Horaaasss...

Gong xi..Gong xi semuanya...

hmm...banyak juga yang ribut mengenai cuti bersama yang 'tiba-tiba,
seenaknya, mendadak, ujug-ujug' diralat..
hehe..saya yakin yang pada ribut bukan karena dibatalinnya (hasil
akhir, karena klo dilihat banyak yang lebih suka cuti bersama ini
dihilangkan saja)tapi karena prosesnya dan caranya, 'mbok klo mau
membatalkan atau meralat sesuatu yang berefek pada kemashalatan
masyarakat banyak jangan terlalu mendadak diputuskan..

tapi ya sudahlah jangankan meralat sebuah keputusan, pembatalan dengan
tiba2 juga sudah pernah rakyat djpb(walau ga semuanya sih, tapi
melibatkan waktu, materi, dan kesempatan bagi sekitar 70an orang)
alami kok..hehehe, jadi biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita semua
(yang punya jabatan atau yang belum punya dan yang akan menjabat)klo
"tidak semua kejutan menyenangkan..." :)


ok, saya juga mau ngajakin para penghuni forum Prima untuk jumatan
(note:ini hanya istilah yang coba saya pakai :))..setelah rekan-rekan
muslim telah menunaikan sholat jumat (di tempat saya udah duluan,
karena WIT), tentunya ngga ada salahnya kita jumatan juga karena
perenungan tentunya milik kita semua :)

jujur aja email ini forwardan(baru baca td pagi) dari milis PMK STAN
(Persekutuan Mahasiswa Kristen STAN), tapi pengirimnya mengatakan
email ini diambil dari sebuah milis muslim :), suatu bukti bahwa
memang perenungan adalah milik semua orang...dan saya rasa isinya
cocok untuk kita (para birokrat dan para manusia yang beragama, saya
kurang tau apakah ada yang atheis disini :))
dan yang paling penting juga cocok dengan semangat Reformasi Birokrasi
(ceileeehh..tapi setidaknya ini menurut gw)

Semoga bermanfaat

ESN

----------

Beragama tapi Korupsi     
(Kutipan pitutur Emha Ainun Najib)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun",
kata sang penanya, 
"misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga
pilihan, yang harus dipilih salah satu: 
pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau
mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, 
mana yang sampeyan pilih?". Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang
kecelakaan". "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" , 
kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak
ngajak-ngajak" , 
katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang
yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong,
Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada  diri orang yang
kecelakaan itu. 
Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan:
kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. 
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana
dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, 
membaca Al-Qur'an, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua,
orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal Al-Qur'an, 
menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan
mengobarkan semangat permusuhan. 
Ketiga , orang yang tidak shalat, tidak membaca Al-Qur'an, tapi suka
beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi
uang negara, itu namanya membangun neraka, 
bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan
membaca Al-Qur'an, tapi menginjak-injaknya. 
Kalau korupsi uang r akyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi
menginjak Tuhan. 
Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang,
itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Qur'an.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya.
Standar kesalehan seseorang tidak melulu  dilihat dari banyaknya 
dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya
adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, 
cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, 
tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan
berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua
agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama.
Bila kita cuma puasa, shalat, baca Al-Qur'an, pergi kebaktian, misa,
datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang
beragama. 
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni
fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, 
maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan
personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. 
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah
orang yang bisa menggembirakan tetangganya. 
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda
agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial 
pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak
mengambil yang bukan haknya. Karena itu, 
orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi.
Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, 
sementara beberapa meter  darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW
mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari 
dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.
Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". 
Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum
cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. 
Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan  kepedulian pada
lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai
tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. 
Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport.
Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan
intrinsik.
Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. 
Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya.
Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, 
bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain
menghargai dirinya. 
Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam
ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan
nilai-nilai agama ke dalam dirinya. 
Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya
internalisasi nilai spiritual keagamaan. 
Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu
memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. 
Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama
yang intrinsiklah yang mampu 
menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan
egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari
kebahagiaan, 
kata Leo Tolstoy.Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri
sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. 
Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan.
Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan
lingkungan sosialnya. 
Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis
dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; 
kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, ...kita
ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, 
tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan
politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. 
Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan .

Indonesia , sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh
pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, 
Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang
sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, 
dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban.
Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, 
rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat,
Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak
umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), 
tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan,
kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. 
Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di
atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh 
layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara
keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri 
ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk
membangun rumah ibadah yang megah, 
di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap
nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, 
di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak
dapat membayar biaya rumah sakit. 
Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

-------------------

Kirim email ke