Melihat iklan Indosat versi kebangkitan nasional, terlihat nyata bahwa
Indosat secara tersirat ingin “mengejek” bangsa Indonesia. Dari iklan
tersebut, terdapat dua cerita yang saling berhubungan, yaitu tentang
Indosat itu sendiri serta tentang Megawati Presden Republik Indonesia
saat itu. Adapun makna tersebut antara lain :
Bab pertama, terlihat ada sejumlah anak yang secara riang bermain
dipematang sawah. Hal ini dapat diartikan bahwa bangsa Indonesia pada
awalnya adalah negeri yang subur, makmur, penduduknya menjalani hidup
dengan riang dan sebagainya.
Bab kedua, terlihat ada suatu rapat yang dipimpin oleh seorang wanita
berbaju merah, dilanjutkan dengan parade prajurit keraton, festival
lampion dan pemberian medali pada juara badminton. Adegan ini
menyiratkan ketika Megawati duduk sebagai presiden dengan keputusannya
mengobral Indosat kepada singapura. Dijelaskan juga bahwa saat itu
mega berharap keinginannya mengobral Indosat ini dapat digunakan untuk
mensejahterakan rakyat Indonesia. Dan kedepan mega juga ingin meniru
Singapura sebagai surga pariwisata dimana festival lampion yang
merupakan budaya etnis China di Singapura dapat disandingkan dengan
parade prajurit keraton yang merupakan budaya Jawa di Indonesia.
Harapan lain yang tak kalah penting adalah keinginan untuk mewujudkan
kembali supremasi bulutangkis Indonesia yang sempat terpuruk beberapa
saat.
Bab ketiga, terlihat seorang nelayan dengan perahu, anak yang ingin
bersekolah dan adegan hura-hura diatas mobil yang sedang berjalan.
Dalam periode ini dapat diartikan bahwa setelah mengobral beberapa
asset strategis bangsa, kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia
tidak banyak berubah, masih ada nelayan yang menggunakan perahu kecil
ditengah lautan yang “dikuasai” oleh nelayan asing, terlihat pula
bahwa pendidikan telah menjadi suatu hal yang eksklusif dimana rakyat
kebanyakan terpuruk dari akses pendidikan meski untuk level pendidikan
dasar. Dilain pihak Nampak kaum elit partai terutama partai berkuasa
dengan seenaknya berfoya-foya diatas penderitaan rakyat. Mereka hidup
bergelimang harta diantara pahit getir kemiskinan yang dialami rakyat.
Bab keempat, terlihat sekelompok orang bersepeda dengan gaya tahun
‘40-an dan pesawat terbang. Makna dari adegan ini adalah keinginan
rakyat untuk kembali ke era terdahulu, dimana Indonesia adalah negara
yang disegani negara lain, terutama saat  pemerintahan Soekarno,
tantangan ini dijawab oleh mega dengan tindakannya membeli sejumlah
pesawat tempur dari Rusia, namun sayang dalam pembelian pesawat tempur
yang sangat canggih tersebut tidak diikuti dengan pembelian
perlengkapan persenjataan yang memadai. Alhasil pesawat tempur
tersebut hanyalah macan ompong yang tidak memberikan efek apapun bagi
pertahanan negeri ini.
Bab kelima, terlihat orang yang sedang berselancar, pembangunan BTS
yang belum selesai, seseorang habis memancing ikan, serta kondisi
seorang wanita yang sedang sakit. Makna bab ini adalah meski awalnya
Mega ingin mengembangkan pariwisata sebagaimana pada bab kedua diatas,
namun hasilnya pemerintah gagal untuk mengembangkan daerah lain
sebagai primadona pariwisata selain Bali. Bali masih tetap menjadi
idola wisatawan tanpa pemerintah mampu mendiversifikasi tujuan wisata
Indonesia. Terlihat juga bahwa sebagai syarat divestasi Indosat adalah
kewajiban Tamasek sebagai perusahaan yang mengakuisisi Indosat untuk
membangun jaringan telekomunikasi (telepon kabel) didaerah pedalaman
Indonesia, namun sampai beberapa waktu ternyata hal tersebut tidak
terlaksana dan kecenderungannya Indosat lebih tertarik di bidang
jaringan nirkabel yang lebih murah biaya investasinya. Tidak
ketinggalan pula kekayaan laut kita terus menerus dikuras oleh negara
lain tanpa ada kemampuan pemerintah untuk dapat menanggulanginya.
Adegan seorang laki-laki dengan memegang ikan yang besar menegaskan
bahwa Indonesia sebenarnya kaya cuma karena kepemimpinan yang lemah
maka kekayaan negeri ini hanya menjadi berkah bagi negara lain.
Melihat keadaan negara yang tidak sesuai dengan bayangan waktu masih
menjadi ketua parpol, Mega sebagai presiden kala itu mengeluh tentang
susahnya mengurus negara. Hingga dalam suatu pidatonya dia mengatakan
bahwa “saya capek jadi presiden, satu masalah hilang, muncul masalah
lain…..” pernyataannya kali itu sempat membuat heboh sekaligus lelucon
di kalangan masyarakat awam. Adegan terakhir inilah yang menegaskan
maksud dari sakitnya seorang wanita setengah baya.
Bab keenam berisi tentang pembangunan gedung yang dipimpin oleh
seorang wanita dan kendaraan operasional Indosat. Bermakna bahwa
kekuasaan ibunda sebagai presiden telah membuat anak gadisnya mendapat
“kelimpahan” rejeki. Berbagai tender proyek didapat dan meski proyek
yang dikerjakan belum selesai namun sang anak sudah berani melaporkan
kepada sang ayahanda. Keberadaan mobil operasional Indosat di
pedalaman seolah-olah ingin menunjukkan kepada Pemerintah Republik
Indonesia, bahwa kewajiban mereka untuk membangun jaringan
telekomunikasi telah dilakukan dan telah dapat difungsikan sebagaimana
mestinya.
Bab ketujuh terdapat adegan satelit palapa, sekelompok anak di daerah
tertinggal dan sejumlah warga yang tertawa di depan tayangan “layar
tancap”. Bermakna bahwa kebanggaan Indonesia sebagai negara satelit
pertama di asia tenggara sudah hilang, dikarenakan satelit yang selama
ini merupakan ikon bangsa Indonesia untuk mengenang perjuangan
Mahapatih Gajahmada sudah beralih kepemilikan. Singkatnya dalam bab
ini ingin menunjukkan bahwa Indonesia yang tadinya adalah negara
makmur sebagaimana dalam bab pertama diatas, telah terpuruk. Jangankan
untuk menguasai serta mempergunakan kekayaan negara ini, untuk membeli
baju serta hiburan yang memadai bagi rakyatpun mustahil. Bahkan
digambarkan, meski Tamasek sudah “merampok” asset strategis bangsa,
rakyat kebanyakan masih bisa tertawa renyah melihat totonan layar
tancap yang sama sekali tidak lucu. 
Penutup iklan ini adalah sebuah kalimat “Indosat cinta Indonesia”.
Sebuah kalimat klise, bagaimana tidak cinta wong + 40% pangsa pasar
telekomunikasi dikuasai Indosat, bagaimana tidak cinta wong Indosat
yang bernilai miliaran dolar Amerika Cuma dibeli dengan harga US$ 600
juta. Sebagai renungan untuk kita, mampukah kita berubah untuk menjadi
suatu bangsa yang maju?. Mampukah membalik semua ejekan, hinaan dan
sebagainya dengan suatu tindakan bermartabat?.
tadinya gw posting di blog gw, cuman pengen berbagi dengan teman2 agar
melupakan sejenak rutinitas kantor :)

Kirim email ke