Apa yang diuangkapkan oleh Sdr. Layang Seta banyak benarnya. Sy pernah mengalaminya sendiri. Memang konsiyering mrpk pemborosan yg dilegalkan. Disamping itu praktiknya dilapangan seringkali terjadi manipulasi terutama menyangkut jumlah peserta. Katakanlah yg ada didaftar sebanyak 30 orang. Tapi kenyataannya yg hadir tdk lebih dari separuhnya. mungkin maksudnya utk penghematan. Tapi apakah penghematan tsb disetor ke kas Negara? Kayaknya tidak. Sebab hadir atau tdk hadir tetap saja memperoleh honor dan uang saku. Disilah letak pemborosannya. Bahkan cenderung ada unsur korupsinya. Ada lagi hal yg lebih gila lagi. Dan ini pernah terjadi pada saya. Tanpa sepengetahuan saya nama saya ada di daftar sbg peserta. Dan saya ketahui belakangan ketika ada yg berkompeten dg acara konsinyering tadi ngomong ke saya. Maaf ya Mas, namanya saya pinjem? Saya sangat marah sekali sebenarnya. Cuma saya nggak bisa berbuat banyak. Setelah kejadian itu sy nggak mau lg terlibat.
Maaf sebelumnya bila saya mengungkapkan apa adanya. Semoga bisa jadi bahan masukan bagi siapa saja. Semoga acara2 konsinyering benar2 sesuai tujuan dan tidak sekedar malam mingguan di Puncak. --- In [email protected], Pakerti Hutomo Kinaryo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Konsinyering adalah "siap siaga". Biasanya suatu > aktivitas sbg respon utk hal-hal yg sifatnya darurat, > perlu koordinasi sifatnya, dan untuk hal-hal yg hrs > segera di tanggapi . > > Namun membaca postingan sdr Layang Seta, kl dalam 1 > tahun sampai 50 kali. Pertanyaannya, a
