Daya serap anggaran udah menjadi penyakit yang menahun, dari dulu
kecenderungan pencairan dana banyak meluber pada triwulan ke IV,
banyak hal yang bisa menyebabkanya. Contoh kasus untuk pengadaan
belanja modal sebagaimana diungkapkan Saudara Hendra, salah satu
penyebabnya adalah proses pengadaan/pelelangan yang terlambat.

Proses tender yang memakan waktu yang lama, dari masa sebelum lelang
di mulai dimana panitian lelang harus menyusun HPS sampai dengan waktu
 pelaksanaan lelang memakan waktu 2 bulanan lebih. Disisi lain ada
kehatian-hatian dari panitia lelang jangan sampai nabrak Keppres 80.

Mengenai pengadaan belanja modal, Perpres perubahan Keppres 80 udah
memfasilitasi bahwa pengadaan barang dan jasa bisa dilakukan sebelum
tahun anggaran yang akan datang dimulai, dengan keyakinan bahwa dana
tersebut pasti tersedia dan penandatanganan kontrak tetap dilakukan
pada TA yang akan datang. Pertanyaannya, dalam bentuk apakah jaminan
yang bisa diberikan oleh Depkeu atau Bappenas mengenai hal ini? Jangan
sampai tender dah jalan, pemenang dah ditetapkan, pas DIPA turun
dananya di cut off he he

Pertanyaan kedua yang saya ajukan? sering kita dengar pernyataan bahwa
pengeluaran pemerintah sampai sekarang sangat diperlukan untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi. Teori rumus Pendapatan Nasional adalah
Y = C+ G + I + Ekspor Netto. Namun pengeluaran berkualitas yang
bagaimana yang bisa mendorong faktor penggerak ekonomi? Kalo dilihat
bahwa beban pengeluaran pemerintah masih untuk membayar cicilan hutang
dan bunga apakah itu bisa menggerakkan ekonomi? 

Ok, itu peninggalan masa lalu hutang2nya, sekarang kita harus bisa
memanfaatkan belanja modal yang terbatas ini untuk menggerak ekonomi.
Bagaimana caranya? Di dalam teori analisa Input Output, dijelaskan
bahwa sektor-sektor ekonomi saling terkait dengan sektor ekonomi
lainnya. Ada keterkaitan kedepan (forward lingkage) dan keterkaitan ke
belakang (bakcward lingkage). 

Forward lingkage berarti, setiap tambahan 1 unit output akan mendorong
sektor-sektor di depannya untuk maju, ini biasanya terjadi pada sektor
ekonomi hulu. Backward lingkage artinya, setiap kenaikan 1 unit output
akan membuat sektor ekonomi tersebut menarik sektor2 lainnya untuk
naik karena dibutuhkan pasokannya (sektor hilir).

Jadi, dengan memetakan mana sektor ekonomi di Indonesia yang mempunyai
nilai forward atau backward terbesar, peran G kita dorong kesana,
karena dengan BM yang diarahkan disana akan mendorong sektor-sektor
lainnya ikut naik. 

Kelemahan dari analisa ini, sifatnya jangka menengah. Jadi, dengan BM
terbatas harus pintar2 memilih arah pengeluaran. Itu pendapat saya.   


salam
Irvan



Kirim email ke