Bagaimana neh tanggapan dari kanpus (khususnya bagian pengembangan)?Ga
hanya ESN (gimana bro kabarnya disana?) aja loh yg kecewa, tapi masih
banyak pegawai di remote area yg sering merasa "dianiaya haknya" oleh
kanpus akibat kebijakan kanpus yg tidak memperhatikan kondisi pegawai
di remote area.

Kalo bikin kebijakan tuh juga harus memperhatikan kondisi di daerah
dong.Jangan beranggapan kalo kondisi di daerah tuh sama dengan kondisi
di kanpus.Banyaknya pegawai DJPB yang keluar dari induknya lebih
dikarenakan tidak memperoleh keadilan yang semestinya. Harusnya kanpus
dapat lebih arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Bukannya bermaksud membuka lembaran masa lalu, tahun kemarin DJPB
pernah membatalkan pengiriman D IV dan DIII Khusus. Concernnya adalah
kanpus mengeluarkan dua kebijakan yang bertolak belakang. Kebijakan
pertama yg dikeluarkan adalah mengijinkan pegawainya ikut seleksi D IV
dan D III Khusus, tapi kebijakan selanjutnya adalah membatalkan
pengiriman peserta yg lulus seleksi.

Tentunya kalau sedari awal DJPB mengeluarkan kebijakan yg isinya tidak
membolehkan pegawainya ikut seleksi, itu lain perkara. Lah ini kan
mereka udh kadung keluar biaya transport (ada yg harus nyebrang pulau
segala) dan mereka jg telah mengorbankan hak mereka untuk ikut
beasiswa S1 demi mengikuti seleksi D IV dan D III Khusus.

nb: buat ESN,gw kangen neh sama pijitan loe...^_^

--- In [email protected], "ekoadadisini" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> ESN:
> sabaar mas...(akkkhh, gw ga akan menyampaikan saran ngaco kaya gitu!!)
> wajar banget mas gatot dan rekan2 marah! saya rasa siapapun diposisi
> mereka pasti marah, karena saya rasa "sebuah kesempatan" sangatlah
> mahal harganya, mungkin lebih mahal daripada ongkos serui-jayapura
> yang terpaksa kami tempuh dengan pesawat..
>
> tapi tanpa menaruh prasangka kepada reka

Kirim email ke