Kamis
tanggal 31 Januari 2008 Kanwil XVIII Banjarmasin mendapat kejutan dengan
kunjungan Dirjen Perbendaharaan Perbendaharaan Bapak Herry Purnomo didampingi 
dengan Kabag
Kepegawaian Ibu Anandy Wati dan seorang Staf bernama Sutjipto. Dikatakan
kejutan, sebab Bapak Dirjen baru memberitahukan rencana kedatangannya pada
pukul tiga sore hari sebelumnya (kemarin). Rombongan tiba di Bandara Syamsudin
Noor Banjarmasin menggunakan pesawat Garuda Indonesia GIA 536 pukul 10.20 WITA
dan disambut langsung oleh Kepala Kanwil XVIII Ditjen Perbendaharaan
Banjarmasin, Bapak Seto Utarko, dan Kepala Bagian Umum, Bapak Hasoloan Manurung,
menggunakan mobil dinas Kakanwil. Dari bandara Rombongan langsung menuju ke
KPPN Percontohan Banjarmasin, sekedar informasi perjalanan dari Bandara ke KPPN
memerlukan waktu ± 1 jam perjalanan.

    Setibanya di
KPPN Percontohan Banjarmasin Bapak Dirjen beserta rombongan disambut oleh para
Kepala KPPN lingkup Kanwil XVIII DJPBN Banjarmasin yang diundang hadir
dalam rangka kunjungan tersebut yang telah menunggu kedatangan Bapak Dirjen.
Dalam kunjungannya di KPPN Percontohan Banjarmasin ,
Bapak Dirjen yang di temani oleh Bapak Kakanwil dan para Kepala KPPN meninjau
seluruh ruangan KPPN dan berinteraksi dengan para Pegawai di KPPN Banjarmasin .
Dalam kunjungan ke KPPN Percontohan Banjarmasin, Bapak Dirjen memberikan saran 
antara
lain agar ruangan front office dan middle office yang selama ini terdapat
tembok penyekat agar diganti dengan kaca riben karena ruangan front office dan 
middle office harus transparan, ini karena beliau berkeinginan agar
pelayanan di KPPN benar-benar transparan dan tidak ada yang perlu di
tutup-tutupi. Beliau juga menyarankan agar pelayanan pada Seksi Vera di KPPN
Percontohan Banjarmasin terutama pelayanan rekonsiliasi SAI juga dilakukan di 
front office sehingga seksi Vera tidak
perlu menerima tamu ke dalam ruangan, agar tidak ada lagi tamu yang langsung
berhubungan dengan pegawai kecuali di lakukan di front office, karena Bapak 
Dirjen tidak menginginkan terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan. Kiranya saran Pak Dirjen untuk KPPN Percontohan
Banjarmasin dapat dilaksanakan dan dapat menjadi inspirasi bagi KPPN
Percontohan lainnya. Kira-kira satu jam Bapak Dirjen beserta rombongan meninjau
KPPN Percontohan Banjarmasin, rombongan melanjutkan perjalanan untuk makan
siang.



       Setelah makan
siang, rombongan Bapak Dirjen langsung menuju Kanwil XVIII Ditjen
Perbendaharaan Banjarmasin. Dan setibanya di Kanwil XVIII DJPBN, Bapak Dirjen 
beristirahat
dan sholat di ruangan Bapak Kakanwil sembari bernostalgia, karena ruangan ini
dulunya merupakan ruangan Bapak Dirjen semasa menjabat sebagai Kakanwil XVIII 
DJPBN
Banjarmasin (dulu masih Kanwil DJA). Setelah itu Bapak Dirjen meninjau seluruh
ruangan di Kanwil XVIII DJPBN Banjarmasin dan juga melakukan interaksi dengan
beberapa Pegawai.



    Tepat pukul 14.00
WITA Bapak Dirjen beserta rombongan yang ditemani olek Bapak Kakanwil melakukan
tatap muka dengan Pegawai di Aula Kanwil XVIII DJPBN Banjarmasin yang
benar-benar di sambut antusias oleh seluruh Pegawai. Acara tatap muka ini di
buka oleh sambutan Kepala Kanwil XVIII DJPBN Banjarmasin, Bapak Seto Utarko.
Bapak Kakanwil dalam sambutannya menjelaskan tentang nostalgia Bapak Dirjen di
Banjarmasin karena Bapak Herry Purnomo adalah mantan Kanwil XVIII DJPBN 
Banjarmasin .
Bapak Kepala Kanwil juga menjelaskan tentang kunjungan Bapak Dirjen yang
sedianya akan berada di Banjarmasin selama dua hari (bermalam), namun karena
kesibukan Bapak Dirjen dan Bapak Dirjen akan ada rapat pimpinan Pejabat Eselon
1 dengan Ibu Menteri Keuangan esok paginya, maka kunjungan Bapak Dirjen ini
hanya diadakan selama satu hari saja, namun perubahan itu tidak mengurangi arti
dari kunjungan ini. Bapak Kakanwil berpesan kepada Pegawai untuk tidak 
menyia-nyiakan
kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bapak Dirjen dan menyampaikan segala
unek-unek atau keinginan Pegawai. Bapak Kakanwil memperkenalkan nama jajaran
Eselon 3 yang berada di Lingkup Kanwil XVIII Ditjen Perbendaharaan, disertai
dengan “guyonan” soal salah satu
pejabatnya yang pola mutasinya kayak setrikaan yang disambut tawa oleh seluruh
Pegawai yaitu bolak balik antara Surabaya - Banjarmasin. 



    Setelah sambutan
dari Kepala Kanwil berakhir, Bapak Seto Utarko memberikan waktunya untuk Bapak
Dirjen untuk memberikan sambutan yang disambut tepuk tangan oleh para Pegawai.
Bapak Herry Purnomo memulai sambutannya  dengan
mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT dan tak lupa juga meminta izin untuk
diperkenankan memberikan wejangan. Ternyata
Bapak Dirjen menanyakan Kabid PA I dan PA II yang kebetulan tadi belum 
diperkenalkan
oleh Bapak Kakanwil (ternyata Bapak Dirjen sangat teliti), dan Pak Dirjen juga 
mengeluarkan
“guyonan-nya” bahwa Beliau sebenarnya
masih merasa dirinya masih menjadi Kepala Kanwil XVIII dan Pak Seto Utarko
adalah penggantinya. Pernyataan Pak Herry tadi disambut tawa seluruh pegawai. 
Memang
suasana saat itu begitu akrab sekali, bisa di katakan sebagai reuni bagi Pak
Herry Purnomo karena ternyata Bapak Dirjen masih hafal nama-nama Pegawai yang
Beliau anggap sangat berkesan semasa Beliau menjabat sebagai Kepala Kanwil di 
Banjarmasin.



    Bapak Herry
Purnomo bercerita, saat dirinya menjadi Dirjen itu bukan keinginannya bahkan
tidak terpikirkan sebelumnya, karena itu beliau merasa tidak menyangka akan
mengemban tugas yang sangat besar dengan menjadi Dirjen seperti saat ini. Dan
yang perlu digarisbawahi tentang komitmennya yaitu, beliau tidak ingin seorang 
pimpinan
harus dilayani dengan berlebihan. “Itu harus dirubah!.” kata Pak Dirjen, karena
itu Bapak Dirjen datang ke Banjarmasin secara mendadak tanpa pemberitahuan pada
jauh hari sebelumnya, karena beliau tidak mau pihak Kanwil mempersiapkan
penyambutan beliau secara berlebihan. Beliau tidak mau turun dari pesawat
melalui pintu VIP, beliau tidak mau dijemput dengan mobil mewah, dibayarkan
tagihan hotelnya, dibelikan oleh-oleh dan lain-lain. Pernyataan itu langsung di
sambut tepuk tangan oleh para Pegawai. Pak Herry ingin merubah hal-hal kuno
seperti itu sejak beliau menjabat sebagai Direktur Jenderal Perbendaharaan.



    Perubahan ini
ada kaitannya dengan reformasi birokrasi di Departemen Keuangan. Menurut
beliau, reformasi adalah berubah ke arah yang lebih baik, sejalan dengan itu
ada pertanyaan yang beliau lontarkan kepada para pegawai : “Apakah kita sudah
berubah?.” Masih berbicara soal reformasi birokrasi di Depatemen Keuangan, 
sebelum
acara tatap muka dimulai, Bapak Dirjen membagikan artikel yang berbentuk 
selebaran
yang merupakan kutipan pembicaraan Ibu Menteri Keuangan pada rapat Eselon 1
beberapa waktu yang lalu yang berjudul ‘Remunerasi Depkeu ditarik jika tak
efektif.’ Menanggapi selebaran itu Bapak Dirjen mengajak seluruh Pegawai untuk
berubah, agar remunerasi yang telah kita terima ini tidak ditarik. Karena jika
sampai ditarik, yang rugi adalah para Pegawai itu sendiri. Maka dari itu Pak 
Herry
Purnomo mengajak para Pegawai untuk Disiplin dalam bekerja. Tidak ada lagi 
pegawai
yang mengabaikan tugasnya sebagai PNS.



    Disinggung juga
oleh Bapak Dirjen, bahwa tugas PNS adalah bekerja sebagaimana Tupoksi, bukan
mengantar anak, belanja ke pasar atau hal-hal lainnya yang tidak ada dalam 
Tupoksi.
Pernyataan Bapak Dirjen itu disambut tawa oleh seluruh Pegawai. Pak Dirjen
menyarankan jika masih seperti itu, Pegawai yang bersangkutan dianjurkan untuk
mengundurkan diri saja.



Sekali lagi Pak
Herry menekankan tentang Disiplin Pegawai. Beliau mengingatkan bahwa ke
depannya tidak ada lagi Pegawai titip absen karena nantinya kita akan
menggunakan absensi dengan pemindai sidik jari. Dan masih menyinggung masalah 
reformasi
birokrasi, Bapak Dirjen menegaskan akan merubah mindset, kultur dan kebiasaan 
yang selama ini masih saja terjadi,
yaitu menganggap korupsi sebagai rejeki. Dimana pemberian seseorang karena ada
suatu hal dianggap rejeki, itu adalah kultur yang sebenarnya salah namun kita
anggap benar. Inilah yang harus dirubah, mengingat kita telah mendapatkan
remunerasi. Bapak Dirjen berpesan agar para pegawai mengerjakan apa yang sudah
seharusnya dikerjakan karena para pegawai sebenarnya telah mendapatkan haknya
dari Pemerintah yang berupa gaji perbulan, ditambah tunjangan-tunjangan
lainnya. Dan jika pegawai merasa hak yang diterima belum cukup, Bapak Dirjen
mempersilakan pegawai tersebut mengundurkan diri dan bekerja di sektor swasta
saja, karena sektor tersebut memungkinkan seseorang mendapatkan hasil yang jauh
melebihi dari sekedar menjadi Pegawai Negeri.



     Seperti yang
telah dikatakan oleh Bapak Dirjen, Direktorat Jenderal Perbendaharaan saat ini 
mengalami
kelebihan Pegawai. Jumlah pegawai ideal yang diperlukan oleh Ditjen
Perbendaharaan adalah 6000 pegawai, sedangkan jumlah pegawai saat ini sebanyak
11.000 pegawai. Dengan demikian, dalam rangka mencari pegawai yang benar-benar
dianggap mampu menjalankan tugas, Ditjen Perbendaharaan menyaring
pegawai-pegawai tersebut melalui tes untuk KPPN Percontohan. Tes tersebut
berupa tes kemampuan dan tes psikologi. Pada akhirnya, seluruh KPPN yang ada di
Indonesia, pegawainya juga akan di tes, dan KPPN yang tidak berada satu kota 
dengan
Kanwilnya, akan menjalankan fungsi pembinaan Satuan Kerja mewakili Kanwil yang
bersangkutan.



     Bapak Dirjen
kembali mengingatkan para pegawai bahwa banyak sekali cara untuk mengisi waktu
selama jam kerja selain keluyuran,
misalnya dengan mempelajari Surat-surat Edaran yang ada di perpustakaan, atau
mempelajari hal-hal baru yang belum kita ketahui, misalnya pegawai Kepegawaian
mempelajari Aplikasi DIPA di Bidang PA I, selama tidak mengganggu pegawai di PA
I, itu tidak masalah.



      Bapak Dirjen
juga memberitahukan kepada pegawai bahwa saat ini sedang digodok Aplikasi SPAN
(Sistem Perencanaan Anggaran Negara), dimana pembuatan aplikasi ini harus
secara matang, tidak seperti MPN yang terkesan dibuat secara tergesa-gesa
sehingga dalam pelaksanaannya mengalami banyak sekali hambatan. SPAN harus
dibuat secara matang sehingga dalam pelaksanaannya nanti diharapkan tidak ada
lagi hambatan yang berarti.



    Berita
selanjutnya yang dibawa oleh Bapak Dirjen adalah bahwa Ditjen Perbendaharaan
telah mengucurkan beasiswa kepada para pegawai yang memenuhi syarat yang ingin
melanjutkan pendidikannya. Saat ini Ditjen perbendaharaan telah bekerja sama
dengan lima Perguruan Tinggi terkemukan di Indonesia antara lain, Universitas
Indonesia (UI), Institut teknologi Bandung (ITB), UniversitasGadjah Mada (UGM),
Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Brawijaya (UNIBRAW). Karena
proses belajar ini diniayai oleh dinas, maka sudah tentu jurusan yang diambil
juga ditentukan oleh dinas, begitu kata Bapak Dirjen. Ini dilakukan agar lulusan
yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dinas.



      Acara tatap muka
dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Dalam sesi tersebut, banyak sekali pegawai
yang bertanya maupun mengajukan permintaan mutasi secara langsung, mengingat di
 sana hadir pula Ibu Anandy Wati
selaku Kepala Bagian Kepegawaian. Mengenai mutasi, Bapak Dirjen menekankan
supaya pegawai tidak menolak mutasi, apalagi yang berupa suatu promosi. Apabila
seorang pegawai menolak suatu mutasi dengan alasan sakit, pegawai tersebut
harus sudah mengantongi surat 
keterangan dari Majelis Kesehatan yang ditunjuk Negara. Apabila menurut surat 
tersebut pegawai yang bersangkutan sehat, maka pegawai yang bersangkutan harus
berangkat memenuhi tugas sesuai janji kesediaannya pada awal diangkat sebagai
PNS dulu. Apabila menurut surat 
tersebut pegawai yang bersangkutan sakit, maka sebaiknya pegawai tersebut
mengajukan pensiun dini karena sudah tidak mampu lagi menjalankan tugas dengan
baik sebagai PNS.



      Bapak Dirjen
juga mengingatkan kepada pegawai yang akan memasuki masa pensiun, harus
sesegera mungkin mengajukan permohonan pensiunnya, sesegera mungkin membebaskan
dirinya dari tanggungan Negara. Maksudnya ialah mengembalikan semua barang
milik Negara seperti, Rumah Dinas, Kendaraan Dinas dan lain-lain.



    Suasana tatap
muka saat itu dapat dikatakan sangat kekeluargaan sehingga acara yang semula
dijadwalkan berlangsung dua jam saja (dari pukul 14.00 s.d. pukul 16.00)
akhirnya mundur menjadi dua setengah jam. Semua itu karena banyaknya minat
bertanya yang datang dari para pegawai, dan karena para pegawai menganggap
Bapak Dirjen seperti Bapak sendiri sehingga sikap canggung berlebihan tidak
nampak dalam acara tersebut.



      Acara tatap muka
tersebut berakhir kira-kira pukul 16.30 WITA. Acara tersebut diakhiri dengan
acara bersalaman antara para pegawai dengan Bapak Dirjen dan Ibu Anandy Wati.
Setelah acara selesai, Bapak Dirjen beristirahat sejenak di ruangan kenangan 
beliau,
ruangan Kakanwil, untuk selanjutnya beliau bertolak ke Bandara Syamsuddin Noor
untuk kembali ke Jakarta .



      Acara boleh
selesai, Bapak Dirjen boleh kembali ke Jakarta 
untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Namun, kenangan akan keramahan dan kasih
sayang yang ditunjukkan beliau tetap melekat di hari para pegawai Kanwil XVIII
Ditjen Perbendaharaan Banjarmasin sampai kapan pun. (Yeptirani&Charys)






      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]



Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
Hentikan sekarang juga. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/forum-prima/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/forum-prima/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke