Prihatin juga membaca pendapat2 yang seolah2 menstigmakan bahwa 
pegawai negeri itu harus penurut, pejabat loyalis, pendiam, dsb.

Seingat saya paradigma pegawai negeri seperti ini terjadi sepuluh 
tahun yang lalu sebelum reformasi. Ini adalah paradigma lama. 
Paradigma yang membuat negara kita berlumur dosa KORUPSI, KOLUSI DAN 
NEPOTISME. Kalo jaman gini masih ada Pejabat or Pegawai yang berpola 
pikir seperti paradigma lama, saya sangat prihatin. Paradigma ini 
sudah jauh ditinggalkan oleh negara2 maju di asia yang kental adat 
ketimurannnya seperti jepang, korea, taiwan.

Kritis bukan berarti kita tidak sopan, melawan dan stigma negatif 
lainnya. Justru kritis membuat kontrol lebih efektif daripada YES 
MEN, YES BOSS, ASAL BOS SENANG DSB. Karakter ini seharusnya sudah 
ditinggalkan karena lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. 
Karakter seperti ini lebih dekat ke sifat2 penjilat, hipokrit dan 
tidak mendidik masyarakat.

Harapa BEDAKAN antara kehidupan birokrasi sipil dan militer. Dalam 
militer memang Perintah Bos adalah segalanya, karena satu komando 
adalah penting dalam mencapai target tertentu. Bahkan di militer pun 
telah mulai meninggalkan anti kritik.

Dalam birokrasi sipil, tidak ada yang tidak bisa di kritik. Ingat 
dulu history SPM menjadi SP2D??? Hal ini adalaha buah pemikiran 
kritis para SDM, dan bukan hanya kerja tunggal sang pejabat.

Saya jadi ingat dulu pernah ada seorang pejabat eselon III yang 
pintar dan profesional. Dalam sebuah rapat/seminar dia mengkritik 
pola pencairan Pinjaman Luar Negeri yang tidak efektif/efisien dan 
merugikan negara yang didukung sang RAJA. Hasilnya???? Sang Pejabat 
di mutasi jauh antah berantah. Dan terbukti sekarang pinjaman luar 
negeri kita administrasinya amburadul dan di alihkan ke eselon satu 
lainnya!!!
Thanx God pejabat tersebut tidak lama di antah berantah karena 
beberapa waktu kemudian sang RAJA dicopot jabatannya. Dan akhirnya 
pejabat eselon III tersebut kembali lagi ke Jakarta.

Apa hal semacam ini yang kita inginkan? Seperti seolah-
olah "ancaman" yang dilontarkan beberapa anggota milis bahwa mereka 
yang kritis, protes dsb akan dimutasi ke antah berantah dan dilempar 
jauuuuh??? Padahal yang mengatakannya hanya seorang pelaksana!!!

Apa jaman sekarang masih ada PEJABAT YANG SEPERTI INI????
Masih relevankah memelihara semangat feodalisme????
Apa kita juga harus terus menunduk dan diam melihat ketidak adilan???
Kita berbicara reformasi pelayanan masyarakat tetapi reformasi 
pelayanan kedalam organisasi tidak terpikirkan. Administrasi 
kepegawaian pun bisa dibilang sangat KACAU!!!

Mereka yang hilang "rasa" kritisnya "biasanya" karena hal tersebut 
di bawah ini:
-Mereka yang PENAKUT;
-Mereka yang sudah merasa nyaman dengan posisinya (entah karena di 
tempat basah, tempat favorit, dekat dengan pejabat, punya jabatan, 
ada hubungan dengan pejabat, dan hal-hal sejenisnya) sehingga takut 
terusik dan kehilangan apa yang sudah dimiliki.
-Ada yang mau tambahin...............

Bahkan ada banyak orang yang seenaknya aja berbicara tanpa merasakan 
fakta yang sebenarnya.
Misal:
Soal tes integritas:
-Coba di tes integritas semua pejabat dengan fair, termasuk mereka 
yang mengolok2 teman2 yg tidak lulus KPPNP, apa mereka bisa lolos??? 
-Banyak teman kita yang lolos tes integritas di KPK, bukan hanya 
lewat tes tertulis biasa, tetapi mereka berhadapan dengan PSIKOLOG 
langsung, dikonfirmasi, DIREKAM dan hasilnya di analisa --- tetapi 
tidak lolos tes integritas DJPBN. 

Mengapa ada orang karena yang kedudukannya/jabatannya merasa paling 
berkuasa dan paling benar sendiri??? Padahal berapa lama sih mereka 
bisa memegang jabatannya? Paling2 sampai pensiun. Dan setelah 
pensiun mereka bukan apa2 lagi. Apa di nisannya akan di 
tulis, "disini bersemayam PEJABAT "Kepala Seksi/Kepala Kantor/Kepala 
Kanwil bahkan Menteri" sekalipun ???

By the way, ada cerita tentang seorang Pejabat jaman bahela yang 
zalim:

Saat pejabat tersebut pensiun, dia datang ke kantornya untuk 
mengurus pensiun yang masih ada persyaratan yang belum terpenuhi. 
Saat masuk ke ruang kepegawaian, tidak ada seorang pun yang meladeni 
mantan pejabat tersebut, tidak juga berbicara, semua menganggapnya 
tidak ada. Alhasil, pejabat tersebut keluar ruangan dengan emosi dan 
beberapa langkah sang mantan pejabat tersungkur pingsan 
terkena 'STROKE!!!!"

So, buat mereka yang telah menjadi PEJABAT atau yang MENGINCAR 
JABATAN DENGAN BERBAGAI MACAM CARA, maka ingatlah, semua ada 
akhirnya, ada pertanggungjawabannya.
Saat sekarang mungkin banyak sekali rasionalisasi yang membenarkan 
keputusan SANG PEJABAT, tetapi bila sudah berada dalam posisi lemah 
nanti dan mendapat perlakuan tidak adil, maka mungkin sang pejabat 
baru akan sadar. 

JABATAN ADALAH SOAL AMANAH, AMANAH DAN AMANAH
bukan SOAL KEKUASAAN, TUNJANGAN, KEHORMATAN.

just for better DJPBN:(
(hampir pesimis)

Kirim email ke