Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Tapi bagaimana kalau dilihat dari sisi lain dari kebijakannya,
misalnya... 
 
Saat pertama saya ditempatkan di luar jawa, saya sempat berontak,
kenapa saya kok di luar jawa? kenapa temen saya yang rangkingnya jauh
dibawah saya kok malah di Jawa? Tahun demi tahun saya lalui terasa
begitu lama. Akhirnya masa mutasi tiba juga. Rolling Mutasi
besar-besaran....."Hidup Mutasi" Hidup Keadilan....I'm back to
Java...Temen-temen yg di Jawa akhirnya merasakan juga jadi Perantau.

ESN:
saya mau tanya sama mas, mas waktu itu berontak karena mau dimutasi ke
luar jawa??atau karena ada fakta bahwa ada seseorang dengan ranking di
bawah mas tetap di jawa??karena itu 2 hal yang berbeda

klo ada yang berontak karena dy dimutasi ke luar jawa, padahal sudah
semestinya, itu adalah masalah keinginan pribadi yang bertentangan
dengan keinginan organisasi :) (jadi masalahnya di pribadi tersebut)

klo ada yang berontak karena ada yang janggal dengan mutasinya, karena
mungkin ada yang lebih berprestasi tapi ditempatkan di luar jawa,
sedangkan ada yang kurang berprestasi (tapi mungkin lebih di
koneksi..hehehe) itu adalah masalah sistem yang kurang jelas :)


Temen2 saya di DJP, DJBC dan DJKN yang sama-sama perantau sempat iri
dengan mutasi kita: "Enak ya bisa masuk  Jawa lagi". walaupun akhirnya
mereka masuk Jawa juga. Tapi mereka tetap juga merasa tidak adil
karena temen mereka (DJP, DJBC dan DJKN) yang di Jawa, tetap aja di
Jawa. Bahkan mereka menilai Mutasi kitalah yang bagus...

Memang tidak ada Survey atau penelitian tentang Pola Mutasi DJPB.
Penilaian yang ada hanya berdasarkan sisi kebijakan dan penilaian
subyektif dari temen2 kita di DJP, DJBC dan DJKN, terlepas dari apakah
mutasi tersebut berdampak atau tidak terhadap pegawai. 

ESN:
klo masalah ini sih, terlihat banget pengaruh "pengin ke jawa"nya
hehehe...bukan menilai sistemnya :) berarti kata-kata "tapi tahukah
Saudara bahwa ternyata Pola Mutasi di
DJPB dinilai paling bagus di seluruh Depkeu" mungkin baru berasal dari
subjektifitas "pengin ke jawa" hehehe...mutasi kan bukan sekedar ke
jawa :) (masih ada pulau2 besar dan tempat2 baik yang lain lho :) ) 
`ini Endonesa bapa' (quote from `Denias' hehehe..)
  

Informasi dari teman kita di Kepegawaian, Mutasi di DJPB akan tetap
Nomaden (berpindah-pindah). Kita akan jadi pelopor bagi Ditjen
lainnya, bukan kita ikut mereka, tapi mereka yang akan ikut kita.
Pembenahan intern sedang dilakukan saat ini , mungkin tentang
kepastian lamanya di satu tempat, kesejahteraan pegawai yang akan
dimutasi, dll.

ESN:
nah ini yang penting, pembenahan intern pada sistem mutasi yang sudah
ada :) bravo!


Saya tidak berpihak kemanapun, saya hanya ingin mengajak kita semua
berpikir realistis tentang mutasi DJPB. Memang inilah kenyataan yang
harus kita hadapi, dari pelaksana sampai pejabat akan ber-Nomaden.
Inilah pilihan kita dan apapun resikonya memang itu konsekuensi yang
harus kita terima.. Tidak ada yang bisa kita lakukan kalau kita masih
tetap bertahan di DJPB, kecuali ikut arus mutasi dengan harapan semoga
di masa akan datang, bukan lagi menjadi "momok" bagi pegawainya. 

ESN:
saya setuju bahwa mutasi adalah konsekwensi, justru itu karena hal
tersebut adalah konsekwensi dibutuhkan sistem yang jelas dan
terkoordinasi , jadi jangan sampe ada orang yang ketinggalan mutasi
sampe terlalu lama (di daerah remote pula) padahal mungkin secara
waktu dan prestasi dia sudah layak dipindahkan (sekali lagi ga harus
ke jawa (indonesia bukan cuma jawa pace'), tapi paling tidak ke tempat
yang tidak remote lagi), saya rasa ini penting lho untuk semangat
kinerja para pegawai :) dan adanya sistem yang baik dan jelas (dan
disosialisasikan dengan baik) tentunya akan semakin meneguhkan hati
para pegawai DJPB, dan bisa memperkecil keluhan2 yang timbul. :) 

  
Salam Damai dari Serui

ESN


Kirim email ke