"amirsyahya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Setidaknya dengan penggunaan pin "Saya Tidak Korupsi" ini akan memberikan efek pencegahan secara timbal balik antara penyelenggara negara dengan masyarakat yang dilayani. Di satu sisi pegawai yang memakai pin "Saya Tidak Korupsi" akan merasa malu bila melakukan korupsi dan sejenisnya karena yang bersangkutan terlibat secara langsung dalam kampanye anti korupsi. Di sisi lain, masyarakat yang melihat pegawai yang mengenakan pin "Saya Tidak Korupsi" di bajunya akan berpikir panjang bila berniat melakukan penyuapan ataupun dapat langsung berani menolak bila dibebankan pungutan liar oleh pegawai yang nakal, atau paling tidak masyarakat dapat mempertanyakan ketidakkonsistenan pin yang dipakai pegawai dengan perilaku pegawai tersebut ataupun dengan mentertawai perilaku pegawai nakal tersebut bila memang tetap mendapatkan pelayanan yang korup.
ESN: remunerasi, insentif lebih tinggi bagi kantor2 yang dinilai rawan penyuapan dan gratifikasi, iklan/anjuran persuasif, bahkan norma agama (yang selalu dibanggakan sebagai nilai dari bangsa indonesia) semua bisa dan biasa dilanggar mengapa sebuah pin bisa menghalangi seseorang melakukan korupsi? =) klo menurut saya sih sekarang sudah saatnya menghukum! kultur masyarakat Indonesia sudah terbina lama sekali ketika orde baru menjadi kultur campur aduk, bahkan ada riset dan documenter independent (dulu dilakukan oleh marissa haque) mengatakan departemen terkorup adalah departemen agama. Indonesia yang dikatakan Negara agamis ternyata peringkat tinggi dalam indeks korupsi, terlalu menyedihkan buat kita memang, kebiasaan yang diuraikan bung amir tentang religius koruptor saya rasa adalah cerminan bangsa kita secara umum terutama mental birokrasinya, mungkin benar mental munafik masih kental di masyarakat kita.. Karena itu sudah bukan jamannya lagi persuasif-persuasifan, kadang saya rasa omong kosong juga, terbukti mental bangsa kita belum bisa berkembang kalo tidak dipecut, norma bagi kita (budaya atau agama) hanyalah polesan fisik, kosmetik raga, yang terus menerus ditampilkan, tanpa memperdulikan isi dan makna terdalamnya. Masyarakat kita mungkin terpukau melihat seorang PNS, baru kerja 2 tahun sudah bisa beli mobil, mereka bilang orang itu sukses, pegawai yang bisa mencari celah dalam peraturan dibilang jago, mungkin juga banyak pemuka agama takut miskin =) jadi lebih baik mereka menceritakan hal-hal yang indah saja, baik dan kurang berani mengecam keras hal-hal salah yang ada didepan mereka. Sudah saatnya menghukum! reformasi telah berjalan 10 tahun, hari kebangkitan nasional sudah kita peringati berulang-ulang selama 100 tahun, tapi toh apa?kemiskinan masih menjadi momok bangsa ini, pendidikan makin tidak berpihak pada masyarakat kita yang bodoh, mungkin karena lapisan moral bangsa ini (pemerintah, lembaga hukum, lembaga agama) masih terlalu memihak pada hasil bukan proses, kejujuran dianggap kebodohan, dan korupsi, kolusi, nepotisme masih dianggap kebiasaan dan hukum adat. Karena itu menurut saya lebih baik semua aparat terutama aparat yang memiliki kewenangan luar biasa (seperti KPK) melanjutkan kegiatan-kegiatan penggeledahan seperti di KP BC minggu lalu, kalo perlu mulai dari aparat-aparat hukumnya, cek SAMSAT (tempat pembuatan SIM) Kepolisian, grebek Pengadilan dan Kejaksaan, geledah Kantor Pelayanan Imigrasi, Pajak bahkan Perbendaharaan, tidak lupa Dinas-dinas di wilayah kewenangan pemerintah daerah. Rasanya lucu juga kalau dipikir2 aparat kita berani membongkar lapak-lapak pedagang kaki lima di trotoar jalan dengan alasan ketertiban, polisi berani menggrebek tempat-tempat pelacuran dengan alasan kesusilaan, padahal mungkin hanya disana hanya tempat kaum kecil yang mencari sesuap nasi (dengan cara yang halal ataupun haram) karena keterbatasan lapangan pekerjaan, dan kemiskinan, sedangkan bandit-bandit berseragam yang diberi makan dan fasilitas oleh negara, tikus-tikus berdasi yang melacurkan kewenangan mereka, tidak ditindak dengan tegas, melainkan dilindungi dengan topeng prosedur. AS: Pemberantasan korupsi memang bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukanlah hal yang mustahil. Bukan mustahil pula bila korupsi dapat diminimalisir dalam waktu yang relatif singkat . ESN: Setuju, PUNISHMENT adalah jawabannya, saya rasa saat ini dapat dirasakan efek shock yang diterima oleh pegawai Bea Cukai sekarang, kalau dianalogikan dengan pasien yang koma dan harus diberikan shock terapi (kejut listrik) untuk membuat jantungnya berdetak kembali. Demikian menghadapi kultur korupsi yang semakin membuat bangsa ini mati rasa terhadap keadilan, mending di setrum aja! Tanpa ampun! Supaya bangsa ini bangkit dari koma-nya. "Koruptor, jangan dibiarin `basah' melulu, harus `digantung' biar kering" -kpk-
