalat di kalimantan, freeport dll, karena tidak ada > negosiator yang patriotik dan nasionalis. > > Investor tentunya akan melirik hal diatas berkaitan dengan INVESTMENT > PAYBACK PERIOD, ROI, ROA, ROE .................... > > M.I. Hussein > Maju Terus Bersama PLTN
