Ikan-Ikan dan Reformasi itu

Melanjutkan diskusi tentang karakter manusia yang identik dengan
karakteristik beberapa jenis ikan di laut, postingan ini bermaksud
melihat reaksi ikan-ikan laut tersebut bila dimasukkan ke dalam
`akuarium reformasi'.

1.Ikan teri

Orang-orang berkarakter ikan teri sangat tergantung pada figur dan
fenomena yang ada dihadapannya. Ketidakmampuan melawan arus membuat
mereka cenderung menggunakan insting untuk menilai apakah arus
perubahan yang dihadapi menguntungkan atau merugikan mereka. Namun,
reaksi pertama mereka ketika menghadapi peubahan itu adalah 'spontan
kocar-kacir' sebagaimana reaksi ikan teri ketika menghadapi hadangan
ikan besar yang menghalangi arus yang mereka ikuti. Jika ikan besar
dihadapan mereka membuka  mulut besar-besar, siap untuk memangsa,
mereka terus lari menjauh. Sebaliknya, bila ikan besar itu hanyalah
pemakan plankton-plakton kecil, mereka akan mengekor ikan besar itu
untuk turut mendapatkan plankton yang juga makanan pa(v/f?)orit mereka.

2.Ikan lumba-lumba

Orang-orang dengan karakter lumba-lumba akan memanfaatkan momentum
reformasi untuk mengokohkan eksistensi diri dengan mengawal perubahan
itu kepada kondisi yang lebih baik sebagaimana dua ekor lumba-lumba di
Gelanggang Samudra Ancol (GSA) yang selalu melakukan adegan mengawal
salah seorang `performer' yang berenang memegangi sirip atas mereka. 

Orang-orang berkarakter ini juga tidak takut menghadapi rintangan
menghadang walaupun pengorbanan yang dipertaruhkan sangat besar demi
tujuan mulia. Itulah yang dilakukan para lumba-lumba di GSA yang
berani melompati rintangan api menyala untuk memberikan keceian kepada
penonton yang hadir. Orang-orang seperti ini tidak peduli apakah
perubahan itu memberi kebaikan finansial atau tidak sepanjang arah
yang lebih baik sebagai tujuan. Sekiranya dengan arah tersebut mereka
diberikan kebaikan finansial, mereka mensyukurinya dengan beretos
kerja lebih tinggi, sebagaimana para lumba-lumba di GSA yang
menghargai pemberian makan dari tangan pelatih mereka sebagai pemicu
untuk beratraksi lebih baik.

3.Ikan hiu

Dengan sifatnya yang agresif, orang-orang berkrakter ikan hiu,
cenderung kasak-kusuk di tengah keriuhan arus perubahan. Mereka
melihat kocar-kacirnya ikan-ikan teri sebagai peluang untuk
mendapatkan santapan yang lebih besar, tanpa perlu bekerja lebih
keras. Hanya sesaat saja mereka menghentikan aksinya sebagai reaksi
kekagetan. Setelah itu, `pesta' terus berlanjut, bahkan bisa semakin
mengenyangkan karena mendapat sumber `pesta' dari efek perubahan. 

Sebagai predator tingka atas, ikan hiu tahu betul bahwa hanya
ikan-ikan kecil yang protes terhadap kerakusannya, dan tidak ada ikan
besar yang suka memangsanya kecuali makhluk penuh akal, manusia
(itupun dengan penuh resiko). Demikian juga dengan orang berkarakter
ikan hiu. Mereka tahu bahwa hanya segelintir orang yang mau dan berani
menyuarakan tindak-tanduk ketidakbaikannya, itupun hanya kelompok yang
`tidak memiliki power'. 
 
Orang-orang berkarakter ikan hiu baru menghentikan aksinya bila ada
sekelompok orang yang memiliki keinginan untuk memburu mereka dengan
berbagai macam alat dan cara, seperti para pemburu hiu yang
menggunalan alat mulai dari kail, tombak, jaring, bahkan senapan.

4.Cumi-cumi

Cumi-cumi tidak terlalu meyukai perubahan karena integritasnya
memegang keyakinan dalam kebaikan dan keburukan. Raeksi pertama mereka
terhadap perubahan adalah menyelimuti diri rapat-rapat dengan tinta
hitamnya. Sampai-sampai perubahannya dari bangkai menjadi `tumis
cumi-cumi' di atas penggorengan pun, tinta hitamnya tetap keluar dan
menghiasi kuah masakan.

Orang berkarakter cumi-cumi akan ber-jaim (jaga image) beberapa saat
sampai kemudian diyakini bahwa lingkungan disekitarnya mulai lepas
dari keriuhan. Mereka menjadikan tahapan awal perubahan sebagai saat
`menunggu' dan `merenung' diri untuk menentukan haluan, apakah tetap
di belakang kelompok ikan hiu atau masuk barisan ikan lumba-lumba, dan
sebaliknya. 
  
Wallohu a'lam 

Kirim email ke