Majalah Treasury edisi terbaru. Pak Herry, Bu Sri, dan Sultan HBX

Saya sedikit terenyuh melihat Monas 1 juni lalu peringatan hari
Pancasila berakhir cela kami yang bertugas jauh dari megnet dan simbol
nasional (Monumen Nasional) di daerah menjadi menyayangkan hal itu
terjadi. Salah seorang tokoh yang saya kagumi Sultan Hamengku Buwono X
sebelumnya menulis diharian kompas tanggal 26 Mei 2008 saya ingin
mengutip semua tulisan Yang Mulia Sri Sultan Hamengku Buwono X  pada
milis ini namun agar tidak terlalu panjang saya mengutip sebagian, 
kata beliau :
 
Selama ini kita selalu meletakkan "pertumbuhan" sebagai jiwanya
paradigma pembangunan. Kita tidak pernah meletakkan "keadilan" sebagai
jiwanya. Bahkan, kita pun malas untuk melakukan sintesis sebagai upaya
mempertemukan keduanya secara sinergis. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi
terjadi selama ini, faktanya tidak berkolerasi lurus dengan tingkat
kesejahteraan dan keadilan rakyat.

Meletakkan "keadilan" dalam jantung paradigma pembangunan berarti
mendasarkan pembangunan bukan hanya dalam artian ekonomi semata yang
cendrung mengabaikan ruang (geografi fisik dan sosial), tetapi
berbasis pada ruang dan gerakan komunitas, pendeknya, ia berbasis pada
kearifan budaya lokal sebab budaya lokal tidak akan bertahan sampai
kini jika nafasnya bukan keadilan dan pemerataan bagi semua pengusung
budaya itu. Inilah sejatinya koordinat dari paradigma pembangunan
nasional.

Tentu kearifan budaya lokal tersebut tidak boleh disandera dalam
kerangkeng memusat (sentralistis).  Sekali dikerangkeng, dia
mengandung kerentanan luar biasa terhadap perubahan, terutama jika
perubahan tersebut terjadi secara mendadak. Sebaliknya, jika tidak
memusat (neosentris), dia tidak lentur menghadapi tantangan zaman,
dalam konteks ini, seiring dengan kebijakan otonomi daerah, setiap
wilayah secara otonomi bisa menjadi pusat-pusat kebudayaan.

Dengan memahami kearifan budaya lokal sebagai konstruksi imajiner
kebudayaan kita, koordinat paradigma pembangunan tersebut secara
otomatis berada dalam medan magnet pluralisme keindonesiaan. Disini
bukan lagi wahana pertumbuhan ekonomi yang dikejar, tetapi keadaan
yang lebih adil, merata, dan manusiawi bagi semua pewaris kearifan
budaya lokal.

Saya percaya bahwa kebangkitan bangsa indonesia bisa dimulai dari
kesepakatan kita untuk menghargai pluralisme dan menjadikan kebudayaan
sebagai koordinat paradigma pembangunan nasional. Paradigma ini
mungkin tidak akan membuat kita kaya, tetapi akan menyebabkan kita
bebas.  Demikian tulisan itu.

Saya menegaskan bahwa tidak ada bahaya laten komunis yang ada gejala
pluralisme yang laten yang tak akan terbendung karena tidak ada yang
dapat membendung sunnatullah, dan keadilan itu pun sunnatullah. Tugas
kepolisian kita yang semakin berat kedepan perlu disuport kerarah
pemahaman yang utuh terhadap kebhinekaan bangsa. Pancasila dan UUD
1945 tetap sebagai perekat. Semoga Tuhan melindungi bangsa ini tetap
utuh. Amin.

Salam,

Kirim email ke