Daripada pusing-pusing mikirin mutasi yang belum jelas juntrungannya...
mungkin kita bisa sharing pemikiran untuk masalah yang lebih Makro. Saya
yakin rekan-2 dapat memberikan masukan yang berguna, terutama dari
bapak-bapak/ibu-2 yang sudah banyak makan asam garam kehidupan di Depkeu
ini.

Latar Belakang.

Realisasi pertumbuhan ekonomi semester I APBN 2007 yang berakhir pada Juni
diperkirakan hanya 6,0 persen. Penyerapan belanja modal pada tahun anggaran*
* 2007 masih rendah. Setelah melampaui delapan bulan dalam tahun ini,
belanja modal yang terserap baru sebesar 30,7 persen dari total alokasi **
anggaran** **sebesar Rp 68,3 triliun Dari anggaran** belanja modal dalam
RAPBN P2007 sebesar Rp 68,3 triliun baru sebesar Rp 20,96 triliun. Dengan
demikian dalam tiga bulan terakhir ini masih ada Rp 47,34 triliun dana
belanja modal yang mesti diserap.  (dalam Pikiran Rakyat).

Penyerapan anggaran yang rendah pada semester I seperti yang terjadi pada
tahun-tahun sebelumnya biasanya sebagian besar anggaran baru terealisasikan
menjelang akhir tahun anggaran. Satker berlomba-lomba untuk "menyelesaikan
proyeknya" dan meminta pencairan dananya  menjelang akhir tahun anggaran,
terbukti dengan semakin meningkatnya permintaan pencairan dana (di KPPN
dapat lihat dari jumlah SP2D baik dari jumlah maupun nilai nominalnya) yang
biasanya memuncak pada akhir tutup tahun anggaran. Pola  seperti ini terus
terjadi secara berulang-ulang setiap tahun.

Hal ini tentunya berdampak tidak baik terhadap kestabilan tingkat inflasi
yang selama ini dijaga ketat oleh Bank Indonesia. Jumlah uang yang beredar
pada akhir tahun akan melonjak drastis. Apalagi pada akhir tahun juga
menghadapi lebaran,  natal dan tahun baru dimana pada saat-saat tersebut
pola konsumsi masyarakat biasanya akan melonjak jauh diatas hari-hari
normal. Perekonomian akan menghadapi over heating/pemanasan yang drastis.
Dengan kondisi tersebut segala asumsi ekonomi yang sudah ditetapkan pada
tiap-tiap tahun anggaran akhirnya akan meleset. Akibatnya tentu berdampak
luas pada kinerja ekonomi indonesia, apalagi di negara ini peranan sektor
pemerintah (G) masih sangat dominan dalam memacu pertumbuhan ekonomi
dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal ini tentunya tidak bagus bagi
ekonomi negara kita.

Masalahnya adalah bagaimana solusinya nich...
tolong donk, sebagai tambahan masukan untuk tulisan yang akan saya
buat....Thanks..


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke