--- In [email protected], Hermawan Moudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: atau mungkin ada pertimbangan politik LN nya juga yg tidak bisa saya tangkap disini? Dari postingan rekans ex Dit.DLN/PPHLN ternyata selama ini cuma ngerjain administrasi doang yah (alias nonton orang Bappenas-Dep. Sektoral-Lembaga Donor saling bersalam-salaman)? kirain dulu itu punya portfolio strategy buat membiayai proyek yang gak dibiayai APBN. ( cheers, moudy
Uraian panjang lebar baik teknis maupun nonteknis seperti yang saya maksudkan dalam tulisan saya " Re: S-628 Vs Perampingan DJPb dan Utang Luar Negeri" dalam thema ini sebenarnya sudah cukup memadai. Tinggal adanya "political will" dari yang memegang kebijakan. Saya kira kalau kita kehilangan momentum seperti yg sudah-sudah, seperti orang yang teriak-teriak sampai serak. Tetapi yang diteriaki berlalu sambil tersenyum. Seolah-olah tidak ada orang yang berbicara sedikitpun. Mental "dupang bujang" ini memang penyakit. Seperti orang bedemo bukan diartikan sebagai kenginginan untuk berdialog. Nanti ketika krisis 1997 terjadi ya seperti yg sudah-sudah juga yaitu skema "Jaring Pengaman Sosial" atau (JPS)dengan istilah yg berbeda-beda karena hanya itu jurus ampuh siapapun orangnya yang sedang duduk di tampuk kekuasaan. Pesoalan lain mampukah kita keluar dari "energi minimal" (Socrates) yaitu energi yg digunakan seolah-olah tampak dilihat pihak lain seperti orang sedang bekerja sungguh-sungguh keras, serius kadang kekurangan waktu dalam bekerja. tetapi sebenarnya layaknya ikan yang berenang dan bernafas dalam air terbelenggu rutinitas dan keasyikan kerja. Mampukah yg sudah mendapat grade tinggi atau dijanjikan grade tinggi yg kini tengah menempuh bea siswa dalam dan luar negeri mendapatkan "rumah" tempat kembali tidak dapat dikenali lagi. "lahan garapan" sudah tak produktif lagi untuk ditanami. Sekarang tinggal kemampuan kita memanfaatkan momentum itu. beranikah kita? Dalam forum diskusi yang dihadiri para mantan menteri keuangan Frand Seda mengatakan "kalau konsesi untuk menghapusan utang dengan meminta kita mengirimkan tentara kita ke irak memang kita mau?" dan ternyata kita sampai sekarang lebih memilih "tentara-tentara pilihan" untuk menghadapinya, tanpa rakyat banyak mengetahuinya. Efektipkah itu? Saya hanya mengingatkan kita semua bahwa "kebaikan yang tidak tersusun rapi akan dengan mudah dikalahkan kejahatan yang tersusun dengan rapi" Kebaikkan yang selalu menang cuma ada di film-film "hero" seperti Batman, Spiderman, juga Superman sayangnya itupun dongengan ciptaan Amerika, yang cukup membuat kita terbuai.
