Dear De' Anggie, apa khabar. Ijinkan saya memaparkan ulang diskusi yg sebelumnya pernah dibahas. Tentu saja kapasitas saya neutral, dan bukan "corong" dari kepenting- an manapun.
Kalau kita telisik tentang hakikat perjodohan, maka sudah tersurat bah- wa jodoh itu di tangan sang-Pencipta. Kalau toh pada akhirnya seseo- rang berjodoh dengan sesama pegawai DJPBN,alhamdulillah itulah ke- putusan Tuhan. Orang berjodoh secara prinsip meletakkan dasar rasa saling asih, yang memang tidak ketemu kalau didapukkan dengan alasan materiil atau e- konomis. Bisa jadi pada awalnya orang mempunyai kalkulasi ekonomis, dan keinginan untuk bisa bersama seiring mutasi. Tapi perjalanan akan berkata lain, perhitungan- demi perhitungan, semisal karena anak- anak yang masih kecil, anak- anak yg menginjak dewasa dan butuh perhatian khusus, minimnya prasarana di daerah "r" mertua yg sakit- sakitan, biro- krasi kepindahan yg sulit, dst, memaksa seorang isteri terpisah dari suami tercinta. Saya sepakat sepenuhnya, bahwa cara berkeluarga yg baik adalah ke- luarga yg berada pada satu atap, berkumpul pada saat suka maupun du- ka. Banyak manfaat yg diperoleh dari kebersamaan menyeberangi bah- tera pernikahan, kasih sayang pun akan tercurah secara kodrati, dan tentu akan membentengi dari segala kemungkinan tercela. Namun demi- kian untuk sementara orang, hanya untuk berkumpul dengan keluarga membutuhkan ongkos yg tidak murah. Itu tidak hanya dihadapi oleh satu atau dua orang, tapi mungkin ribuan orang di luar sana. Tekanan ekono- mi yg berat, kontrol yg semata- mata didasarkan pada keadaan pulsa, kasih sayang yg hanya dijembatani sebatas nilai transfer, rupanya sering menjadi benteng yg rapuh bagi keberlangsungan keluarga. Pendidikan dan kasih sayang terhadap anak yg tidak terarah, retaknya mahligai ru- mah tangga karena hadirnya "orang ketiga", dst, menjadi thema yg sa- ngat pelik untuk memetakkan: memilih karir atau keluarga. Sekali lagi ha seperti ini kita kembalikan pada rasa percaya antara suami dan isteri dalam menahkodai rumah tangga. Yang sedang kita perbincangkan saat ini adalah sulitnya birokrasi kepin- dahan seorang isteri mengikuti suami (yg kebetulan satu isntitusi/ sama- sama PNS). Hitung- hitunngan pemetaan SDM pada dasarnya dilandasi oleh kepentingan organisasi. Dan secara logis, memang sulit untuk me- maksakannya menuju misi kepentingan pribadi pegawai. Jika ada kepen- tingan yg sifatnya pribadi, maka secara otomatis ada hak pegawai lain- nya yang telah dirampas. Jika ada seorang isteri yang hendak mengikuti dinas suami di daerah "r", karena situasinya memungkinkan, maka dalam pelaksanaan urusan ba- rangkali lebih mudah djembatani. Tetapi tidak dengan sebaliknya, pe- gawai tersebut akan menemukan hambatan untuk mengikuti suami, ma- nakala memasuki center. Mengurus kepentingan orang yg isi kepalanya semotif memang tidak mudah. Jika dipaksakan bahwa si isteri mengisi formasi di central area, otomatis akan menggeser peluang banyak orang sudah menunggu sekian lama. Arus formasi mutasi yg konsisten tentu a- kan terganggu. De' Anggie yg baik, dari uraian di atas kita bisa melakukan kontemplasi ulang, mana kepentingan keluarga, mana kepentingan karir, dan pada saat yang bersamaan pula lakukan rekalkulasi terhadap kepentingan or- ganisasai ataupun kepentingan banyak orang. Demikian sekedar urun rembug saja, jika ada salah dalam penuturan mohon dimaafkan. Ngarso- dari Kafe "Pasar Tengah" Mbantul _____________________________________________________ ----- Original Message ---- From: de_ 4N991e <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, October 27, 2007 1:02:41 PM Subject: [Forum Prima] Re: Suami-istri Tak Boleh Sekantor Lagi? dear mod, trus gmn nasibnya pasutri yg terlanjur ada? pdhl khan dl mlh dianjurkan,biar mutasinya sXn tp ya... beda pejabat so pasti beda kebijakan... tp kayaknya kok ga baN9etnya,kl bank khan emang ada segi security yg hrs dijaga shg ga boleh nikah dengan tmn ktr lha kl PNS emangnya apa yg mesti diamankan? kl cm pusing dengan pola mutasi,ya kuduna ga gitu donk.... ky'nya pejabat di atas merasa kl istri yg ikut suami itu merepotkan,ga efektif pdhl khan ga b4n9ets deh,yg nm.nya dah lolos seleksi jd pegawai mah berarti dah lolos kualifikasi yg dstandardkan kok gitu jadinya... bukannya istri malah bs mjd penyemangat kerja karena dg berkump.nya keluarga pikiran tenang n so pasti mslh keuangan no problem coz cm 1dapur aza yg dipikir tp kl ga gmn ya.... istri+karyawati tu blm tentu merepotkan,yg nm.nya peg pasti punya sense of responsibility lah trus dmn letak HAMnya... ktnya mbok yao "bisa rumangsa drpd rumangsa bisa" krn jabatan itu ga kekal lho... akan lebih bijak kl dicari win-win solution khan org bijak taat pajak, maksudnya... .. kl g mo direpotin ama peg+istri so ga usah nrima peg cewex aja coz semua impian cewex khan pasti nikah n jd istri yg sholehah atau cari aza peg cew yg lesbong,beres tho.... pejabat pun sebenarnya sangat memahami apa yg dirasakan n pola pikir peg biasa,coz mereka khan pernah mengalaminya soalnya ga munkin mereka langsung jd pejabat begitu aza dengan "ADAKADABRA" cm munkin nm.nya mns alpha n khilaf itu biasa, seharusnya dengan pengetahuan tsb dpt dijalin suatu diskusi hangat agar kesenjangan pola pikir dapat teratasi n kebijaksanaan pejabat dapat diterima baik oleh peg coz selama ini peg cm denger2 doank jd ga utuh infonya so otomatis ga spt yg diharapkan,ato panggil Dik Doank sbg moderatonya so pasti tambah doank...doank. ..doank.. .. tp kl peg biasa mn tau jln pikiran pejabat coz mereka lom pernah jd pejabat so sedikit saran untuk peg biasa jgn jd kacang lupa kulitnya, perubahan untuk kebaikan tentu aza sangat didambakan tp diusahakan pilih cara yg sebijaksana munkin supaya ga banyak yg tersakiti. sory,ga ada maksud melukai siapa pun tp cm berusaha memandang suatu kebijakan dr frame yg lain coz suatu organisasi ga akan sukses kl ga ada hub yg harmonis antara atasan n bawahan,kl bawahan selalu merasa dirugikan gmn mo sukses segala yg dplanning sedemikian rupa yg telah menyita otak, fisik n so pasti dana donk.... regards. 4N91e. ------------ --------- --------- --- Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers [Non-text portions of this message have been removed] __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
