miris sekali membaca komentar teman2 semua. menyakitkan memang, tapi
pada kenyataannya itulah yang terjadi..

saya masih ingat ketika salah satu temen saya gak lulus tes internal
DJPBN kmaren. matanya memerah seperti mo nangis.
tapi justru dia dapet tempat kerja di kampung halaman. benar2 berakit
rakit kehulu berenang renang ke tepian.
kami yang gembira karena diterima di instansi yang kami pilih,
ternyata harus menelan pil yang amat pahit.
pada saat pembacaan penempatan magang, di teriak2an bahwa kami
angkatan yang tidak diperlukan.
terus diberangkatkan di awal bulan, hanya dengan diberikan ongkos PAS
saja.
saya pikir sudah selesai, ternyata masih ada sistem penilaian magang.
magang saja dinilai.
sudah selesai magang yang dinilai, masih ada lagi pengurusan SK CPNS
yang berlarut2. sampai2 salah seorang dari kami kabarnya ada yang
menerima SP2 karena 'aktif' ngurusin SK 1 angkatan.
sekarang dah terima SK, rapelannya yang dicekal....
entah apalagi setelah ini...

saya masih ingat pernyataan seorang 'pejabat' di lapangan banteng.
"saya bangga dengan ada di instansi ini. saya merasa instansi ini
paling tinggi prestisiusnya di depkeu".
kami ingin merasa bangga, tapi bagaimana kami bisa, jika kami sendiri
terinjak2. apa kami harus membanggakan masalah kami??

1 tahun lebih kami jadi tenaga honorer di daerah terpencil. kami gak
nuntut apa2 kok. nanti deh nuntut ditempatin di kampung halaman, kami
cuma minta perlakuan adil. kalo yang lain bisa dapet, kenapa kami enggak??
apa untuk mendapatkan itu, kami harus 'menjadi orang lain'??



Kirim email ke