saya jadi inget waktu masih di Subdit APHLN dan kemudian berubah jadi Dit. EAS (@ Ditjen PU) disitu kadang kalo' bikin laporan, rasa ngeri itu muncul... gimana ndak, lha utang kita itu kalo' dikonversi jadi rupiah, rasanya mak-nyuuuuuuuuuuuusssssss terus bikin nyut-nyutan...
ngitung, ini istilahnya apa... miliar ? triliun ? biliun ? atau apa yah ? lha dalam angka dollar amerika aja udah nyentuh 1000 juta dolar lebih pernah pula, bikin surat perintah pembayaran utang luar negeri... nilainya jutaan dolar, juga jutaan euro yang saya inget, sebelum kembali ke PBN terakhir bikin nilainya 1juta euro lebih... (bah..., sekelas saya bikin cek 1 juta euro) ini pasti pernah dialami rekan2 yang pernah bertugas disana... soal pahlawan pengelola utang ? saya kok pesimis... kenapa ? schedule utang kita itu udah fix... mau dibayar tanggal berapa, berapa kali, besar bunganya berapa, amortisasinya berapa... biaya lain-lainnya berapa... apanya yang harus dikelola ? lha wong di Loan Agreement itu ada semua... belum bisalah disebut sebagai pahlawan. tiap tahun, sebelum jadi APBN, rencana pinjaman itu sudah beredar dari World Bank ke Depkeu Bappenas terlibat, Departemen Teknis sih ho-oh ho-oh saja... yang penting masuk buku-biru. jadi, kapan negeri ini mau bebas dari utang ? tiap tahun saja berapa besar pinjaman baru yang disetujui Tampaknya direktorat jenderal sebelah itu belum juga mau serius menggarap dan melakukan prioritas atas pinjaman-pinjaman LN mana yang bener2 penting.. urgent... jika serius, tentunya utang LN kita tidak akan bertambah banyak, melainkan berkurang drastis... padahal metode pengurangan utang itu banyak yang mungkin dan masuk akal dilakukan seperti debt swap dan penghapusan utang. masih melihat SUN sebagai yang utama...dan terus-terusan berhutang untung belum default... (walo ndak mungkin yah, default) kalo' kaya' gini...sulit menaikkan gaji PNS 5 kali lipat. tapi, soal piutang ... negeri ini memang baik kok... saya ingat, ada utusan dari negara sebelah (sama-sama ASEAN kok) datang ke kantor... tanya (udah saya translate) : "mas, kalo' saya mau bayar utang dimana yah ?, negara saya dulu dibantu indonesia. dipinjemin duit. sekarang negara kami udah mampu, makanya kami mau bayar" yang ditanya jawab apa ? ndak ada...mikir keras... lha kita ndak ada catatan itu kok..kalo' bener2 ada, terus berarti setor saja ke KPPN yah ? tapi, nanti di KPPN ditolak... bingung setor PNBP kah ? terus, saya lupa... saya kadang mikir, kita itu ndak perlu utang... kalo' alasannya nutup defisit, lihat saja penyerapan APBN per oktober 2007 ini berapa persen ? adakah 70% ? paling-paling tiap departemen baru menyerap 30-an% atau mungkin perlu dibikin survey internal di PBN, berapa persen kira-kira APBN yang tepat sasaran (walau kita sudah tidak punya kekuasaan DOELMATIG, toh namanya juga survey) tapi kan nanti bisa dijadikan masukan ke Ibu Menteri kita. bolehlah ditjen sebelah punya kekuasaan menentukan anggaran, tapi ditjen PBN ini kan yang tahu realitas di lapangan. sapa tau didengerin...itung-itung sebagai kontribusi kita... jangan-jangan bocornya lebih dari yang diperkirakan begawan ekonomi kita ? lebih dari 30% duh... (elus...elus...elus.. dada) - Sent from my JamurBerry(r) non-wireless device jamur_kuping h4nafi [at] depkeu.go.id ym : h4nafi ---- This e-mail may contain trade secrets or privileged, undisclosed, or otherwise confidential information. If you have received this e-mail in error, you are hereby notified that any review, copying, or distribution of it is strictly prohibited. Please inform us immediately and destroy the original transmittal. Thank you for your cooperation.
