Menurutku sih justru sebaliknya, DJPBN yang perlu nyonto Ditjen lain.
(kalo pun ada yang perlu diconto dari DJPBN mungkin karena tidak adanya atau 
hanya 'sedikit' harga 'tertentu' untuk beberapa jabatan yang jaman dulu 
dianggap 'basah', terutama di Kantor Pusat, sekarang semoga sudah benar-benar 
bersih...).

Mutasi di Ditjen PBN cenderung tidak tepat waktu, boros uang negara, dan tidak  
pas  ditinjau dari substansi kenapa ada mutasi.
Alasannya:
1. Tidak tepat waktu
Pola mutasi selama ini tidak terpola dengan baik. Pas kita tunggu mutasi gak 
datang, pas gak kita tunggu datang. Promosi atau gak promosi yang penting 
mutasi.
Kita tidak bisa memprediksi mutasi karena tidak dituangkan dalam bentuk 
kebijakan resmi, baik waktu maupun tempatnya. Mutasi sebaiknya terpola, kalo 
pun ada bias dari kebijakan mutasi karena kepentingan manajemen, yang bisa 
ditolerir sedikit saja.
Dampak dari mutasi yang tidak terpola mulai terasa kalau kita sudah punya 
anak-anak yang sekolah.

2. Boros Uang Negara
Coba dicek berapa uang keluar untuk membiaya mutasi. Cross cek juga dengan 
kepuasan pegawai yang dimutasi. Ibarat iklan Pertamina, "Anda tidak untung, 
Negara tidak Untung".
Coba kalau uang negara itu dialihkan buat subsidi makanan tambahan untuk 
bayi-bayi  indonesia yang terkena busung lapar yang akhir-akhir banyak terjadi. 
Alangkah mulianya...pejabat DJPBN.

3. Tidak Pas Ditinjau dari Substansi Mutasi

Setahu saya mutasi itu bagian dari pengendalian internal organisasi, yang 
pelaksanaannya harus juga dilihat dari cost and benefitnya. Suatu jabatan yang 
tidak ada rotasi, memang tidak sehat, karena memungkinkan pejabat yang terlalu 
lama ber KKN dengan customer. Namun mutasi juga tidak harus dilakukan dengan 
membuang-buang biaya terlalu besar, saya kira masih ada alternatif. Sementara 
risiko biaya KKN di DJPBN cenderung tidak terlalu besar.
Untuk mengeleminasi risiko KKN tidak harus dengan mutasi, misalnya dengan 
memperbaiki sistem yang ada.

Salam takzim.







[EMAIL PROTECTED] wrote:                               Sistem mutasi anggaran 
mau dijadikan contoh buat ditjen lain? Dijamin
 butuh waktu sangat panjang karena masing2 pasti resisten dgn keadaan yg
 sudah dirasa enak (gw ga mau pake istilah bhs enggris). Mendingan benahi
 internal dulu, buat sistem yg baku dan transparan sbg syarat mutlak
 untuk mendekati keadilan.
 
 Setiap orang punya peran untuk ikut menciptakan keadilan (dan
 ketidakadilan), tinggal keberanian kita untuk menjalankan peran tsb.
 Saya jadi ingat waktu menulis sebuah kolom di majalah Anggaran yg
 berbuntut masalah dgn boss2 di SetDJA. Bukan protes krn ditempatkan di
 jakarta, tapi protes kenapa kerjaan seminggu selesai setengah hari. Kpn2
 saya posting artikelnya kalo fotokopiannya ketemu.
 
 Hadi
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                               

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke