--- In [email protected], slamet riyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  
>   Maaf saya jadi tergelitik ingin ikut nyumbang informasi tentang D4
STAN. Saya tidak bermaksud membahas kontroversi Surat Edaran yang ada,
karena pikir saya, temen2 sudah membahas nya dengan panjang lebar
sesuai argumentasinya masing- masing. 
>    
>   Kebetulan saya saat ini sedang kuliah di D4. Tentang kuliah D4
STAN saat ini yang marak di bicarakan, dari yang saya alami,
sebenarnya mata kuliah di D4 STAN sangat mendukung kerja-kerja di
DJPBN. Untuk semester ini saja ada mata kuliah Management Government
Expenditure (Manajemen Keuangan Pemerintah), Seminar Akutansi
pemerintah, Manajemen Instansi Pemerintah Berbasis Kinerja,
Kepemimpinan dan Negoisasi, Sistem Manajemen database, Seminar
pemberantasan korupsi dan Ekonomi pembangunan. Bisa saya katakan untuk
semester saat ini, mata kuliah semester ini cukup kental warnanya
dengan dunia kantor kita (Perbendaharaan). 
>    
>   Jadi sebenarnya ilmu akutansi yang dipelajari di STAN, bukan lagi
sekedar ilmu akutansi komersil tapi juga ilmu akutansi sector publik
internasional dan  praktek di Indonesia, yang saat ini (mungkin) masih
belum banyak kampus-kanpus lain yang secara khusus mempelajari hal
ini. Bahkan dosen-dosen di STAN( menurut saya) dalam hal ini mungkin
lebih unggul karena mereka sebelumnya adalah praktisi di instansinya
atau juga mereka adalah orang yang punya koneksi dengan ilmu akutansi
sector publik dan dunia birokrasi selain juga pendidikannya yang
rata-rata adalah lulusan S2 LN. Selain itu juga, gak Cuma dosennya,
tapi juga mahasiswa yang berasal dari instansi eselon 1 di departemen
keuangan, membuat saya mendapatkan transfer pengalaman kerja dan
informasi, baik dari yang internal perbendaharaan maupun dengan temen2
yang dari pajak, itjen, BAPEPAM, BPK dlll. Yang mungkin (maaf) hal ini
bila kita cari di kampus selain STAN mungkin akan agak sulit (saya
belum pernah membandingkan,
>  tapi sepertinya dugaan saya ini tepat). Walaupun, memang benar sih,
tentang fasilitas, kampus STAN tidak sebaik kampus lain (masih ada
kelas yang bocor, cat yang kusam, kambing dimana-mana, fasilitas
perpustakaan yang kurang, dll) tapi selama ini menurut saya itu tidak
menggangu secara signifikan terhadap aktivitas perkuliahan. Kita masih
bisa mencari informasi dari internet untuk buku-buku yang tidak
tersedia, lg pula kan D4 kita sudah dapat penghasilan, sehingga bisa
nabung untuk beli buku.
>    
>   Terlepas dari adanya kontroversi yang terjadi saat ini, jadi
(menurut saya), sebagai sebuah saran saja, sebenarnya bagai pegawai
DJPBN yang dari prodip STAN yang diharapkan tenaganya untuk membantu
kerja-kerja perbendaharaan, mulai dari perencanaan, penganggaran,
pelaksaanaan, pengawasan sampai dengan pertanggung jawaban dan membuat
LKPP, sebenarnya akan lebih tepat di STAN. Mungkin untuk spesialisasi
ilmu lain  (spt IT, hukum, dll) kampus di luar STAN memang lebih cocok.
>    
>   Sekedar sumbang informasi. Semoga bermanfaat.
> 
>        


Terima kasih met, ini yang ditunggu pendapatnya, kalo masalah
pandangan ilmu apa yang diajarkan di STAN terutama DIV STAN, saya rasa
yang berkompeten untuk berbicara adalah pihak STAN, mahasiswa dan
alumninya. Kan lebih tahu masalah apa yang ada di dalamnya.

Kemudian, saya juga termasuk pihak yang masih setuju atas kebutuhan
ilmu yang masih diajarkan di STAN untuk kepentingan Perbendaharaan,
walau bukan mahasiswa atau alumni D4 STAN. Ilmu di sana pendekatan ke
sektor pemerintahnya masih jauh lebih besar dibanding univ lain dari
ilmu accounting maupun finance. Dosen-dosennya juga sangat
berpengalaman dalam sektor finance dan accounting sektor pemerintahan.
Dari yang saya dengar memang beberapa tahun terakhir D4 STAN sudah
mengubah kurikulum dengan mengganti mata-mata kuliah yang mengarah
ekonomi sektor swasta seperti mata kuliah manajemen pemasaran.

Sekali lagi yang saya ingin tekankan pendapat saya di email sebelumnya
bahwa proses pendidikan di STAN masih sangat baik dan dibimbing oleh
dosen-dosen yang sangat berkualitas. Hal ini berdasar pengalaman tiga
tahun kuliah di sana. Proses seleksi alamiah selama kuliah juga sangat
ketat standar untuk tetap terus kuliah cukup tinggi, lha dulu angkatan
saya tingkat satu ada 6 kelas ternyata di tingkat tiga cuma tersisa 5
kelas. Yang hampir satu kelas gagal dalam seleksi alamiah berupa
ujiandi tiap  Semester.

Yah saya cuma bisa berharap dan berdoa agar ada solusi yang terbaik
untuk semua pihak, baik teman-teman maupun adik kelas saya yang sudah
berhasil lulus tes D4 dan D3 Khusus STAN, karena mereka sudah
mengikuti tes yang menurut pengalaman saya cukup sulit, dari sisi
materi tes dan bahasa pengantar soalnya yang bahasa Inggris. Saya saja
tahun kemarin pernah gagal dalam tes tersebut karena kurang persiapan.
Jadi biasanya hanya yang sudah persiapan matang yang bisa lulus tes
tersebut.

Basuki Rahmat
060109414
Mahasiswa TB FEB UGM

Kirim email ke