Penciptaan utang luar negeri yang jumlahnya di luar daya pikul ekonomi dapat
menyebabkan ekonomi Indonesia terpuruk. Namun di lain pihak kalau kebutuhan
dana untuk menggerakkan ekonomi tidak tersedia di dalam negeri, pengelola
perusahaan akan mencari alternatif lain seperti halnya meminjam dari luar
negeri atau menciptakan utang terhadap pihak luar negeri........jadi memang
udah kebutuhan Bro...

Penyebabnya terjadinya utang selama ini salah satunya akibat Kelemahan dalam
perencanaan proyek, yang sumber pembiayaannya dari utang luar negeri,
menyebabkan negara donor (*kreditor*) sering mendikte Indonesia untuk
menyusun proyek yang sesuai dengan kepentingannya. Sebagai pemilik dana,
dorongan atau kepentingan kreditor masih dominan dengan memanfaatkan
kelemahan beberapa departemen dalam penyiapan proyek. bahkan menurut Menteri
Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta (*dalam
Suara Pembaruan, 3 /2/2007*), kita didikte oleh negara donor/ kreditor
sampai masuk dalam usulan dan perencanaan proyek.........penjajahan model
baru nich...

Ada beberapa alternatif lain untuk menurunkan beban utang negara ini,
diantaranya, melalui penukaran utang dengan program pembangunan (*debt swap*),
seperti penanggulangan kemiskinan dan lingkungan hidup.Namun sebenarnya
utang yang bisa dialihkan/*debt swap* itupun masih terlalu kecil porsinya
bila dibandingkan dengan porsi utang secara keseluruhan. Mungkin perlu
solusi  lain yang radikal  dan  baru dalam menyelesaikan persoalan beban
utang luar negeri. Pengurangan jumlah utang (*debt stock*) merupakan pilihan
satu-satunya.  Penghapusan jumlah utang atau *debt
cancellation,*sebagaimana yang didesakkan oleh kelompok organisasi
masyarakat sipil di
sejumlah negara, patut ditempuh Pemerintah. Hal ini dapat dilakukan melalui
pengadilan internasional atau *arbitrase internasional* dengan latar
belakang adanya "utang haram" (*odious debt*) pada setiap utang yang kini
dibebankan pada rakyat.....bisa/berani nggak ya,....kayaknya....???

(Hendra, di Marisa)


Pada tanggal 22/11/07, Hermawan Moudy <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>   Udah aja kurangin pinjaman LN yang bikin rugi, sekarang kan kita punya
> banyak alternatif ada SUN, mau narik duit orang asing juga bisa lewat SUN
> yang listing di luar (global bond?), sebentar lagi ada SBSN, belom lagi
> pembiayaan dalam negeri untuk proyek2 yg generate income. Kayaknya DJPU udah
> punya itung-itungan cost of fund yg paling murah untuk cari pinjaman
> multi/bi lateral. kalo emang mahal, syaratnya berbelit-belit, ikut campur
> politik DN, tinggalin aja tuh ADB, WB atau yng lain, gantian kita dong yang
> dikejar2 dan ditawarin biaya pinjaman murah, atau mungkin ada pertimbangan
> politik LN nya juga yg tidak bisa saya tangkap disini?
> Dari postingan rekans ex Dit.DLN/PPHLN ternyata selama ini cuma ngerjain
> administrasi doang yah (alias nonton orang Bappenas-Dep. Sektoral-Lembaga
> Donor saling bersalam-salaman)? kirain dulu itu punya portfolio strategy
> buat membiayai proyek yang gak dibiayai APBN. (CMIIW)
>
> cheers,
> moudy
>
> ----- Original Message ----
> From: sry_pbun <[EMAIL PROTECTED] <sry_pbun%40yahoo.co.id>>
> To: [email protected] <forum-prima%40yahoogroups.com>
> Sent: Thursday, November 22, 2007 3:12:11 PM
> Subject: [Forum Prima] Re: ngobrol soal utang :(( kemudian soal realisasi
> APBN
>
> --- In forum-prima@ yahoogroups. com, jamur_kuping <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >wah..jadi ikut nimbrung nich...
> bener kata mas jamur_kuping. ..kebetulan dulu saya jg pernah di
> kanpus..(bukan kampus lho ya...)dpt bagian 'menadahkan tangan' kepada
> lender..habis saya kebagian membuat w/a (withdrawal aplication.. kalo
> salah eja tolong maklumi ya....orang suriname je..hehehe) untuk
> replenishment special account/reksus yang
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke