Dear milis, 
Mohon permisi ikutan nimbrung di topik ini.

Pada prinsipnya saya setuju dan sangat mendukung ide untuk 
menampung/ menganggarkan 'dana taktis' dalam DIPA sebagaimana 
diusulkan Bp.Subasita dan Bp. Nano Suhasno. So kalo ada kebutuhan 
yang belum jelas akunnya atau dengan kata lain tidak ada dalam DIPA 
dapat dimasukkan ke dalam 'akun khusus' ini.

Hanya saja yang perlu menjadi perhatian bersama adalah masalah 
penggunaan dan besaran dari 'akun khusus' ini.
Keberadaan 'akun khusus' ini seyogyanya relatif kecil saja. Karena 
mengingat sifatnya yang insidentil dan unpredictable. Katakanlah 
untuk masing masing kantor cukup 5 jutaan saja. Saya ambil contoh di 
Kendari, yang namanya TV kabel itu adalah bener bener TV yang 
dihubungkan dengan kabel oleh 'provider' (mangsudnya yang punya 
parabola gicu). Nah untuk mbayar iuran tv-nya diambil dari kerelaan 
pegawai (potong lembur or something lah... legal loh). Barangkali 
untuk keperluan keperluan tersebut bisa diambilkan dari 'akun 
khusus' tadi.

Tapi kalo peruntukannya untuk keperluan 'service' tamu dinas, entah 
itu hanya berupa sekedar mbayari makan siang atau makan malam, 
kayaknya kurang tepat dan tidak pada tempatnya. Kita mesti bisa 
menyingkirkan budaya ewuh pekewuh itu. Tamu dinas menurut saya 
sepatutnya juga dilayani hal hal yang berbau kedinasan saja. hal hal 
diluar kedinasan kalo mau di' servis' ya monggo saja. Tapi sifatnya 
bukan membebani DIPA. Alias sekedar perkoncoan saja, alias dari 
kantong pribadi (jangan juga pegawai sekantor diwajibkan patungan) 
yang mau mbayari silahkan, kalo ndak ada yang mau ngebosi ya jangan 
dipaksakan. Membandingkan dengan Gubernur atau Bupati dalam 
hal 'melayani' tamunya saya rasa bukan perbandingan yang tepat. 
Nuansanya sudah beda sekali.

Dari Kendari.
HaBeWe
NB: seorang penjahat yang paling tengik sekalipun akan sangat fasih 
berbicara tentang kebaikan/ kebajikan. Hanya perbuatan nyata yang 
menjadi stempel pembeda antara orang baik dan penjahat tengik. Orang 
baik akan melakukan hal hal baik sedang penjahat tengik akan 
menyimpan kebaikan rapat rapat dalam hatinya dan melakukan tindakan 
sebaliknya.
***dari catatan harian seorang HaBeWe*** 




--- In [email protected], NANO SUHASNO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

--- Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 


Kirim email ke