Hallo Mas Stef. Apa Kabar. Senang melihat Mas Stef lagi. Jadi ingat
Kupang lagi deh. Saya ingat dulu Mas Stef bilang hampir diangkat jadi
lurah di Kupang ( saking lamanya di Kupang ). Saya mantan anak lantai
6, temen baiknya Kak Frans PBB. Tahu kabar terakhir Kak Frans ?. Salam.

--- In [email protected], "Stefanus" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> *This message was transferred with a trial version of CommuniGate(r)
Pro*
> 
> Ya betul, HIDUP ANAK PRODIP karena kalau nggak ada anak Prodip, kantor 
> daerah nggak akan jalan, kalaupun jalan akan pincang dan tertatih tatih.
> Tapi kenapa ANAK PRODIP diagung agungkan ? Apakah karena kinerja dan
kemauan 
> kerja mereka paling kuat dibandingkan orang lokal?
> Apakah mereka lebih jujur dibandingkan orang lokal dan para senior?
> 
> ATAUKAH.
> Karena tidak ada lagi pengangkatan pegawai dari umum ? Sehingga anak
muda 
> yang lebih fresh dan segar hanya tersedia dari PRODIP?
> Karena kedekatan antar alumni prodip sehingga mereka lebih bisa
bertukar 
> informasi dan pengetahuan dengan sesama PRODIP di berbagai kantor
daerah dan 
> pusat?
> 
> Ah jangan menggeneralisir deh, kalo menurut saya sih (saya pribadi
loh), 
> ANAK PRODIP memang lebih unggul dibandingkan pegawai lokal, karena
dari segi 
> usia aja ANAK PRODIP lebih muda yang notabene lebih siap buat
membanting 
> tulang dan otak. Mungkin sewaktu tahun 1991 saya masuk kerja pertama
kali 
> ( saya penempatan di Kupang NTT dr th 1991 s/d 2002 ), beda umur
pegawai 
> lokal dengan usia saya masih sekitar 5-6 tahunan. Namun saat ini,
penempatan 
> pegawai prodip ke kantor daerah akan menunjukkan betapa jauh usia ANAK 
> PRODIP dengan pegawai lokal. Jelas akan berbeda tingkat kecepatan dan 
> kekuatan kerja.
> Saya masih mendapatkan dan mengalami masa masa harus membukukan SPM 
> berjumlah ratusan dan semua dilakukan secara manual. Bagaimana
kekaguman 
> saya melihat teman teman lokal yang sanggup mencari selisih
pembukuan dengan 
> cepat, menggunakan mesin hitung tanpa melihat tuts mesin hitung. Mereka 
> berjaya pada masanya, masa dimana mereka masih fresh. dan terbukti
bukan 
> bahwa orangn lokal pun MAU untuk maju dan MAU untuk bekerja keras.
> Sewaktu pertama kali ANAK PRODIP masuk kedalam lingkungan kerja,
mereka ANAK 
> PRODIP sudah paham akan lingkungan kerja yang akan dimasukinya, karena 
> mereka sudah mendapatkan bahan ajar dari kampus mereka. Namun bagaimana 
> dengan orang lokal sewaktu mereka masuk kerja? Merka masih harus
meraba raba 
> apa kira kira pekerjaan mereka di kantor nanti. Dan merekapun akhirnya 
> BELAJAR, ya mereka mau belajar dan berhasil menciptakan formula
pencarian 
> selisih dalam pembukuan, mereka mempunyai (atau menciptakan) tekhnik
mudah 
> penghitungan gaji secara manual.
> 
> Ya, ANAK PRODIP memang lebih pandai dan lebih mumpuni dibandingkan
orang 
> lokal (yg sekarang masih tersisa), karena mereka sudah dibiayai  negara 
> untuk belajar mengenai medan kerja mereka nanti ( bahkan jaman saya
tingkat 
> II pun sudah mendapatkan Gaji ).
> Namun janganlah berkata, bahwa "di daerah sapa lagi yang jadi
andalan kalo 
> bukan anak prodip makanya jangan semau mau deh ama prodip kualat ntar " 
> karena mereka akan menjawab, seandainya tidak ada pendidikan Program 
> Diploma-pun, KPKN, KTUA, Kasipa dan KPPN tetap akan berdiri dan
berjalan. 
> Bahkan mereka akan lebih bersyukur karena anak anak mereka mempunyai 
> kesempatan untuk melamar kerja di depkeu ( DJA / DJPBN). Karena
untuk kuliah 
> di STAN/Prodip yang berada dipulau Jawa, mereka merasa minder karena 
> ketakutan akan kota besar dan biaya yang belum tentu tersedia.
> 
> Saya menulis ini bukan untuk mendiskreditkan seseorang ataupun golongan 
> tertentu, saya hanya ingin mengucapkan (kalau boleh bernasihat) bahwa 
> janganlah kita merasa "paling lebih" dibandingkan orang lain.
Takutnya nanti 
> kita jadi takabur.
> Maaf kalau ada yang tersinggung, karena saya tidak ingin menyakiti
ataupun 
> menyinggung hati siapapun.
> 
>  131ex039
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "shaka_82" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Friday, September 28, 2007 12:44 AM
> Subject: [Forum Prima] Re: SEBUAH ALERGI YANG BERNAMA PRODIP
> 
> 
> betul bro hidup prodip
> di daerah sapa lagi yang jadi andalan kalo bukan anak prodip
> makanya jangan semau mau deh ama prodip kualat ntar,
> ini hasil dari pengalaman ya kalo qt didaerah cuti aja gak boleh lama2
> takut keteteran kerjaan nya betul kagak??????hidup prodip
> 
> --- In [email protected], "tyoblack" <tyoblack@> wrote:
> >
> > Sedih sekali mendengar beritanya gagal rekan2 yang telah lulus USM D3
> > Khusus dan D4 menjejakkan kakinya kembali ke jurangmangu....
> >
> > Tampaknya pelarangan mengikutu D3 khusus dan D4 patut diwaspadai akan
> > menjadi penyakit menahun.. Kenapa D3 dan D4 dianggap sebuah alergi??
>


Kirim email ke