Yang aneh uang yang Rp 6.7T itu dikesankan seolah-olah sudah hilang semuanya, padahal Banknya masih berdiri dan sekarang namanya Bank Mutiara yang sudah dikuasai Pemerintah melalui LPS. Tahun ini pun sudah menguntungkan sehingga berpotensi untuk dijual jauh melebihi Rp 6.7T. Memang ada sebagian uang itu yang dilarikan oleh pemilik lamanya. Nah ini dong yang harus diuber dan orang2nya ditangkap semua. Sementara harta Bank Century sendiri yang diparkir di luar negeri menurut pengakuan SD sudah berhasil diblokir. Jadi yang dipersoalkan apa? Kan jelas yang ribut hanya orang2 yang kalah dalam pemilu yang melihat ini adalah peluang untuk menjatuhkan SBY? Ada udang di balik batu. Malu2in. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From:"PH" <[email protected]> Date: Tue, 15 Dec 2009 14:49:36 To: <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Perlawanan ala Srikandi Menkeu Sri Mulyani Ah..., Tanpa di-ungkap oleh Sri Mulyani juga sebetulnya begini-begini kan mudah dianalisis. Nggak usah pake Srikandi - Srikandi segala. (sekali-sekali pake Cut Nya Dhien kenapa ?) Rasanya juga, tidak demikian bodohnya seorang Sri Mulyani melakukan 'kesalahan yang dituduhkan' oleh bapak/ibu yang di Senayan itu. Seandainya waktu itu para bapak/ibu itu dapat ang-pau terkait kebijakan itu, apa iya ...... jadi ramai begini .?. Seolah-olah persoalan negara ini hanya Bank Century. Tuyul apa pula Bank Century ini ?. Mengapa kalau perusahaan di group Pak Bakri 'memainkan' pajak, bapak/ibu DPR tidak geger ?, berisik aja tidak ?. Hayoo........! Mengapa kalau PLN 'hidup-mati' bapak/ibu DPR-RI tidak geger ?, berisik aja tidak ?. Kerugian masyarakat tidak pernah di-urus 'para wakil rakyat yang terhormat ? Berani kah para anggota dewan yang terhormat menghitung trilyun kerugian masyarakat ? Mengapa kalau industri Indonesia hampir dibasmi oleh WTO dan/atau AFTA/FTA (atau yg seperti itu deh...), para wakil rakyat di DPR tidak gelisah ?, tidak peduli ?. Berani kah wakil rakyat yang terhormat itu menghitung trilyun kerugian industri Indonesia ?. Manaa...???. Mengapa kalau prajurit TNI hanya bisa 'ngutang melulu' di koperasi para anggota dewan yang terhormat tidak gelisah ?. Mengapa kalau prajurit TNI matanya pada merah - karena sering lapar - para anggota dewan yang terhormat tidak pula gelisah ?. Mengapa kalau prajurit TNI-AL tidak mampu patroli wilayah RI karena tidak punya sarana yang memadai, para anggota dewan yang terhormat tidak pernah gelisah ?. Apa pernah DPR yang terhormat itu berteriak garang ketika batas teritorial RI bermasalah ?. Karena tidak ada bilangan duitnya yaa........ Hayooo......? Yang diurus duiiiiiit melulu. Waktu pesawat Adam Air nyemplung di laut (katanya seh...), apa ada para wakil rakyat yang terhormat (merasa terhormat sendiri boo...) berteriak dengan model panitia hak ........., apa tuh namanya ?.. lupa !. Apa pernah jiwa kami - rakyat ini, jadi masalah besar bagi para anggota dewan yang terhormat itu ?. Kalau misalnya kami dipukuli waktu diperiksa Polisi, apakah kami diurus ?. Paling-paling ' kami tidak di informasikan' atau 'kami tidak tahu' jawabnya. Selesai !! Mengapa kalau ada dokter yang mal-praktek - yang bikin kami rakyat Indonesia cacat, mati, jatuh miskin, dll, para anggota dewan yang (merasa) terhormat itu tidak beringas ?. Mana ada kami dengar suara gelegar para wakil rakyat yang terhormat, ketika Prita 'dikerjain' begitu ?. Manaaa....? Apakah para (yang katanya) wakil rakyat yang terhormat itu mewakili rakyat atau mewakili .......dompet ?. Mengapa para wakil akyat itu tidak pun gelisah ketika diketahui bahwa jumlah spesialis bedah tulang di Indonesia masih sangat minim ? Ada lagi wakil rakyat yang berkata 'kami akan belajar dari para senior di DPR-RI'. Jadi, belajar sebagai wakil rakyat 5 tahun.., kapan kerjanya ?. Tuyul ! Bangsa ku ini kok malang begini ya........!. Mumet deh...... [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
