Mas MI 84213, suatu saat, dalam penerbangan dr Jakarta
ke PLK, sebelah saya duduk, Kepala Kejaksaan di
Sukamara, baru beberapa bulan di lantik. Punya DIPA,
tp tidak punya staf yg mengelola. Katanya,
perjalanannya bakal panjang dan melelahkan, krn dr PLK
waktu tempuh 1 malam ke Pangkalan Bun, disambung lagi
perjalanan melalui sungai. Hari lain sy ketemu,
pejabat dr Bappeda Kab. Lamandau. menceritakan
perjalanan ke Nanga Bulik, ibu kota Kab Lamandau. Juga
sama. Menyedihkan. Dari perjalanan darat, harus di
sambung lagi lewat sungai. Jadi saya belum sempat
kesana, krn pertimbangan waktu tempuh  dan phisik.
Perjl ke Gunung Mas, tempo hari kami lakukan hari
minggu. Sebenarnya 2 kabupaten yg kami tempuh, hari
Sabtu sehari sebelumnya, kami di Kuala Kapuas, tidak
ada cerita pilu disana.

Maaf untuk "Jeritan hatiku" kl ceritanya kepanjangan,
shg bosan membacanya.  Mas moderator, mungkin
"sungkan" memotongnya. Maaf, mm ceritanya panjang,
seperti panjangnya perjalanan. Jd bandwitch yg
terpakai banyak, maaf.

Saya hanya ingin menceritakan ironi2 yg ada, spt di
kemukakan mas Wheezley dan ms Jn handsm. Siapa tahu
ada yg mendengar dan bersimpati. Mm begitu adanya.

Dalam perjalanan itu, sayup-sayup saya mendengar lagu
The Sound(s) of Silence, sebuah lagu yg di tulis oleh
Paul Simon, yg menggambarkan emosi traumatis yg
dirasakan rakyat Amerika kala itu, ketika tiba-tiba
mereka harus kehilangan pimpinan visionair mereka John
F. Kennedy. Krn mati di tembak. Mereka
terkesima.Mereka tidak percaya.  Mereka tidak bisa
berkata apa-apa. Mereka tak berdaya!
Bait yg sempat saya dengar, 
 
"And in the naked light I saw, ten thousand people,
maybe more. People talking without speaking, people
hearing without listening, people writing song that
voices never share and no one dare, disturb the sound
of silence...... Sama dg di borneo, masyarakat jg
trauma, tidak percaya apa yg terjadi di sekelilingnya,
tp jg tidak bisa berkata apa2. Mereka diam dalam
sunyi, diam dalam sepi. Padahal kata Duo Simon and
Garfunkel, di bait-bait akhir lagunya..... "Silence
like a cancer grows"....tp dia pasrah... "but my words
like silent raindrops fell, and echoed in the well of
silence..."

Trimakasih.
Wassalam,
Subasita. 


--- mi_84213 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Terima kasih atas laporan pandangan matanya. Memang
> nggak bs
> dibandingkan infrastruktur di jawa dg di kalimantan.
> Di borneo  banyak
> sungai tapi miskin jembatan. Di jakarta banyak
> jembatan sedikit
> sungai. Katanya buat nyebrang tapi org pada males.
> Di jakarta orang
> sunyi mikir diri sendiri. Di pedalaman emang sunyi
> beneran. Ironinya
> disebagian wilayah republik ini nyala lampu listrik
> menjadi barang
> langka, tapi di jakarta ratusan mall dan pusat
> belanja menghamburkan
> ratusan ribu watt semalam. Kalau dipake buat
> penerangan di pedalaman
> bisa untuk ratusan desa barangkali.
> 
> Selamat menikmati perjalanan. Kapan Pak giliran 
> Sukamara dan Lamandau.
> 
> 
> 
> 
> 



      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke