Buat brother amir yang sering mengucapkan kebenaran walau pahit. (Tapi juga harus berhati-hati karena mungkin terkadang berucap pahit walau belum tentu benar):
Sanggupkah Kita menjadi Abu Dzar Si rambut merah datang dengan tenang, menggapai hidayah seperti seutas benang yang sanggup menarik batu karang. Telah berazam untuk bersyahadah " Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rassulullah" Semangat datang pantang mundur kebelakang. Dibagikan hidayah bagi orang yang dikenalnya. Diteriakan keyakinannya bagi yang menentang Tak peduli pukulan diterimanya Hari berganti, si rambut merah tetap istiqomah Menggegam hidayah yang didapatnya Imannya tak pernah goyah Walaupun berjuta rintang dihadapinya Tengoklah suatu hari ketika ajakan jihad menghampiri Dia datang dengan berjalan kaki Saat pasukan berkuda telah mendahului Sabda Nabi : siapa yang datang belakangan Akan meninggal dalam kesendirian Di padang gersang tanpa teman Kemudian si rambut merah lah yang datang Zaman berubah , situasi berganti Engkau tetap istiqomah, menyuarkan kebenaran di hati Tak peduli dijauhi Bahkan oleh sahabat sendiri Tiba masanya perkataan nabi jadi kenyataan Engkau berpulang dalam kesendirian Namun sesungguhnya jiwamu tak mati Semangatmu selalu jadi inspirasi Sanggupkah kita menjadi Abudzar? Membagikan kebenaran bagi orang yang dipimpinnya Menyuarakan keyakinan bagi orang yang menentangnya? Sanggupkah kita menjadi Abudzar? Mendapatkan pukulan musuh atas keyakinannya Mendapatkan pengucilan teman atas kejujurannya Sanggupkan kita menjadi Abudzar? Berlari menyongsong panggilan Dengan segala keterbatasan Sanggupkan kita menjadi Abudzar? Sepi semasa hidup membentang Sendiri ketika ajal menjelang Jakarta, 16 Juni 2008
