Beberapa waktu yang lalu saya dapat pelajaran tentang istilah "boundary" (maaf, 
saya tidak dapat menemukan kata yang tepat lebih untuk ini) dalam analisa 
psychodynamic. Walaupun materi itu sangat membingungkan dan membuat pusing,  
dikotomi Prodip-Nonprodip yang hangat diposting beberapa teman milis beberapa 
waktu terakhir memberikan pemahaman bagaimana boundary itu eksis dalam setiap 
organisasi. 

Boundary adalah batas gerak dari subkelompok dalam organisasi/lingkungan yang 
bisa disebabkkan karena perbedaan jabatan, seksi/bidang, usia, agama, dan 
pendidikan. Karena pemahaman orang yang ada di dalamnya, boundary bisa meluas 
dan fleksibel sehingga bersinggunngan dengan boundary yang lain dan orang yang 
ada di dalamnya bisa masuk ke dalam boundary kelompok yang lain. Ada juga 
boundary yang sempit dan kaku sehingga para anggotanya begitu eksklusif and 
"untouchable". 

Saya yakin sepenuhnya bahwa teman-teman prodip bukanlah sekelompok pegawai 
dengan tipikal ber-boundary sempit-kaku yang eksklusif dalam kungkungan paham 
bahwa mereka adalah yang "paling berjasa". Sebagai mantan pesepakbola, saya 
ingin mengutip filosofi permainannya. Sekalipun yang pencetak goal penyebab 
kemenangan hanyalah satu atau dua orang pemain, tapi tidak hanya mereka yang 
berhak mengklaim kemenangan itu.

Begitu juga dengan "kemenangan" organisasi dalam menjalankan visi-misinya, 
walaupun ada yang menganggap bahwa anak-anak prodip yang memungkinkan itu 
terjadi, tidaklah layak kemenangan itu hanya diklaim oleh mereka.

Tidak ada salahnya kita menganggap bahwa kelebih-enerjikan kita adalah sebuah 
kewajaran karena kita (jauh) lebih muda, dan yakinlah bila para pegawai lain 
seusia kita mereka pasti jauh lebih enerjik dari kita.

Ada baiknya kita mensyukuri kelebih-pintaran kita adalah tidak sebanding dengan 
kepintaran para pegawai lainnya jika mereka diberi kesempatan yang sama untuk 
bersekolah sebagaimana jenjang yang sudah kita lalui.

Sudah sewajarnya kita lebih memahami tentang komputer karena kita dibesarkan di 
era yang mendorong kita untuk berinteraksi dengannya dan yakinlah bila pegawai 
yang lain dibesarkan dengan kondisi sama dengan kondisi kita dibesarkan, pasti 
mereka jauh lebih menguasi IT sebagaimana mereka lebih menguasai  "telsroek" 
(mesin hitung dekade 80-an) dibanding kita.

Mohon maaf bila aka kesalahan
Selamat mengejar taqwa yang dijanjikan Alloh. 


       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke