Dalam Islam, 4 (empat) karakter minimal yang harus dipunyai seorang pemimpin, yaitu : 1) Shidiq (Jujur) Berkata-kata sesuai kenyataan, berbuat sesuai aturan, tidak berbohong, dan tidak berbuat curang. 2) Amanah (Dapat Dipercaya) Mampu menepati janji dan tidak berkhianat atas kepercayaan yang diberikan. 3) Fatonah (Cerdas) Mampu memberi solusi atas suatu masalah, kreatif, dan inovatif. 4) Tabligh (Menyampaikan/Mampu berkomunikasi) Mampu menyampaikan mengenai apa yang menjadi kebijakan dan keputusannya sehingga dapat diterima semua pihak.
Bila dikembangkan lebih jauh, maka seorang pemimpin haruslah mampu menjadi TELADAN, yaitu : 1) T : - Tawadhu (Rendah Hati), Biasanya virus pertama yang menjangkiti orang yang baru dipercaya sebagai pimpinan adalah ujub atau sombong, dia merasa paling hebat dan merendahkan/meremehkan orang lain. Sebagai pemimpin harusnya tetap rendah hati, dapat menghargai orang lain dan juga menghargai yang dipimpin. - Tasyauf (Berterima Kasih) Ini adalah wujud dari rasa syukur atas apa yang diberikan. Syukur tidak hanya ditujukan kepada Allah Swt, tapi juga kepada sesama maunsia. Berterima kasih juga sebagai ungkapan penghargaan kepada orang lain yang telah berbuat baik kepada kita dan memberi kontribusi kepada organisasi. - Ta'awun (Tolong-menolong) Seorang pemimpin hendaknya jangan memposisikan diri sebagai pihak yang berkuasa, bisa memerintahkan dengan seenaknya, dan bisa marah-marah dengan sepuasnya. Lebih baik budaya tolong menolong lebih dikembangkan dalam lingkungan organisasi, dalam pelaksanaan tugas anggaplah atasan menolong bawahan, dan bawahan pun menolong atasannya, sehingga suasana kerja menjadi lebih kondusif dan menyenangkan. 2) E : Emphati Mampu memahami apa yang dialami dan dirasakan orang lain. Dalam pengambilan keputusan dan kebijakan, seorang pemimpin harus mempertimbangkan kondisi anggota organisasi, sehingga tidak hanya kebijakan akan berjalan sebagaimana mestinya, tetapi juga memberi kenyamanan bagi semua pihak. 3) L : Leadership Mampu menggerakkan dan mendayagunakan segala potensi dan sumber daya organisasi untuk kemajuan oragisasi. 4) A : Amanah Seorang pemimpin harus menyadari bahwa jabatan adalah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada atasan (yang memberi kepercayaan), kepada diri sendiri, dan kepada orang yang dipimpin. Lebih penting lagi pemimpin harus mempertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt. 5) D : Demokratis Perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan, sehingga harus dihargai. Pendapat boleh beda tapi kepala harus tetap dingin. Pimpinan tidak boleh tabu atas kritik yang diungkapkan. Justru dengan kritik membuat pemimpin dapat memperbaiki diri. 6) A : Adil Seorang pemimpin harus memposisikan diri di tengah, tidak boleh condong ke salah satu pihak. Jangan jadikan perasaan suka atau tidak suka (like and dislike) menjadikan pemimpin bersikap diskriminatif. 7) N : Negosiasi Rambut sama hitam, tapi isi kepala (kemauan) bisa berbeda. Seorang pemimpin harus mampu bernegosiasi agar dalam palaksanaan tugas dapat seiring, sejalan, dan selaras dengan tujuan organisasi. Bentakan dan teriakan bukanlah cara yang baik dalam mempengaruhi bawahan. Kemampuan sugesti yang harusnya lebih ditonjolkan. Dalam teori kepemimpinan ada 5 karakteristik yang manandakan kematangan seorang pemimpin, yaitu : 1) Berpikir objektif Mampu melihat persoalan secara jernih, kebijakan yang diambil pun bisa lebih baik dan bijaksana. 2) Berpikir positif Mampu melihat hikmat atau sisi baik (bright side) atas suatu masalah atau kejadian dalam lingkungan organisasi. 3) Mampu mengendalikan emosi Emosi tidak semestinya diumbar, emosi harus disalurkan pada hal-hal yang positif, bukan dengan cara marah-marah melulu. 4) Bertanggung jawab Berani mengambil keputusan dengan segala resikonya. Tidak lempar batu sembunyi tangan atau melempar tanggung jawab ke orang lain. 5) Mampu menjaga hubungan interpersonal yang baik dalam jangka waktu yang lama. Dalam suatu organisasi, sangat wajar bila terdiri dari berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, hubungan baik harus tetap dijalin. Kerja sama pun akan semakin mudah dilakukan. Tulisan ini tidak bertendensi apa-apa. Bukan maksud menggurui, tapi mungkin bisa menjadi cermin dan bahan introspeksi dalam mengoreksi diri agar menjadi lebih baik. Saya tahu banyak pejabat yang ikut milis ini, tulisan ini bisa menjadi reminder (pengingat) jangan sampai beliau-beliau menjadi pejabat yang gapim (gagap kepemimpinan). Bagi para calon pemimpin pun bisa mengambil pelajaran agar kelak ketika menjadi pemimpin tidak gapim sehingga mampu membawa diri dan lingkungannya menjadi lebih baik lagi. Semoga bermanfaat Wassalam
