Dear saudaraku di Padang Sidempuan,

Kulihat namamu tak ada lagi di SK Promosi/Mutasi. Aku tak tahu apakah
kau kecewa atau tidak, karena selama ini aku tak pernah mendengar
sedikitpun keluh darimu.  Yang kudengar cerita-cerita getir berbalut
tawa. 
Aku masih teringat ketika kau menceritakan anakmu yang ingin jadi
tukang ojek, agar bisa mengantar ibunya tiap hari, karena Bapaknya
hanya bisa pulang berbulan sekali. Hmm so sad, but you tell it with
full of laughter.

Padahal Kalau difikir-fkir , kata Mbak Dyah di Angkatan kita, cuma
kamu yang punya tampang Kepala Seksi. Aku heran kok bisa ya orang
kayak kamu gak lulus test beasiswa ataupun assesment. Setahuku you are
smarter than me and full of integrity…
Tapi kalau Chris Kayhatu bilang sih … " tapi Takdir tak mungkin slalu
sama…"

Saudaraku, jadi udah berapa tahun pisah ama keluarga?  8 tahun kali
ya… karena waktu kamu di kantor pusat, istrimu lagi di Surabaya. Pas
istrimu di Jakarta, Kamu mutasi ke Sidikalang.  Hmmm what a life. 

Tapi Saudaraku, aku yakin kamu pasti bersabar seperti biasanya. Karena
aku tahu walau kamu dulu di PA I tapi kamu ngapel tetep pake kereta
ekonomi ke Surabaya. Jadi aku yakin kamu bisa tawadhu baik ketika ada
kesempatan maupun tidak. Aku cuma bisa berdoa semoga kamu bisa ke
Jakarta, seperti yang kamu inginkan. Ya selain bisa kumpul sama
keluarga, kamu bisa merawat ibumu yang sakit keras kan. (Aku nggak
ingat Bapakmu meninggal pas kamu di Sidikalang atau di Padangsidempuan?)
 

Ah saudaraku, membayangkan kamu aku jadi sentimentil. Tapi Allah
memang memberi takdir sesuai dengan kekuatan hamba-Nya. Berbahagialah
karena dirimu yang telah terpilih….

Satu keinginanku, kalau kita memang ditakdirkan untuk tidak bertemu di
dunia yang sempit ini, semoga kita bisa berjumpa di Syurga yang luas ,
serta melihat Allah sejelas purnama…(Ya Allah layakkah aku berada di
syurga-MU)

Sampai jumpa saudaraku….



Kirim email ke