--- In [email protected], wahyu musukhal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Beberapa waktu yang lalu saya dapat pelajaran tentang istilah
"boundary" (maaf, saya tidak dapat menemukan kata yang tepat lebih
untuk ini) dalam analisa psychodynamic. Walaupun materi itu sangat
membingungkan dan membuat pusing,  dikotomi Prodip-Nonprodip yang
hangat diposting beberapa teman milis beberapa waktu terakhir
memberikan pemahaman bagaimana boundary itu eksis dalam setiap
organisasi.
>



Saya setuju dengan pendapat Mas Wahyu Musukhal, bahkan pegawai
penerimaan lokal banyak juga koq yang mumpuni. Barangkali Mas Wahyu
ingat dengan Mas Kemi (Semarang)?  Dia penerimaan lokal juga tapi
kemampuan komputernya tidak semua anak prodip bisa menyaingi. Seingat
saya dulu kalau ada masalah yang berkaitan dengan aplikasi gaji, spm
dll di Semarang yang jadi andalan ya Mas Kemi.
Kalau ada dikotomi antara prodip/non prodip karena perbedaan
kemampuan/pengetahuan IT, wah, bisa cilaka jangan-jangan nanti akan
muncul perbedaan prodip tua (seperti saya) dengan prodip muda
(angkatan 2000-an) karena terus terang kalau dibandingkan dengan anak2
prodip 2000-an saya sudah kalah jauuuuh (orang pegang laptop saja baru
kesampaian di sini di kantor terpencil, internetan rutin juga baru di
sini karena kalau di kantor type A pasti kalah saingan dengan pegawai
yang lain karena jumlahnya ratusan, di sini mah jumlah komputer lebih
banyak daripada jumlah pegawai)
Terus terang waktu mutasi nasional anak prodip yang pertama (akhir
2000-an)di semarang kelihatan sekali mereka ( prodip eks luar jawa)
agak2 sok (sorry neh..!juga minta maaf buat mas moderator eh mas haq
yang barngkali salah satu di antaranya)setelah beberapa lama saya
akhirnya punya kesempatan ngobrol dengan teman prodip '95 eks pindahan
Kupang. Dia cerita stress juga karena kurang kerjaan selama di
Semarang dan merasa kurang di percaya oleh atasannya karena terlalu
sedikitnya pekerjaan yang dipegang. Lalu dia cerita kalau selama di
Kupang anak prodip lumayan berperan.
Kemudian setelah saya ikut mutasi ke daerah terpencil ini akhirnya
saya memahami mengapa rata2 anak prodip yang berada di luar jawa
(terpencil)/ eks luar jawa terlihat (atau merasa) sok. Di luar jawa
apalagi remote area yang dominan memang anak prodip apalagi di kantor
saya yang non prodip pejabat sama honorernya saja. Jadi maklumlah jika
masih ada yang merasa kalau dirinya begitu maha pentingnya sehingga
beranggapan kalau kantor tidak akan jalan tanpa anak prodip. Kalau
saya terus terang tidak berani merasa begitu karena memang saya
gaptek, masalah teknis pekerjaan juga belum pinter dan terutama takut
kuwalat juga siapa tahu satu saat nanti terjadi lompatan tekhnologi
yang begitu tinggi sehingga saya yang sudah tua tidak dapat
mengimbangi sehingga pada akhirnya terpinggirkan sebagaimana pegawai
penerimaan lokal sekarang di mata anak prodip.


Kirim email ke