Mohon masukan dari anggota forum terkait dengan permasalahan bendum. 1. Berdasarkan Kep Dirjen Perbendaharaan Nomor 55/PB/2006 ditunjuk Bank/Kantor Pos Persepsi PBB dan BO III PBB. Selanjutnya dlm Kep Dirjen Perbendaharaan Nomor113/PB/2007 ditunjuk BO III PBB. Dalam diktum ketiga kep 113/2007 menyatakan Kep 55/2006 tsb tidak berlaku lagi. Apakah dg penerapan MPN setiap Bank Persepsi bisa jg mjd persepsi PBB? Ataukah BO III PBB jg sebagai Persepsi PBB? 2. Apakah BPD (statusnya khan BUMD) juga dibenarkan menjadi tempat membuka rekening pengeluaran or penerimaan? Ataukah hanya boleh membuka rek pengeluaran or penerimaan pada bank BUMN? Kebetulan saya memperoleh laporan rekng koran satker bulan februari ini yg membuka rekening pengeluaran pada salah satu BPD. Pada rekening koran tsb, jasa giro tidak langsung disetor ke kas negara. Juga setiap transaksi SP2D dikenakan biaya kliring Rp2.500,-. Apakah hal tsb juga dibenarkan?
Mohon maaf kalo pertanyaannya agak dangkal.. harap maklum baru 1 bulan bertugas di KPPN.
