--- In [email protected], Takwa Nurdin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Setelah reformasi birokrasi di Depkeu khususnya di DJPB bergulir
diiringi dengan kenaikan renumerasi TKPKN tentunya ada lompatan besar
dari jajaran DJPB yang harusnya ada luncuran yang signifikan terhadap
perkembangan Pelayanan kepada masyarakat, melihat kecenderungan
tersebut mungkin ini penilaian dari saya secara objektif (atau tidak
terserah anda menilainya) ada lompatan yang stagnan.. (artinya
melompat lompat kaya kuda rodeo tapi cuma ditempat itu-itu aja)
kembali kepada kisah lama yang membuat malu-ku (malu diriku). Dialawi
'kurang kontrol' dari pimpinan (atau meminjam istilah bapak Suba Sita
'tahu tapi pura-pura tidak tahu') yang menyelimuti kisah kisah pilu
mencoreng reformasi birokrasi DJPB. 

Beberapa hari yang lalu saya baca di harian lokal Kalteng Pos disitu
di rubrik tanggapan pembaca ada tanggapan lewat sms yg ditujukan
kepada KPPN/ Kanwil Anggaran (Maksudnya mungkin kanwil djpb). Isinya
menyayangkan masih adanya praktik2 yg tidak baik. Katanya sdh
disosialisasikan tdk terima sesuatu dlm bentuk apapun dr satker.
Nyatanya masih ada yg menerima.

Ini memang budaya yg sudah mengakar kuat. Perlu kekuatan ekstra untuk
melawannya. Dan Kekuatan itu ada di pundak pejabat level esl 4 ke
atas. para staf hanya bisa bertindak sendiri2 dlm melawan budaya kkn
ini. Paling banter menyebar opini entah itu lewat obrolan di kantor
atau lewat milist ini. Sudah saatnya segenap komponen yg menginginkan
hidup bersih utk bersatu. Mari kita galang opini lawan kkn. Saatnya
bertindak.


Kirim email ke