okehok <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Prihatin juga
membaca pendapat2 yang seolah2 menstigmakan bahwa
pegawai negeri itu harus penurut, pejabat loyalis, pendiam, dsb.
Seingat saya paradigma pegawai negeri seperti ini terjadi sepuluh
tahun yang lalu sebelum reformasi. Ini adalah paradigma lama.
Paradigma yang membuat negara kita berlumur dosa KORUPSI, KOLUSI DAN
NEPOTISME. Kalo jaman gini masih ada Pejabat or Pegawai yang berpola
pikir seperti paradigma lama, saya sangat prihatin. Paradigma ini
sudah jauh ditinggalkan oleh negara2 maju di asia yang kental adat
ketimurannnya seperti jepang, korea, taiwan.
Kritis bukan berarti kita tidak sopan, melawan dan stigma negatif
lainnya. Justru kritis membuat kontrol lebih efektif daripada YES
MEN, YES BOSS, ASAL BOS SENANG DSB. Karakter ini seharusnya sudah
ditinggalkan karena lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya.
Karakter seperti ini lebih dekat ke sifat2 penjilat, hipokrit dan
tidak mendidik masyarakat.
Menyenangkan sekali membaca posting dari Mr. Okehok tentang Paradigma Pegawai
Negeri. Saya jadi tertarik untuk menambahkan pendapat saya.. Semoga
berkenan,dan atas tanggapan dari pembaca saya ucapkan terima kasih.
Memang paradigma (lama, atau bisa dibilang "loyal terhadap atasan") seperti itu
sangat terasa sangat kental di lingkungan Pegawai Negeri, namun, bagaimana cara
kita mengatasinya??
MUNGKIN ada banyak PNS yang punya idealisme tinggi (loyal terhadap peraturan)
dan tahu bahwa sebenarnya ada yang salah, tetapi ketika dia hendak melangkah
untuk mengkoreksi kesalahan tersebut hingga tidak lagi terjadi kesalahan,
tersandung oleh rasa takut terhadap atasan mereka, sehingga akhirnya mereka
mengurungkan niatnya. Atau ada pula yang telah menyampaikan hal2 tersebut
kepada atasan mereka, tetapi tidak ada reaksi dari sang atasan.
Menurut saya, idealisme dan loyalitas itu sangat penting. Dan saya rasa
sebenarnya banyak PNS yang memilikinya, tetapi,seharusnya juga ada kompensasi
dari idealisme dan loyalitas tersebut (maaf, bukan hanya gaji atau materi,
tetapi misalkan perhatian yang lebih dari para atasan).
Inilah yang sebenarnya sangat merugikan (bagi semua pihak). Bagaimana jika ada
seorang pegawai yang memiliki idealisme dan loyalitas yang tinggi, tetapi dia
merasa tidak ada kompensasi yang sesuai terhadap apa yang telah mereka
lakukan?? Saya yakin kelamaan mereka akan merasa jenuh terhadap apa yang telah
mereka kerjakan. Yang lebih parah, jika ada yang berpendapat "buat apa susah2
kerja keras, toh sama saja dengan yang kerjanya biasa saja. Gaji sama,
perhatian sama...." .
Lalu apa yang harus dilakukan??
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]