Sri Mulyani mendorong, jika ada karyawannya yang memang ingin menambah ilmu. 
Namun, Menkeu meminta karyawannya jangan sampai mengambil institusi bodong. 
Sehingga, mereka terkesan melakukan pembohongan. "Ambil gelar Phd di luar 
negeri, tapi alamat tempat kuliahnya cuma ruko," sindir Menkeu. (rhs) 
----------------------------------------------------------------------------------
   
  Membaca berita ini membuat saya sedikit lega, dan mudah2an kebijakan Menteri 
ini di-amini dan dilaksanakan oleh jajaran pejabat di bawahnya. Mudah2an kabel 
antara Bu Menkeu dan jajaran di bawahnya nggak ada yang "keinjek" atau 
sambungannya "tulalit" sehingga apa yang bagus dari top manajemen dapat juga 
dilaksanakan dengan bagus para manajer di bawahnya.
   
  Bukan hanya jurusannya yang harus dipertanyakan apakah sesuai atau tidak 
dengan core bisnis Depkeu, tetapi juga "dimana" dan "cara" seseorang 
mendapatkan gelar S1,S2.S3 juga sangat penting. Walaupun seseorang kuliah 
dengan akreditasi B dan biaya yang murah, tapi dengan proses belajar-mengajar 
yang dapat dipertanggungjawabkan akan dihasilkan kualitas keilmuan yang bisa 
dipertanggungjawabkan pula. Sebaliknya walaupun kuliah di tempat terkenal dan 
mahal sekalipun, kalau yang dipentingkan hanya 'bayaran ini-itunya yang beres" 
tanpa proses yang dipertanggungjawabkan, maka hasilnya akan sangat memalukan!!!
   
  Bahkan Pak Siswo dalam suatu seminar dengan peserta pegawai DJPBN tugas 
belajar STAN 24 januari lalu sempat melontarkan tentang keluhan Pejabat dari 
perguruan tinggi negeri terkenal mengenai program kerjasama (beasiswa) dengan 
institusi pemerintah (pelat merah) yang untuk mengakomodasinya harus menurunkan 
standar akademik dari yang seharusnya. Thanx God, menurut Pak Siswo pejabat PTN 
tersebut merasa puas dengan pegawai DJPBN yang dikirimkan belajar di tempatnya 
karena memiliki kualitas yang bagus.
   
  Kuliah asal2an (Bodong) menurut saya adalah kuliah yang tidak menghargai 
aspek keilmuan. Padahal ALLAH SWT sangat menjunjung tinggi dan memuliakannya 
(ingat Surat Mujadilah???). Dengan hanya berbekal uang dalam jumlah yang 
relatif (tergantung institusinya) maka gelar S1, S2 dan S3 dapat dengan mudah 
didapat.
   
  Sebenarnya sudah sejak pertama kali kerja dulu hal ini (kuliah asal2an) sudah 
menjadi kekhawatiran saya melihat kenyataan di lapangan. Bahkan saya berniat 
menyampaikannya kepada Bu Menteri dalam suatu kesempatan, tetapi karena masalah 
birokrasi, protokoler dan menjaga image bawahan Bu Menteri, saya tidak 
mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan masalah ini.
   
  Dan akhirnya karena kesal, saya membuat postingan yang saya ambil dari 
Editorial Media Indonesia yang menyoroti hal yang sama (kuliah bodong) dengan 
judul "Sarjana Sampah". Ternyata postingan tersebut direspon dengan sangat riuh 
baik pro maupun kontra. Untuk yang merasa tersinggung dengan postingan "Sarjana 
Sampah" tersebut, pada kesempatan ini saya mohon maaf yang sebesarnya. Bukan 
maksud saya untuk mencari masalah ataupun menjelekkan seseorang atau kelompok, 
tetapi hal itu merupakan kenyataan yg saya jumpai selama 10 tahun bekerja di 
DJPBN. Kalau hal ini dibiarkan saja, maka akan sangat merugikan institusi DJPBN 
yg merupakan "rumah kita". Bukankah kita tidak akan senang bila ada "sampah" 
yang masuk ke dalam rumah kita??? Kita pasti akan berusaha menyapunya, 
membuangnya ke tempat sampah, bahkan mengepel lantai dengan pembasmi kuman agar 
bekas dan baunya tidak tertinggal di dalam rumah. Kita pasti ingin rumah kita 
(DJPBN khususnya dan DEPKEU pada umumnya) bersih dari
 "segala sampah" termasuk KKN dan sebagainya. Kita pasti bangga kalo rumah kita 
bersih dan mengkilat walaupun tak semewah dan selengkap rumah orang lain. 
   
  Salam:) 
  (yang menanti, mendukung dan berusaha berpartisipasi untuk kebersihan rumah 
kita)


"Kill Corruption for Our Kids Better Future" 
www.amirsyah,blogspot.com 
www.azzahku.multiply.com
       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke