Para anggota milis yang budiman,
Berdasarkan pengalaman saya ketika memposting tulisan tentang SPAN dan tulisan
tentang Masalah Rekonsiliasi SAU dan SAI, hampir selalu saja ada bias pemahaman
antara pemahaman yang ingin saya sampaikan dan pemahaman yang diterima oleh
sebagian pembaca. Hal tersebut bisa terjadi karena ketidakmampuan saya menulis
atau ketidakmampuan sebagian pembaca untuk menangkap pesan yang ingin saya
sampaikan. Bukan tidak mungkin, dan ini yang saya khawatirkan, tulisan saya
yang sejak awal dimaksudkan sebagai part of the Solution justru dalam kenyataan
cenderung menjadi part of the Problem. Bukan mencerahkan (membuat jelas)
masalah maupun solusi tetapi justru memburamkannya. Ini yang terus terang sama
sekali tidak saya inginkan.
Masih mengenai SPAN, mungkin liputan soft launching MPN yang dimuat di web
perbendaharaan.go.id (kutipan lengkap dapat dibaca pada bagian bawah email ini)
dapat memperjelas pemahaman kita tentang implementasi pengembangan SPAN. Dalam
liputan tersebut dikemukakan bahwa MPN merupakan tahap awal pelaksanaan SPAN
dan akan diikuti oleh modul-modul lain secara bertahap. Sistem MPN diharapkan
mampu secara otomatis menyajikan data penerimaan dengan validitas yang terjamin
ke Departemen Keuangan. Modul MPN juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
pengelolaan data penerimaan, memperbaiki kualitas data penerimaan dan laporan
keuangan pemerintah pusat, dan mendukung pelaksanaan TSA dan pelaksanaan
akuntansi berbasis akrual. Selain itu, melalui modul MPN diharapkan pembayaran
semua transaksi setoran pajak dan non-pajak kepada negara, selain melalui
loket, dapat pula dilakukan melalui ATM, internet banking dan mobile banking.
Pertanyaan saya, apa yang harus segera kita lakukan agar cita-cita dan harapan
MPN tersebut dapat segera terwujud? Barangkali jalan menuju ke sana memang
masih panjang. Tetapi, upaya pembenahan modul MPN dan juga modul-modul SPAN
lainnya (menurut pendapat saya) tetap harus terus kita lakukan. Sendiri atau
dengan bantuan para konsultan.
Salam,
Budisan
SOFT LAUNCHING MODUL PENERIMAAN NEGARA (MPN-PRIMA)
Bertepatan dengan Hari Keuangan yang jatuh pada tanggal 30 Oktober 2006,
Departemen Keuangan mengadakan acara Soft Launching Modul Penerimaan Negara
(MPN-PrimA) di Gedung D Auditorium Dhanapala Departemen Keuangan. Acara yang
diselenggarakan mulai pukul 11.00 WIB tersebut dihadiri oleh Menteri Keuangan,
Marie Muhamad (mantan Menteri Keuangan), para pejabat eselon I di lingkungan
Departemen Keuangan, direksi dari beberapa bank dan perusahaan, perwakilan dari
kementerian negara/lembaga, dan para undangan lainnya.
Modul Penerimaan Negara (MPN-PrimA) merupakan salah satu modul dalam Sistem
Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Modul ini merupakan tahap awal
pelaksanaan SPAN dan akan diikuti oleh modul-modul lain secara bertahap,
seperti modul pengeluaran. MPN-PrimA ini melayani setoran penerimaan negara
yang meliputi setoran pajak, setoran bukan pajak, setoran PBB dan BPHTB,
setoran bea masuk dan cukai, setoran pungutan ekspor, setoran pengembalian
Belanja Negara, dan setoran potongan SPM. Sistem MPN-PrimA akan mengkoneksikan
87 bank dengan lebih dari 12 ribu cabangnya yang secara otomatis akan
menampilkan data dengan validitas yang terjamin ke Departemen Keuangan.
MPN-PrimA ini memberikan beberapa fasilitas seperti internet banking, mobile
banking, ATM, dan loket.
Acara peluncuran MPN-PrimA diawali dengan pidato pembukaan oleh Dirjen
Perbendaharaan - Mulia P. Nasution. Dalam pidatonya, Dirjen Perbendaharaan
mengatakan bahwa MPN-PrimA ini merupakan awal dari penerapan SPAN. Modul
Penerimaan Negara ini sendiri akan dilaksanakan oleh beberapa bank persepsi
yang telah siap dan beberapa Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
mulai tanggal 1 Nopember 2006 secara pararel dengan sistem yang lama sampai
dengan 31 Desember 2006. Diharapkan pada tanggal 2 Januari 2007 MPN-PrimA telah
dapat diterapkan pada seluruh bank persepsi pemerintah dan seluruh KPPN.
Lebih lanjut Dirjen Perbendaharaan mengatakan bahwa MPN-PrimA ini
mengintegrasikan 3 sistem penerimaan negara yang selama ini berjalan yaitu
Sistem Penerimaan (SISPEN) yang dilaksanakan oleh Ditjen Perbendaharaan;
Electronic Data Interchange (EDI) yang dilaksanakan oleh Ditjen Bea dan Cukai;
dan Montoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3) yang dilaksanakan oleh Ditjen
Pajak. Dengan pengintegrasian ketiga sistem penerimaan negara yang terpisah
melalui MPN-PrimA tersebut diharapkan akan dapat meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat, meningkatkan efisiensi karena penginputan data yang hanya sekali,
meningkatkan validitas transaksi penerimaan negara, meningkatkan akuntabilitas
laporan keuangan pemerintah pusat, dan mendukung pelaksanaan Teasury Single
Account (TSA) dan akuntansi berbasis akrual.
Setelah pidato singkat oleh Dirjen Perbendaharaan, acara dilanjutkan dengan
tayangan video tentang perjalanan sistem lama ke sistem baru (MPN). Setelah
itu, acara dilanjutkan dengan acara inti yaitu peluncuran MPN-PrimA, slogan,
dan maskot, serta sambutan oleh Menteri Keuangan-Sri Mulyani Indrawati. Dalam
sambutannya Menteri Keuangan mengharapkan dengan adanya MPN-PrimA yang
mengintegrasikan 3 sistem penerimaan negara yang sekarang ini ada, akan dicapai
kecepatan waktu, keakuratan, dan kualitas data sehingga pengelolaan penerimaan
negara akan semakin baik dan laporan keuangan pemerintah pusat juga akan
semakin baik.
Setelah memberikan sambutan, Menteri Keuangan didampingi oleh Sekjen Departemen
Keuangan, Dirjen Perbendaharaan, Dirjen Pajak, Dirjen Bea dan Cukai, dan Dirjen
Anggaran dan Perimbangan Keuangan meresmikan maskot sekaligus menandai
peluncuran MPN-PrimA. Maskot MPN-PrimA melambangkan pundi yang menampung
seluruh penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan
penerimaan negara bukan pajak. Adapun makna beberapa warna pada maskot tersebut
adalah:
warna kuning melambangkan penerimaan pajak yang merupakan penerimaan negara
yang terbesar dalam APBN;
warna hijau melambangkan penerimaan bea dan cukai;
warna ungu melambangkan penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari seluruh
kementerian negara/lembaga yang diadministrasikan oleh Ditjen Anggaran dan
Perimbangan Keuangan;
warna kuning kecoklatan merefleksikan Sekjen Departemen Keuangan yang turut
berperan dalam pengintegrasian MPN; dan
warna biru yang melambangkan bahwa MPN digunakan di seluruh wilayah Indonesia,
dan warna yang mengikat pundi tersebut menggambarkan Dtjen Perbendaharaan yang
berfungsi mengelola seluruh penerimaan negara.
Sebelum acara peluncuran MPN ini ditutup, terlebih dahulu diadakan simulasi
pembayaran pajak melalui sistem MPN-PrimA pada masing-masing stand bank oleh
perwakilan dari beberapa perusahaan. Beberapa bank-bank yang ikut serta dalam
silmulasi MPN-PrimA tersebut adalah Bank Mandiri, Bank BRI, Bank Danamon, Bank
HSBC, Bank Permata, Bank Bengkulu, Bank DKI, Bank NISP, Bank Bukopin, dan Bank
BNI. Setelah simulasi MPN-PrimA selesai, acara ditutup dan diakhiri dengan
makan siang.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
[Non-text portions of this message have been removed]
Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
Hentikan sekarang juga.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/forum-prima/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/forum-prima/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/